Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Penulis artikel/buku, Kolektor uang/prangko, dan Konsultan astrologi/palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pekerja mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Artikel Utama

Angkot Jak Lingko, Sekarang Gratis Nanti Bayar

20 Maret 2019   06:52 Diperbarui: 20 Maret 2019   16:10 817 5 1
Angkot Jak Lingko, Sekarang Gratis Nanti Bayar
Ciri khas angkot Jak Lingko (Foto: Validnews)

Mulai Kamis, 21 Februari 2019 telah beroperasi angkot merah rute Kelapa Gading -- Rawamangun. Ada 24 buah angkot yang lolos seleksi. Sebenarnya ada lebih dari 40 angkot yang mengikuti uji kelayakan di kantor TransJakarta di kawasan Cililitan. Namun karena disyaratkan keluaran 2015, maka angkot-angkot lain terpaksa digugurkan.

Angkot ini berbeda dengan angkot sebelumnya yang berkode U-04. Sekarang Jak59. Angkot ini berstiker khusus, terlihat di bagian muka, samping, dan belakang. Meskipun tertulis Kelapa Gading, angkot ini bertujuan akhir di Rawa Sengon.

Di bagian dashboard terdapat sebuah alat kecil. Penumpang harus berkartu khusus Jak Lingko. Nah, nanti kartu ini ditempelkan pada alat tersebut. Saya belum tahu pasti berapa tarifnya karena ketika saya naik masih gratis alias terpotong Rp 0. Angkot ini terintegrasi dengan TransJakarta. Jelas, nanti harus bayar tapi entah berapa besarannya.

Oh ya, saya beli kartu Jak Lingko sebesar Rp30.000 di halte TransJakarta. Isinya sih cuma Rp10.000. Kartu ini bersifat multifungsi dan bisa diisi ulang. Jadi bisa dipakai juga untuk TransJakarta, kereta api, bahkan moda transportasi lain.

Kartu integrasi (kiri) dan kartu Jak Lingko (kanan)/Dokpri
Kartu integrasi (kiri) dan kartu Jak Lingko (kanan)/Dokpri
Gratis

Angkot Jak Lingko tidak boleh menaikkan dan menurunkan penumpang secara sembarangan. Ada rambu khusus sebagai tanda. Untung rumah saya dekat lokasi rambu.

Kelebihan lain, angkot ini tidak ngetem. Biarpun cuma ada dua penumpang, angkot tetap meluncur di jalan. Sopir memang tidak kejar setoran karena sudah digaji. Setiap hari ada dua shift, yakni pukul 05.00-13.00 dan pukul 13.00-22.00. Gaji sopir keluar sebulan dua kali.

Dalam bulan promosi ini, penumpang yang belum mempunyai kartu juga ikut digratiskan. Yah sebagai sosialisasi, kata sopir yang saya naiki. Sementara ini banyak karyawan merasa diuntungkan. Maklum masih gratis.

Alat pembaca kartu Jak Lingko (Dokpri)
Alat pembaca kartu Jak Lingko (Dokpri)
Sebelum ada kartu Jak Lingko, pengguna angkot harus memiliki kartu integrasi. Kartu ini berlaku Mei 2017 hingga Desember 2017. Harga kartu integrasi Rp15.000, berlaku selama satu bulan. Setiap bulan, warna kartu selalu berganti. 

Namun kartu integrasi hanya berlaku pada jam-jam tertentu, yakni pukul 05.00-09.00 dan pukul 16.00-20.00. Penggunaanya cukup menunjukkan kartu tersebut ke sopir. Di luar itu, penumpang harus membayar dengan uang tunai.

Selama 2018 angkot beroperasi seperti biasa karena kartu integrasi tidak berlaku lagi. Maklum gubernur baru telah meluncurkan program OK Otrip. Dalam masa peralihan ini, angkot ngetemnya lama dan suka ugal-ugalan.

Rambu tempat menaikkan dan menurunkan penumpang (sabar nder on twitter)
Rambu tempat menaikkan dan menurunkan penumpang (sabar nder on twitter)
Jak Lingko adalah sistem integrasi transportasi publik di Jakarta. Jak berarti Jakarta; Lingko berarti jejaring atau integrasi yang diambil dari sistem persawahan tanah adat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur. 

Lingko berbentuk seperti jaring laba-laba yang terintegrasi. Nama ini dipilih karena mencerminkan makna jejaring atau integrasi seperti sistem transportasi yang akan dibangun di DKI Jakarta. Jak Lingko diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada 1 Oktober 2018. 

Kalau buat karyawan yang bekerja setiap hari, tampaknya kartu integrasi lebih menguntungkan dibandingkan kartu Jak Lingko. Namun keduanya tetap menguntungkan bila dibandingkan harus membayar tunai. Semoga transportasi publik di Jakarta lebih baik sehingga mengurangi kemacetan dan polusi udara.***