Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Lulusan Arkeologi UI, pekerja mandiri, penulis artikel, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Melihat Tengkorak Manusia Purba di Perpustakaan Nasional

16 Oktober 2017   21:16 Diperbarui: 17 Oktober 2017   09:22 1491 2 0
Melihat Tengkorak Manusia Purba di Perpustakaan Nasional
Peralatan batu yang dipakai manusia purba (Dokpri)

Tengkorak manusia purba yang disebut Pithecanthropus erectus ada di Perpustakaan Nasional. Usia tengkorak itu sudah ribuan tahun. Dulu, tengkorak tersebut pernah diteliti oleh Eugene Dubois.

Ditemukannya Pithecanthropus erectus mengungkap missing link dari perkembangan evolusi dunia. Ini menunjukkan pada zaman dulu Nusantara menjadi bagian penting perkembangan peradaban kehidupan dunia, apalagi dikuatkan dengan temuan berbagai situs zaman-zaman prasejarah di Indonesia.

Sejak lama berbagai situs prasejarah terdapat di sejumlah provinsi. Yang akhir-akhir ini sedang digarap dikenal sebagai situs Patiayam di Jawa Tengah. Lalu ada Leang-leang di Sulawesi Selatan dan Gua Harimau di Sumatera Selatan. Namun yang paling populer adalah situs Sangiran di Jawa Tengah.

Selain tengkorak, dipamerkan peralatan batu yang pernah digunakan manusia purba untuk menjalani kehidupan. Kapak batu untuk mengolah makanan. Ada juga alat-alat serpih. Beberapa panel informasi terpajang di bagian dalam gedung.

Tengkorak manusia purba yang berusia ribuan tahun (Dokpri)
Tengkorak manusia purba yang berusia ribuan tahun (Dokpri)

Begitulah partisipasi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman dalam Wallacea Week 2017 yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan. Wallacea Week berlangsung pada 16 Oktober 2017 hingga 22 Oktober 2017 pukul 09.00-15.00.  

Wallacea Week diselenggarakan oleh British Council dan Pemerintah Kerajaan Inggris didukung oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Perpustakaan Nasional. Dua instansi terlibat di dalamnya, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata.

Garis Wallace

Nama Wallace sudah dikenal sejak lama. Tentu kita masih ingat istilah Garis Wallace ketika bersekolah. Wallace, yang memiliki nama lengkap Alfred Russel Wallace (1823-1913), seorang peneliti alam, antropolog, sekaligus ahli biologi. Sebenarnya ia seorang lulusan sekolah hukum. Pada 1850-an ia mulai menjelajahi kepulauan Nusantara.

Judi Wahjudin dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (baju putih) sedang memberi penjelasan kepada Prof. Sangkot Marzuki (Dokpri)
Judi Wahjudin dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (baju putih) sedang memberi penjelasan kepada Prof. Sangkot Marzuki (Dokpri)

Wallace kemudian menemukan wilayah zoogeografi. Ia berhasil mendefinisikan kawasan tersebut lewat penelitian selama bertahun-tahun. Temuannya tidak hanya membuat Nusantara terkenal, tetapi juga menarik perhatian peneliti lainnya untuk datang dan menelisik fenomena Wallacea.

Selama delapan tahun di Nusantara (1854-1862), ia berhasil mengumpulkan lebih dari 125.000 spesimen yang membuktikan bahwa wilayah ini kaya akan keanekaragaman hayati. Dalam penelitian inilah, ia menemukan Garis Wallace, garis hipotesis yang memisahkan Paparan Sunda dan Paparan Sahul, sekaligus mendefinisikan Wallacea. Penjelajahan ilmiahnya itu ia dokumentasikan dalam buku The Malay Archipelago. Wallace juga diketahui berjasa mencatatkan Ternate ke dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan hayati.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Penjelajahannya di Nusantara juga menghasilkan gagasan yang kemudian sangat mempengaruhi dunia evolusi melalui seleksi alam. Karya Wallace rupanya menarik perhatian Charles Darwin dan Eugene Dubois. Menurut buku yang saya baca, Alfred Russel Wallace (LIPI, 2011), Wallace dan Charles Darwin ditasbihkan sebagai penemu secara bersama teori seleksi alam yang menjadi basis dari teori evolusi. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa nama Darwin lebih populer  sebagai pencetus teori itu.

Wallace Week tidak hanya menghadirkan pameran. Kuliah umum, diskusi, dan pemutaran film juga diselenggarakan oleh panitia. Pada hari pembukaan, berbicara Prof. Sangkot Marzuki, Dr. John van Wyhe, Prof. Herawati Sudoyo, Prof. Jatna Supriatna, Andre Schulteman, Dr. Harry Widianto, dan Dr. Dadang Rizki Ratman.***