Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog yang tertarik astrologi, palmistri, numismatik, filateli, dan penulisan/literasi

Arkeolog mandiri. Senang menulis arkeologi, museum, numismatik, dan astrologi/palmistri. Beraktivitas di komunitas dan gerakan literasi. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kita Belum 'Menulis' Selama Belum Dimuat "Kompas"

14 Juli 2021   06:57 Diperbarui: 14 Juli 2021   06:59 159 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kita Belum 'Menulis' Selama Belum Dimuat "Kompas"
Beberapa tulisan saya di Kompas tentang arkeologi dan museum (Dokpri)

Ada pameo di masyarakat kita yang dikenal sejak lama. Kita dipandang belum makan selama belum makan nasi, meskipun kita sudah menyantap berbagai hidangan seperti kue, buah, dan mie ayam, misalnya. Rupanya nasi identik dengan makan. Mungkin karena nasi menjadi makanan pokok bangsa kita.

Saya yakin setiap orang bisa menulis. Namun hanya sebagian kecil saja yang mampu menulis artikel. Menulis status atau komentar di media sosial, setiap hari dilakukan masyarakat kita. Sebaliknya menulis di blog hanya diminati oleh segelintir masyarakat. Padahal menulis di blog tanpa suntingan dan bisa langsung tayang. ย  ย 

Beberapa tulisan saya lainnya di Kompas (Dokpri)
Beberapa tulisan saya lainnya di Kompas (Dokpri)
Menulis artikel

Menulis artikel atau menulis nonfiksi di media cetak dan media daring termasuk sulit, karena harus memenuhi kriteria ketat redaksi. Dulu media cetak, seperti koran dan majalah, menjadi primadona bacaan. Buat para penulis dan kolumnis pun menjadi kebanggaan. Selain mendapatkan honorarium, juga mendapatkan popularitas. Semakin sering dimuat, semakin dikenallah sang penulis.

Menulis artikel menjadi ajang mengemukakan gagasan, kritik, informasi, edukasi, dan lain-lain berdasarkan kepakaran dan keilmuan seseorang. Karena itu pengaruh tulisan buat masyarakat sangat kuat. Apalagi kalau dimuat di media-media cetak nasional, yang tentu saja bermarkas di Jakarta.

Seperti halnya 'makan nasi', masyarakat pun dianggap 'belum menulis' selama belum dimuat di Kompas. Tidak ada yang memungkiri kalau Kompas menjadi koran bergengsi di Insonesia. Tirasnya sangat banyak, bahkan tergolong koran terbesar di Asia Tenggara. Banyak intelektual dan akademisi selalu membaca dan menulis di Kompas. Bahkan saat media-media cetak lain mati dan sekarat, Kompas masih tetap setia mengunjungi para pembaca, meskipun tirasnya semakin menurun. Kita harapkan Kompas masih tetap bertahan beberapa tahun ke depan.

Memang media-media lain telah beralih ke platform dijital. Sebaliknya Kompas masih setia dengan platform cetak. Bahkan beriringan dengan platform dijital dalam bentuk kompas.id. Setiap artikel yang dimuat di Kompas cetak, pasti dimuat di kompas.id. Sebaliknya artikel yang dimuat di kompas.id belum tentu dimuat di Kompas cetak. Kompas.id berbeda dengan kompas.com dan kompasiana.com, yang juga milik Kompas.

Tulisan saya beberapa kali dimuat di kompas.id. Sebelumnya terlebih dulu memang Redaksi Kompas mengirimkan pemberitahuan.

"Salam hormat,

Dengan ini kami informasikan bahwa artikel Opini yang Saudara kirim kepada kami telah dimuat di platform digital Kompas.ID.

Adapun link artikel Opini tersebut adalah sebagai berikut; https://www.kompas.id/baca/opini/2021/03/22/nasib-warisan-budaya-di-bawah-air/"

Beberapa tulisan saya di kompas.id (Dokpri)
Beberapa tulisan saya di kompas.id (Dokpri)

Lebih banyak ditolak

Terus terang, tulisan yang saya kirim ke Kompas lebih banyak ditolak daripada diterima. Namun bukan berarti tulisan saya jelek. Saya anggap tidak sesuai saja dengan keinginan redaksi. Seperti halnya makanan, ada yang senang mie, ada pula yang senang baso. Begitulah tulisan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN