Mohon tunggu...
dodi mulyana
dodi mulyana Mohon Tunggu... penulis

penulis

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ganjar "Melawan" Megawati, Perjanjian Batu Tulis Kembali Terancam?

11 Juni 2020   13:46 Diperbarui: 11 Juni 2020   13:47 15714 21 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ganjar "Melawan" Megawati, Perjanjian Batu Tulis Kembali Terancam?
Joko Widodo (Jokowi) dan Ganjar Pranowo, Sumber: Kompas.com

Banyak yang mempertanyakan hasil survei baru-baru ini. Di mana hasil survei menunjukkan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo melejit mendekati Prabowo Subianto yang justru anjlok signifikan. Sementara itu, kerja keras  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyelamatkan ibu kota dari gempuran Covid-19 justru tidak berefek apa-apa. Malah, hasil survei yang dirilis Indikator Politik menunjukkan elektabilitas Anies justru jeblok.

Anomali hasil survei ini ditangkap oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin. Menurutnya, di balik kerja serius kepala daerah yang melawan Covid-19, justru yang mendapatkan apresiasi malah mereka-mereka yang tidak begitu terlihat tindak tanduknya. Meskipun demikian, Ujang tetap menghargai hasil survei dan berharap penilaian yang dilakukan oleh lembaga survei objektif dan memegang teguh prinsip-prinsip akademik.

Di balik itu semua, muncul beragam asumsi-asumsi terkait hasil survei Ganjar yang berupaya menyalip Prabowo Subianto. Santer berkembang, bahwa "kelompok" Ganjar sedang berupaya mengkudeta perjanjian Batu Tulis antara PDIP-Gerindra. Ada impossible hand  yang mencoba merubah skenario batu tulis seperti fenomena munculnya Jokowi sebagai calon Gubernur DKI dan calon Presiden pada tahun 2014 secara mengejutkan.

Perjanjian Batu Tulis 2009

Pada Pemilu 2009, ternyata pasangan calon presiden dan wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto membuat penrjanjian yang dimaksudkan sebagai skenario politik masa depan. Perjanjian itu disebut dengan perjanjian Batu Tulis. Perjanjian tersebut ditandatangani Megawati dan Prabowo pada 19 Mei 2009 dengan tujuh poin kesepakatan.

Berikut isi poin penting perjanjian Batu Tulis tersebut:

  1. PDIP dan Gerindra sepakat mencalonkan Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden dalam Pilpres 2009.
  2. Prabowo Subianto sebagai wakil presiden, jika terpilih, mendapat penugasan untuk mengendalikan program dan kebijakan kebangkitan ekonomi Indonesia.
  3. Prabowo mendapatkan jatah menentukan 10 nama-nama menteri terkait poin nomor dua.
  4. Pemerintah yang terbentuk akan mendukung program kerakyatan PDIP dan 8 program aksi Gerindra.
  5. Pendanaan Pilpres ditanggung bersama dengan persentase 50:50.
  6. Tim sukses pemenangan Pilpres 2009 dibentuk bersama-sama dengan meilbatkan kader kedua partai dan unsur masyarakat.
  7. Megawati mendukung pencalonan Prabowo sebagai calon presiden pada Pilpres berikutnya (2014).

Flash Back Jokowi Menuju RI 1

Siapa yang mengenal Jokowi di bawah tahun 2012? Hampir bisa dipastikan, kiprah mantan Wali Kota Solo itu tidak terlalu menjadi perhatian elite politik nasional. Tapi menjelang tahun-tahun pergantian kepemimpinan nasional, 2011-2012, nama Jokowi mendobrak kancah nasional dengan digadang-gadangnya pengusaha mebel ini bisa mengatasi semua polemik di ibu kota. Hampir setiap media, baik itu media massa maupun media elektronik memberitakan sepak terjangnya. Dengan gaya dan pendekatan komunikasinya yang tak biasa, Jokowi sukses meluluhkan hati masyarakat urban ibu kota dan menjadi Gubernur DKI Jakarta didampingi Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

Pasca menjadi Gubernur DKI, nama Jokowi dalam berbagai survei terus melejit, bahkan menjelang Pilpres 2014. Efeknya, muncul yang namanya Jokowi Effect. Di berbagai daerah terbentuk relawan-relawan Jokowi for presiden yang mendesak Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk mengusung Jokowi di Pilpres 2014.

Megawati yang tak kuasa menahan bendungan dan tekanan publik untuk mengusung Jokowi, akhirnya terpaksa melupakan perjanjian Batu Tulis yang pernah dinukilkan bersama Prabowo. Kader-kader Gerindra yang kecewa saat itu melabeli Megawati dan partainya sebagai pengkhianat. Sejak saat itu, santer diberitakan bahwa hubungan antara Teuku Umar (PDIP) dan Kertanegara (Gerindra) merenggang.

Batu Tulis Jilid II dan "Perlawanan" Ganjar

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN