Mohon tunggu...
Dokter Foramen
Dokter Foramen Mohon Tunggu... Seorang dokter yang hanya doyan menulis dari pikiran yang sumpek ini.

Penulis Buku "Ketika Di Dalam Penjara : Cerita dan Fakta tentang Kecanduan Pornografi" (2017), seorang pembelajar murni, seorang penggemar beberapa budaya Jepang, penulis artikel random, pencari jati diri, dan masih jomblo. Find me at ketikanfarhan(dot)com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Lamunan Tentang Dia yang Belum Datang

24 September 2019   14:11 Diperbarui: 24 September 2019   14:27 69 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Lamunan Tentang Dia yang Belum Datang
sumber foto: dokumentasi pribadi

"Eh, Lewis, kamu coba deh besok ke Posei City Mall deh. Katanya mau ada semacam pameran pernikahan gitu. Bisa dicek harga venue atau foto pre-wedding di sana."

Siang hari di Kafe Sikho ini tiba-tiba dipenuhi dengan bahasan akan pernikahan. Kafe ini sering menjadi tempat nongkrong bagi kami, enam dokter baru yang ditugaskan di Kota Arlegnon. Ditemani dengan lagu yang mendayun, kami selalu memesan berbagai minuman yang disajikan. Kala itu, yang berkumpul hanya empat saja. Aku, Lewis, Mona dan Tera. Lewis akhir-akhir ini memang sering cerita ke kami akan betapa sibuknya dia dalam merencanakan pernikahan. Padahal, dia sendiri baru akan menikah tahun depan. Tapi, sudah persiapkan matang-matang dari sekarang. Dia benar-benar diminta sama keluarga kedua belah pihak untuk persiapkan pernikahan yang matang dan berkesan, mulai dari tempat yang nyaman, makanan yang enak, bahkan foto pre-wedding yang sangat mantap!

Memang, gedung-gedung di kota Posei selalu penuh dengan berbagai acara, terutama untuk hari Sabtu dan Minggu. Hari di mana hampir semua orang sibuk beristirahat di rumah, menikmati aktivitas bersama keluarga di rumah, atau untuk yang jomblo seperti aku, menikmati kesendirian yang ada. Nasib ini tentu saja berpengaruh dengan aktivitas kota Arlegnon yang jaraknya ada di kisaran 30-40 menit dengan mobil. Gedung-gedung di kota ini sering sekali jadi tempat alternatif jika pahit-pahitnya kota Posei tidak bisa digunakan untuk acara yang sifatnya personal, seperti pernikahan atau seminar para ilmuwan di sana. Beberapa hari yang lalu, ada satu perawat di Rumah Sakit yang cerita jika ada seminar ilmiah keperawatan yang dipindah ke Arlegnon karena padatnya jadwal di kota Posei. Sangat wajar jika Lewis harus pertimbangkan itu matang-matang.

Sebagai orang bersuami, tentu saja Mona lebih berpengalaman soal mengurus pernikahan. Dia lebih tahu soal hal-hal yang berhubungan dengan perkawinan dibandingkan kami berempat. Kemarin, saat aku datang ke pestanya, aku melihat aura yang sangat berkesan. Mulai dari makanan yang enak, gedungnya yang sangat tertata rapi, bahkan konsepnya juga unik. Yang disayangkan cuma satu, saat aku datang, pestanya sudah mau selesai. Aku bahkan tidak merasakan adanya pelemparan bunga, sebuah ritual yang aku sangat tunggu. Aku ingin sekali dapat bunga itu. Katanya, kalau dapat, bisa saja orang itu yang akan menikah duluan.

Namun, masalahnya, satu. 

Aku belum dapat pasangan hingga sekarang. Itulah yang sering terngiang di kala orang sedang asyik bahas tentang pesta di mana, bulan madu mau ke mana, prewedding mau pakai konsep apa, atau berapa mahar yang akan diberikan. Jangankan hal-hal tersebut, pasangan saja masih belum ada sekarang ini untukku. Lantas, di kala mereka sedang asyik bicara, aku mulai berangan-angan soal pernikahan.

Apakah memang aku butuh pasangan di sana?

Terakhir kali hubunganku dengan seorang wanita harus berakhir menjadi sebuah hubungan beracun. Di saat aku bersamanya, yang ada dalam pikiranku hanya malu dan mungkin, malu. Aku bingung bagaimana aku harus menghindari pertemuan dengannya, bahkan aku harus berbohong di kala aku datang ke pernikahan seorang kenalan yang tinggal tak jauh dari rumah wanita tersebut. Aku sampai sekarang juga berharap supaya wanita itu tidak mengirimkan pasien dari kliniknya ke tempatku bekerja kelak. Perlahan, aku mulai lelah dengannya.

"Dok, kapan kita makan bareng lagi, quality time gitu buat kita berdua?"

Kata itulah yang menjadi titik balik perasaanku dengan wanita itu. Dia sampaikan kata itu saat kita berdua makan di sebuah restoran ayam di kota Arlegnon. Restoran itu cukup ramai meskipun baru satu bulan dibuka untuk umum. Saat itu, kami janjian untuk makan bareng, aku sempat pakai itu untuk utarakan perasaanku dengannya. Namun, semuanya musnah dalam waktu satu hari saja. Aku bahkan bingung apa yang harus aku ucapkan setelah itu. Berduaan makan di sebuah restoran ayam dengan pakaian cukup formal. Kondisi saat itu sangatlah ramai, untung saja, tidak ada orang yang mengenaliku. Kalau ada, mungkin aku akan jadi bulan-bulanan di Rumah Sakit. Terus terang, setelah itu, aku langsung bingung harus berkata apa. 

Kebingungan itu semakin bertambah di saat wanita itu minta supaya aku melamarnya. Dia sudah lelah dengan pacaran, hanya butuh kepastian belaka. Aku masih 23 tahun kala itu dan sampai sekarang belum ada memikirkan tentang kepastian. Aku hanya menjawab tidak, dan setelah itu, kami menjauh perlahan-lahan. Dan, semua itu juga diselingi oleh semua perasaan buruk yang saling kami utarakan bersama. Itu menjadi bumbu dari putusnya hubungan kami berdua. Sebuah akhir yang sangat tragis. Dari mendambakan jadi mencampakkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x