Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Publikasi Arkeologi Masih Minim, Jadinya Masyarakat Kurang Apresiasi

17 April 2017   09:07 Diperbarui: 17 April 2017   19:24 221 4 1
Publikasi Arkeologi Masih Minim, Jadinya Masyarakat Kurang Apresiasi
Dari kiri Karina Arifin (moderator), Edi Sedyawati, dan Mundardjito/Dok. Djulianto Susantio

Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komisariat Daerah Jabodetabek, Rabu, 12 April 2017 lalu menyelenggarakan Diskusi Ilmiah Arkeologi (DIA) bertema “Perkembangan Arkeologi Dunia dan Masa Depan Arkeologi Indonesia”. Kegiatan DIA diselenggarakan di Museum Nasional dari pagi hingga sore hari.

Pembicara dalam sesi pertama adalah Edi Sedyawati dengan makalah “Perkembangan Teori dan Metode Arkeologi di Dunia dan Prospeknya bagi Perkembangan Arkeologi di Indonesia” dan Mundardjito dengan makalah “Pencapaian dan Kendala dalam Upaya Pelestarian Cagar Budaya di Indonesia”. Masing-masing makalah ditanggapi oleh Supratikno Rahardjo dan Wiwin Djuwita.

Pada sesi kedua berbicara Noerhadi Magetsari dengan makalah “Perkembangan Studi Museum dalam Pelestarian Cagar Budaya” dengan penanggap Annissa M. Gultom. Dilanjutkan makalah Inda Citraninda Noerhadi berjudul “Sosialisasi Perkembangan Kemasalaluan (Arkeologi) untuk Kepentingan Publik” dengan penanggap Berthold DH Sinaulan.

Publikasi Masih Minim
Edi Sedyawati mengemukakan pentingnya metode eksperimental, misalnya tentang penciptaan arca. Edi memang pernah mengajar beberapa mata kuliah, di antaranya Ikonografi. Tentu beliau paham betul tentang seni arca kuno. Pada bagian lain menurut beliau, arkeologi perlu sering mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dan melakukan kajian ilmiah terhadap artefak. Nah yang penting, kata Edi, penulisan untuk dibaca masyarakat umum masih minim. Untuk itulah arkeolog perlu banyak menulis.

Mundardjito dalam kesempatan itu menguraikan perjalanan Undang-undang Kepurbakalaan yang sangat tersendat. Dimulai dengan Monumenten Ordonnantie 1931, Undang-undang Benda Cagar Budaya 1992, dan Undang-undang Cagar Budaya 2010. Rentang waktunya jelas begitu panjang 1931-1992-2010, meskipun di sela-sela itu ada Keputusan Menteri dan Peraturan Pemerintah.

Mundardjito menyinggung juga peran warisan budaya masa lampau sebagai objek akademik, ideologik, dan ekonomik, termasuk kewenangan pusat dan daerah. Tentang Trowulan, menurutnya ada 10 LSM di sana. Belum lagi ada 14 ketetapan Tim Ahli Cagar Budaya. Nyatanya memang masih ada perbuatan kriminalitas di sana, seperti pencurian dan pengrusakan.

Hal lain yang disinggung Mundardjito adalah publikasi akademik (ilmiah) dan publikasi populer. Selama ini memang ada publikasi untuk umum, yakni National GeographicdanDiscovery. Keduanya merupakan penerbitan periodik. Mundardjito menyayangkan di Indonesia publikasi seperti itu masih dilakukan secara insidental.

Bermanfaat Buat Masyarakat
Noerhadi Magetsari berbicara mengenai museum. Hasil kegiatan arkeologi memang bermuara pada pameran atau objek kemanfaatan untuk umum. Cerita mengenai objek dapat dilihat pada hasil publikasi. Sementara benda-bendanya tentu harus dilihat di dalam museum. Museum yang baik, sarana-sarana apa yang harus ada di dalam museum, dan fasilitas-fasilitas apa pendukung museum dijelaskan oleh Noerhadi.

Dari kiri Sonny Wibisono (moderator), Berthold DH Sinaulan (penanggap), Inda Citraninda (pemakalah), Annissa M. Gultom (penanggap), dan Noerhadi Magetsari (pemakalah)/Dok. Djulianto Susantio
Dari kiri Sonny Wibisono (moderator), Berthold DH Sinaulan (penanggap), Inda Citraninda (pemakalah), Annissa M. Gultom (penanggap), dan Noerhadi Magetsari (pemakalah)/Dok. Djulianto Susantio
Pada bagian akhir Inda Citraninda mempertanyakan bagaimana hasil penelitian arkeologi bermanfaat buat masyarakat. Menurutnya, selama ini ada jarak antara arkeologi dengan masyarakat. Banyaknya pengrusakan situs arkeologi, menurut Inda, menunjukkan masyarakat tidak paham fungsi situs tersebut pada masanya.

Mengapa masyarakat kurang apresiasi, mungkin karena minimnya informasi dan sosialisasi hasil penelitian. Bisa jadi karena hasil laporan lama selesai. Inda mengusulkan agar para arkeolog sering mempublikasikan hasil penelitian arkeologi dengan bahasa populer sehingga mudah dipahami masyarakat.

Sebenarnya saat ini mempublikasikan hasil penelitian arkeologi cukup mudah. Terutama lewat onlineagar biayanya cukup terjangkau. Kalau kita amati, di internet banyak tersedia blog publik macam Kompasiana (milik Kompas) dan Indonesiana(milik Grup Tempo). Belum lagi blog-blog pribadi macam wordpress dan blogspot.

Sekarang masalahnya tergantung kemampuan dan kemauan dari para arkeolog sendiri yang tahu lapangan. Kemampuan saya yakin. Banyak arkeolog mampu menulis kok, baik ilmiah maupun populer. Kemauan, ini yang saya ragukan karena menulis di blog publik dan blog pribadi tanpa honorarium. Saya harapkan banyak arkeolog yang rela mengorbankan waktu untuk menulis, demi apresiasi masyarakat terhadap arkeologi.***