Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Konsultan tertulis astrologi/palmistri, kadang penjual numismatik, di kala sengggang menulis masalah arkeologi, sejarah, museum, budaya, numismatik, astrologi, dan palmistri

Arkeolog pejuang mandiri yang mencari nafkah lewat astrologi, palmistri, dan numismatik. Sering menulis di media cetak dan media daring. Beraktivitas di komunitas dan gerakan literasi. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Dulu Hampir Bangkrut, Kini Penerbit dan Toko OBOR Berusia 70 Tahun

15 September 2019   18:35 Diperbarui: 15 September 2019   18:58 191 8 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dulu Hampir Bangkrut, Kini Penerbit dan Toko OBOR Berusia 70 Tahun
Pemotongan kue tart dan tumpeng oleh para romo (Dokpri)

Jarang sekali ada penerbit atau toko buku yang mampu bertahan hingga puluhan tahun. Bertahan hingga belasan tahun pun sudah luar biasa. Namun Penerbit dan Toko Rohani OBOR mampu bertahan hingga 70 tahun. Toko OBOR berdiri pada 1949 dengan segudang kisah suka duka. Pada 1979 OBOR di bawah naungan KWI atau Konferensi Waligereja Indonesia. Pada 1996 OBOR mulai menerbitkan buku populer yang disebut Ziarah Batin.

Pada 1949 para bruder Budi Mulia membuka toko buku di Jalan Gunung Sahari 91, yang diberi nama Glorieux. Pada 1950 namanya berganti menjadi OBOR. Semula gedungnya kecil dengan ciri tulisan OBOR. Pada 1980-an mulai dipikirkan pembangunan gedung baru. Akhirnya pada 1991 gedung baru OBOR diresmikan oleh Mgr. Julius Darmaatmadja sebagai Ketua KWI. Saat ini Gedung OBOR terdiri atas tujuh lantai, berlokasi di Jalan Gunung Sahari 91, Jakarta Pusat.

[Cerita lain tentang Toko OBOR bisa dilihat DI SINI]

Perjalanan sejarah OBOR (Dokpri)
Perjalanan sejarah OBOR (Dokpri)
Misa syukur

Pada Sabtu, 14 September 2019, usia yang bersejarah itu diperingati dalam acara Misa Syukur. Saya diundang menghadiri acara itu. Ini karena saya pernah menulis tentang OBOR sebagaimana tulisan di atas dan mendapat apresiasi dari pimpinan OBOR.

Selain misa, diadakan ramah-tamah sekaligus mengenang peristiwa-peristiwa lalu. OBOR pernah hampir bangkrut. Lalu ada 'sang penyelamat' sehingga bertahan hingga kini. OBOR bukan hanya bersifat komersial, dalam arti mencari keuntungan semata. Sebagian keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial.

OBOR menjual buku-buku rohani (seperti kitab suci dan pelajaran agama), barang rohani (seperti gelang dan kalung) dan perlengkapan liturgi (seperti pakaian liturgi dan tempat air suci). Silakan hubungi laman berikut Toko OBOR.

Dalam acara syukuran tersebut diperkenalkan pula anggur sakramen. Biasanya anggur tersebut diimpor dari luar negeri. Namun saat ini anggur sakramen bisa diproduksi sendiri oleh putra-putra bangsa. Dengan demikian gereja-gereja Katholik yang membutuhkan tinggal menghubungi toko OBOR.

Perjalanan sejarah OBOR (Dokpri)
Perjalanan sejarah OBOR (Dokpri)
Cerita

Cerita menarik disampaikan oleh Romo Agustinus. Beliau pernah memegang pucuk pimpinan toko OBOR. Sebagai pimpinan, beliau menunjuk si ini dan si itu untuk membantunya. Namun yang ditunjuk tadinya menolak karena menganggap belum berpengalaman. Akhirnya karena penugasan, mereka melaksanakan juga tugas yang diberikan pimpinan.Bahkan mereka turut membesarkan OBOR.

Dalam kesempatan itu diluncurkan buku Ziarah Batin 2020. Tadinya para undangan bingung dengan adanya tukang ojek online yang tiba-tiba masuk membawa sesuatu. Akhirnya setelah dar der dor terbukalah layar sebagai tanda peluncuran buku Ziarah Batin 2020. Setiap undangan memperoleh masing-masing sebuah buku. Namun boleh membeli lagi dengan harga khusus Rp25.000, dari harga semula Rp65.000. Buku Ziarah Batin tergolong laris karena disukai pembaca. Kalau dalam tahun-tahun pertama cuma laku sekitar 2.000 eksemplar, kini mencapai 65.000 eksemplar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN