Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight headline

Candi Borobudur Pada 1814: Masih Tertutup Pepohonan dan Semak Belukar

12 Oktober 2017   12:56 Diperbarui: 12 Oktober 2017   17:19 9917 13 4
Candi Borobudur Pada 1814: Masih Tertutup Pepohonan dan Semak Belukar
Kondisi stupa induk ketika ditemukan (Buklet pameran)

Saat ini orang mengenal Candi Borobudur sebagai bangunan megah nan eksotik dari masa silam. Belum diketahui pasti kapan candi itu didirikan. Kebanyakan masyarakat kita pun cuma tahu kondisi masa sekarang. Bagaimana kondisi masa lalunya ketika baru pertama kali ditemukan?

Candi Borobudur mulai terkuak ketika Gubernur Jenderal Raffles dari Inggris berkuasa di Hindia-Belanda pada 1811-1816. Pada 1814 ketika sedang berkunjung ke Semarang, ia diberitahu adanya sebuah tumpukan batu kuno di Desa Bumisegoro dekat Magelang.

Tak lama kemudian utusan Raffles, Cornelius, menuju Borobudur. Ia mendapati sebuah bukit yang ditumbuhi pepohonan yang rindang dan semak belukar yang cukup lebat.  Di antara itu terkuak banyak batu berukir yang masih tersusun sebagai bangunan. Itulah kondisi awal Candi Borobudur.

Dibantu sekitar 200 penduduk desa, Cornelius melakukan pembersihan. Hampir selama dua bulan mereka bekerja. Masalahnya, kalau bagian-bagian tertentu ditampakkan, justru akan meruntuhkan bangunan. Atas jasa Residen Kedu, Hartman, pada 1835 barulah Borobudur tampak sebagai sebuah bangunan di atas bukit.

Pada 1845 Candi Borobudur mulai didokumentasikan oleh pemotret bernama Schaefer. Sayang, hasilnya dipandang kurang memuaskan. Maka pada 1849 tugas pendokumentasian dibebankan kepada Wilsen, seorang juru gambar dari Zeni Angkatan Darat. Pada 1873 Leemans berhasil menerbitkan monografi tantang Candi Borobudur berdasarkan uraian Brumund dan gambar-gambar Wilsen.

Ironisnya, bersamaan dengan terbitnya buku monografi, pada tahun itu juga Candi Borobudur diketahui berada dalam keadaan terlantar.  Banyak bagian candi memperlihatkan gejala akan runtuh. Banyak orang mengusulkan adanya penyelamatan secara nyata.

Pemugaran

Upaya memperbaiki candi yang rusak biasa disebut pemugaran atau rekonstruksi. Pertama kali pemugaran secara besar-besaran dipimpin oleh Theodore van Erp mulai 1907. Ia berhasil mengumpulkan batu-batu lepas dari pelataran candi. Ia juga menggali hingga kedalaman satu meter lebih. Hasilnya berupa batu-batu penting seperti kepala banaspati, arca pancuran, arca singa, kepala Buddha, relief cerita, dan masih banyak lagi.

Th. van Erp, pimpinan pemugaran tahap pertama (buklet pameran)
Th. van Erp, pimpinan pemugaran tahap pertama (buklet pameran)

Namun ada keteledoran van Erp ketika melakukan pemugaran. Saat ini kalau kita mengunjungi Candi Borobudur, ada relief cerita yang berwarna kuning. Nah, itu lapisan oker kuning. Dulu dimaksudkan untuk meratakan warna relief demi keperluan pemotretan. Ternyata memang menjadi pelindung bagi batu-batu keras. Sebaliknya batu-batu lunak yang terkena oker akan mengelupas.

Foto-foto Candi Borobudur tempo dulu, kini tengah dipamerkan di Museum Nasional hingga 15 Oktober mendatang. Pameran itu diselenggarakan oleh Balai Konservasi Borobudur didukung Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Bukan hanya gambar-gambar lama, pemugaran tahap kedua masa 1973-1983 juga ikut dipamerkan. Termasuk alat-alat modern pada zamannya untuk membantu pemugaran, yang sekarang sudah ketinggalan zaman. Untuk mendukung pengetahuan penikmat pameran, diputar film dokumenter tentang Candi Borobudur.

Masih ada waktu beberapa hari. Ayo ketahui bagaimana proses pemugaran Candi Borobudur. Bagaimana tenaga-tenaga terampil bangsa Indonesia mampu membuat reruntuhan jadi megah dan diakui dunia.

Bagian candi yang terkubur selama 800 tahun (Buklet pameran)
Bagian candi yang terkubur selama 800 tahun (Buklet pameran)

Sejak beberapa tahun lalu Candi Borobudur telah menjadi Warisan Dunia oleh UNESCO. Awal 2017 arsip pemugaran kedua 1973-1983 diajukan ke UNESCO sebagai Ingatan Dunia (Memory of the World). Semoga akhir Oktober ini kita mendapat kabar baik, disahkannya arsip itu sebagai Ingatan Dunia.

Ayo silakan berkunjung ke Museum Nasional. Cari informasi lebih dalam tentang Candi Borobudur. Gampang kok kalau ke Museum Nasional. Naik saja Transjakarta, turun di halte Monumen Nasional. Tinggal nyebrang deh.***

Sumber:

  • Soekmono. Satu Abad Usaha Penyelamatan Candi Borobudur. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1973.
  • Brosur Pameran Memory of the World, Museum Nasional Indonesia 10-15 Oktober 2017.