Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Main Musik Tradisional "Nanyin" untuk Terapi Pikun

24 Juni 2019   15:40 Diperbarui: 25 Juni 2019   18:00 0 4 1 Mohon Tunggu...
Main Musik Tradisional "Nanyin" untuk Terapi Pikun
Bermain musik di usia tua untuk terapi pikun (Dokpri)

Minggu, 23 Juni 2019 saya dan keluarga kulineran di daerah Glodok. Jarang sekali kami pergi bersama seperti ini. Maklum ada kesibukan masing-masing. Kami mulai menyusuri Petak Sembilan sejak turun dari halte Glodok. Beberapa jenis makanan kami cicipi, sehingga tidak terasa perut semakin kenyang. Siangnya kami cuma mengisi perut dengan es campur dan es sarang walet.

Sekitar pukul 13.00, Lia mengajak kami melihat latihan musik tradisional Tiongkok Nanyin, yang dikenal juga dengan nama Lamkoan atau Langjun yue. Kami penasaran musik apa itu. Lalu kami pergi bersama ke tempat latihan Lia.

Lokasinya di samping kelenteng Kai Zhang Sheng Wang Miao atau kelenteng Marga Tan di Jalan Kemenangan 3, seberang Jalan Blandongan. Cukup berjalan kaki dari tempat kami minum es campur tadi.

Generasi tua dan generasi muda berpadu dalam latihan musik nanyin (Dokpri)
Generasi tua dan generasi muda berpadu dalam latihan musik nanyin (Dokpri)
Pelestarian Budaya
Kawasan tersebut memang dikenal sebagai Pecinan. Banyak kelenteng terdapat di kawasan ini, termasuk kelenteng Kim Tek Ie atau wihara Dharma Vhakti yang dianggap tertua di Jakarta.

Tempat latihan musik Nanyin tidaklah luas. Paling-paling sekitar 30 meter persegi luasnya. Tidak banyak orang yang datang ke sana. Sekitar 15 orang sih ada, termasuk pendamping. Maklum peserta latihan dan pengajar kebanyakan orang-orang tua yang sudah sepuh. Hanya empat orang yang termasuk anak-anak dan setengah baya.

Saya berpikir bagaimana pelestarian budaya musik ini kalau orang-orang tua tersebut sudah tiada? Mungkinkah generasi muda bisa cepat menggantikannya? Terus terang, yang namanya pelestarian budaya memang sulit. Lihatlah betapa musik gamelan semakin tergerus di sini, namun justru disukai masyarakat mancanegara.

Alat-alat musik tradisional nanyin (Foto: ich.unesco.org)
Alat-alat musik tradisional nanyin (Foto: ich.unesco.org)
Sehat
Saya sempat berbincang dengan Encek Kok Beng. Encek adalah sebutan untuk orang tua, aslinya adalah panggilan untuk adik laki-laki dari ayah. Encek Kok Beng berusia 93 tahun, luar biasa yah. Kata dia, main musik menyehatkan. Apalagi ditambah berjalan kaki. Encek Kok Beng rajin mengikuti latihan musik setiap Minggu.

Dulunya encek Kok Beng seorang guru. Sampai sekarang ingatannya masih kuat. Begitu juga fisiknya. Hanya untuk jaga-jaga, encek Kok Beng membawa tongkat kayu.

Encek Kok Beng memainkan alat musik yang disebut ruan. Ruan adalah alat musik petik semacam gitar. Kalau tidak salah senarnya cuma empat.

Ada lagi seorang encek. Ia mahir bermain erhu. Erhu adalah alat musik gesek macam rebab, senarnya ada dua. Ruan dan erhu menjadi pelengkap musik nanyin. Aslinya musik nanyin terdiri atas alat musik sanxian, pipa, paiban, dongxiao, dan erxian. Dongxiao semacam suling.

Pemain musik nanyin (Foto: ich.unesco.org)
Pemain musik nanyin (Foto: ich.unesco.org)
Obat pikun
Buat orang-orang sepuh, pertemuan semacam ini dipandang obat pikun. Yah terapi pikun yang sederhana dan mujarab. Mereka saling mengobrol. Ada yang membawa minuman dan buah-buahan. Ada yang membawa makanan. Suasana latihan berjalan santai. Seorang peserta yang belum mahir, hampir selalu bertanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x