Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ketika Masyarakat Awam Belajar Aksara Kuno pada Prasasti

18 Maret 2018   22:05 Diperbarui: 19 Maret 2018   16:43 4268
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Belajar aksara kuno pada prasasti di Museum Nasional (Dokpri)

Setelah beberapa kali melakukan kegiatan diskusi, lokakarya, blusukan, dan publikasi, Minggu, 18 Maret 2018, Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia (KPBMI) mengadakan kegiatan baru "Sinau Aksara dan Bedah Prasasti". Kegiatan berlangsung di Museum Nasional pukul 09.00 hingga pukul 14.00 WIB.

Ternyata peminat kegiatan ini cukup banyak. Begitu dibuka lewat pendaftaran daring, dalam beberapa jam kuota 40 orang terpenuhi. Mereka berasal dari kalangan masyarakat awam, yakni pelajar, mahasiswa, guru, karyawan swasta, dan umum sebagaimana yang tertera pada daftar hadir.

Karena itu pendaftaran segera ditutup. Para calon peserta tetap dicatat sebagai daftar tunggu. Total pada hari pelaksanaan, ada 63 orang mengikuti sinau ini. Sinau merupakan nama keren dari belajar.

Pengenalan prasasti di ruang auditorium Museum Nasional (Dokpri)
Pengenalan prasasti di ruang auditorium Museum Nasional (Dokpri)
Dua pemateri

Memang kegiatan KPBMI ini bukanlah kegiatan perintis. Sebelumnya kegiatan serupa pernah dan masih diselenggarakan oleh beberapa komunitas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pemateri kegiatan ini adalah Sri Ambarwati atau biasa disapa Ami dan Fifia Wardhani. Ami pernah menjadi jurnalis, dan kemudian mengambil S-2 Epigrafi di UI. Sementara Fifia dengan panggilan akrab Fifi, sampai saat ini masih bekerja di Museum Nasional. KPBMI memilih Museum Nasional karena museum ini memiliki banyak koleksi prasasti.

Dalam uraian pengenalan, Fifi mengatakan manusia mengenal dua sistem komunikasi, yakni komunikasi langsung (bahasa lisan) dan komunikasi tidak langsung (bahasa tulisan).  Bahasa lisan lebih tua daripada bahasa tulisan karena digunakan sejak masa prasejarah. Sementara bahasa tulisan memiliki keunggulan dapat menghilangkan batasan jarak dan waktu. "Tulisan mempercepat perkembangan kebudayaan dan peradaban," kata Fifi.

Mengenai aksara atau tulisan, menurut Fifi mengutip pernyataan Trigangga, adalah simbol bunyi yang diucapkan manusia, membentuk rangkaian kata yang bermakna dan dapat dipahami manusia.

Selanjutnya menurut Ami, kata "prasasti" berasal dari bahasa Sanskerta, prasasti yang secara harfiah berarti 'puji-pujian', dan arti secara luas adalah "piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang."

Saat ini prasasti dipahami sebagai artefak bertulis, yaitu huruf-huruf, kata-kata atau tanda-tanda konvensional yang dipahatkan pada bahan-bahan yang tidak mudah rusak dimakan usia, contohnya batu, logam, tanah liat bakar dan bahan keras lainnya.

Pengenalan aksara kuno di ruangan koleksi prasasti Museum Nasional (Dokpri)
Pengenalan aksara kuno di ruangan koleksi prasasti Museum Nasional (Dokpri)
Epigrafi

Perlu diketahui, tidak mudah untuk membaca tulisan dalam prasasti. Ini mengingat tulisan-tulisan tersebut sudah berusia ratusan tahun, bahkan lebih, yang sekarang tidak digunakan lagi oleh masyarakat. Jadi sudah menjadi bahasa mati. Untuk itu  dibutuhkan keahlian khusus yaitu epigrafi, ilmu yang mempelajari tulisan-tulisan kuno. Orang yang ahli membaca prasasti disebut epigraf. Para epigraf inilah yang bisa membaca, mengartikan dan menguak takbir sejarah yang dituliskan dalam sebuah prasasti. Hasil pembacaan dan terjemahan isi prasasti kemudian disusun oleh para sejarawan untuk menjadi cerita sejarah yang komplet dan akurat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun