Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kontribusi Amir Sutaarga dalam Arah dan Perjalanan Lembaga Museum

19 Mei 2021   17:05 Diperbarui: 20 Mei 2021   05:36 575
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buku Moh. Amir Sutaarga, Bapak Permuseuman Indonesia karya Nunus Supardi (Dokpri)

Menyambut Hari Museum Internasional 18 Mei 2021, Asosiasi Museum Indonesia (AMI) DKI Jakarta "Paramita Jaya" bersama Museum Kebangkitan Nasional dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyelenggarakan acara "Bedah Buku Moh. Amir Sutaarga, Bapak Permuseuman Indonesia" karya Pak Nunus Supardi. 

Bertindak sebagai pembahas Pak Wanny Rahardjo, Dosen Jurusan Arkeologi UI sekaligus anggota Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI); Pak Agus Nugroho, Kepala Museum Kebangkitan Nasional; dan Pak Siswanto, mantan Kepala Museum Nasional dengan moderator Ibu C. Musiana Yudhawasti.

Mohammad Amir Sutaarga adalah sosok yang memiliki kontribusi cukup besar dalam memberikan arah dan perjalanan lembaga museum, sejak masa kolonial hingga masa kemerdekaan. 

Sebelum berlangsung acara bedah buku, dua pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan memberikan sambutan, yakni Pak Judi Wahjudin, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan dan Pak Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan. Ketua Paramita Jaya Pak Yiyok T. Herlambang, juga memberikan kata pengantar.

Kegiatan Bedah Buku di Museum Kebangkitan Nasional, dari kiri Ibu C. Musiana, Pak Nunus, Pak Wanny, dan Pak Agus Nugroho, sementara Pak Siswanto hadir secara daring (Dokpri)
Kegiatan Bedah Buku di Museum Kebangkitan Nasional, dari kiri Ibu C. Musiana, Pak Nunus, Pak Wanny, dan Pak Agus Nugroho, sementara Pak Siswanto hadir secara daring (Dokpri)
Dosen Museologi

Pak Amir pernah berkiprah di Museum Pusat yang kemudian bernama Museum Nasional. Selanjutnya beliau menjadi Direktur Permuseuman. Lepas dari birokrat, beliau menjadi pengajar mata kuliah Museologi di Jurusan Arkeologi UI. Kalau di Direktorat Permuseuman pensiun pada usia 60 tahun, maka dengan menjadi dosen beliau bisa pensiun pada usia 65 tahun. Dengan demikian ada waktu beberapa tahun untuk mengembangkan pengetahuan Museologi.

Pak Wanny tentu tahu banyak tentang kiprah Pak Amir di Jurusan Arkeologi UI. Pak Agus Nugroho memang tidak mengenal Pak Amir secara langsung. Maklum waktu itu beliau masih CPNS. Hanya nama Pak Amir pernah didengar dari beberapa atasan beliau.

Pak Siswanto berbicara tentang isi buku Pak Nunus yang masih terdapat beberapa kesalahan penyuntingan. Typho kalau menurut generasi zaman sekarang.

Menurut Pak Nunus, buku tersebut tanpa penyuntingan. "Maklum faktor U," kata Pak Nunus yang kini berusia 77 tahun. Buku tersebut memiliki tebal 214 halaman. 

Pak Nunus yang pernah menjabat Direktur Purbakala pernah menulis beberapa buku, antara lain Bela Budaya (3 jilid) dan Melacak Jejek Direktur Jendral Kebudayaan.

Untuk cerita singkat tentang Pak Amir Sutaarga, lihat pada tulisan berikut. Saya pernah dua kali menulis tentang beliau, yakni [Amir Sutaarga Akan Diusulkan Menjadi Bapak Permuseuman Indonesia] dan [Mengenang Bapak Permuseuman Indonesia, Moh. Amir Sutaarga].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun