Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer

Lulusan Arkeologi UI, pekerja mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Belajar Keramik Kuno Palsu atau Asli di Museum Seni Rupa dan Keramik

19 Mei 2019   12:17 Diperbarui: 19 Mei 2019   20:27 0 8 2 Mohon Tunggu...
Belajar Keramik Kuno Palsu atau Asli di Museum Seni Rupa dan Keramik
Keramik kuno hasil ekskavasi (Dokpri)

Tidak disangka masyarakat awam sangat tertarik mendalami keramik. Dalam rangka pelaksanaan pameran keramik yang dimulai akhir April lalu dan akan berakhir pada 16 Juni 2019, pada 18 Mei 2019 Museum Seni Rupa dan Keramik menyelenggarakan kegiatan bincang keramik. Semula ditargetkan 40 orang akan hadir. Namun ternyata hingga acara dimulai, bincang keramik diikuti 60 peserta.

Biasanya kegiatan diselenggarakan pagi hingga siang hari. Kali ini berhubung bulan Ramadan, kegiatan dilangsungkan sore hari hingga menjelang berbuka puasa.

Pameran keramiknya sendiri menampilkan keramik kuno, terutama hasil ekskavasi arkeologi di situs Banten Lama dan Batavia. Jangan heran, yang ditampilkan kebanyakan berupa pecahan. Meskipun begitu, di tangan arkeolog yang mendalami keramolog (pengetahuan tentang keramik), biar pecahan pun bermanfaat karena mengandung tarikh atau pertanggalan.

Beberapa materi pameran berupa keramik baru atau keramik modern. Para pengrajin atau seniman keramik justru mengambil inspirasi dari keramik-keramik kuno. Beberapa peserta ternyata berasal dari sekolah kejuruan dan anak berkebutuhan khusus.

Dari kiri Bu Naniek, Pak Sonny, dan Mas Fajar sebagai moderator (Dokpri)
Dari kiri Bu Naniek, Pak Sonny, dan Mas Fajar sebagai moderator (Dokpri)

Arkeolog
Bincang keramik menampilkan dua arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Yang pertama, Pak Sonny Wibisono. Pak Sonny dikenal sebagai ahli tembikar atau gerabah. Sebenarnya tembikar dan keramik merupakan istilah yang relatif sama. Perbedaanya hanya dalam suhu pembakaran. Umumnya tembikar dibakar pada suhu 350-1.000 derajat Celcius. Sementara keramik dibakar pada suhu sekitar 1.350 derajat Celcius.

Pak Sonny sering meneliti di situs Banten Lama. Bahkan di sana ada sekitar 30 kluster, yang satu di antaranya disebut Panjunan. Panjunan berasal dari kata anjun atau penganjun yang merujuk pada pengrajin tembikar.

Tembikar dari Banten Lama banyak menginspirasi seniman-seniman keramik. Mereka menambahi karyanya dengan cukilan bambu atau kayu. Bahkan, kata Pak Sonny, beberapa motif batik Banten pun terpengaruh motif hiasan pada tembikar.

Motif pada tembikar menjadi inspirasi motif batik Banten (Dokpri)
Motif pada tembikar menjadi inspirasi motif batik Banten (Dokpri)

Singkawang
Daerah penghasil keramik yang paling mendapat perhatian orang adalah Singkawang di Kalimantan Barat. Keramik Singkawang umumnya berbahan dasar kaolin. Boleh dibilang, mereka meniru keramik Tiongkok. Berabad-abad lampau keramik Tiongkok memang merupakan komoditas dagang yang paling laku di seluruh dunia.

Bu Naniek menyebut keramik Singkawang sebagai keramik Tiongkok yang aspal. Para pengrajin memang banyak meniru keramik Tiongkok nyaris sempurna. Tungku pembakaran atau kiln di Singkawang sungguh luar biasa dibandingkan daerah-daerah lain. Karena itu kualitas keramik Singkawang cukup tinggi.

Dalam melakukan penelitian, Bu Naniek banyak berkeliling Singkawang. Saking terampil, pengrajin Singkawang mampu menciptakan keramik yang berukuran sekitar dua meter. "Bayangkan ukuran tungku pembakarannya," kata Bu Naniek.

Bu Naniek memperlihatkan keramik raksasa setinggi dua meter (Dokpri)
Bu Naniek memperlihatkan keramik raksasa setinggi dua meter (Dokpri)

Palsu atau asli
Banyak peserta bertanya soal mengidentifikasi keramik palsu atau asli. Menurut Bu Naniek, lebih mudah mengidentifikasi dari pecahan karena bisa mengetahui tekstur. Dari pasir yang menempel pun bisa diketahui teknik pembuatan. Kalau dari keramik utuh, paling bisa diidentifikasi dari motif, demikian Bu Naniek.

Tidak heran banyak peserta bertanya demikian. Soalnya sejak lama keramik kuno dipandang menjadi benda investasi yang menggiurkan.

Dalam arkeologi sendiri keramik memiliki berbagai manfaat, seperti untuk mengetahui perdagangan kuno dan untuk mengetahui sejauh mana hubungan kedua kerajaan.

Pak Sonny mengharapkan museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pelestarian. Museum harus menampilkan koleksi yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung sebagai sumber inspirasi mereka. Misalnya masyarakat atau pengrajin dapat memodifikasi motif-motif kuno ke dalam karya kekinian mereka.

Di seluruh Indonesia banyak museum umum sudah memiliki koleksi keramik, baik berupa utuhan maupun pecahan. Semoga koleksi-koleksi tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menciptakan motif atau hiasan yang disesuaikan dengan zaman.