Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Penulis Arkeologi/Museum, Numismatis, Komunitas, Pemerhati Astrologi/Palmistri

Lulusan Arkeologi UI, pejuang mandiri, penulis artikel, pegiat komunitas, kolektor (uang dan prangko), dan konsultan tertulis (astrologi dan palmistri). Memiliki beberapa blog pribadi, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Cash Box" Berisi Koin Kuno Dipendam Kakek Karena Takut Tentara Pendudukan Jepang

29 Mei 2017   18:31 Diperbarui: 29 Mei 2017   18:44 0 4 1 Mohon Tunggu...
"Cash Box" Berisi Koin Kuno Dipendam Kakek Karena Takut Tentara Pendudukan Jepang
Cash box berisi koin kuno (Dokpri)

Boleh dibilang di mata keluarga atau kerabat, saya adalah tempat yang baik sebagai penampungan barang antik. Kalau mereka punya barang antik, tentu saja peninggalan keluarga, hampir selalu diberikan kepada saya secara gratis. Sebenarnya beberapa tahun lalu saya mendapat sebuah kotak besi berukuran panjang 24 sentimeter, lebar 18 sentimeter, dan tinggi 11 sentimeter. Kotak besi ini mempunyai pegangan pada bagian atas. Juga masih ada kuncinya. Pada masa sekarang kotak ini disebut cash box atau kotak uang. Maklum untuk menyimpan uang secara aman, mengingat waktu itu bank masih belum banyak dikenal.

Beberapa hari terakhir ini, kotak besi tersebut saya utak-atik lagi. Bagian depannya masih cukup bagus. Kuncinya masih berfungsi baik. Begitu kita buka, ada sebuah kotak besar yang terbagi atas lima bagian. Warnanya merah. Kotak ini bisa diangkat. Di bawahnya masih ada tempat untuk menyimpan sesuatu.  

Uang lama

Ternyata di dalam kotak besi ini berisi sejumlah koin zaman Hindia Belanda. Lumayan banyak. Ada koin berbahan perunggu dan tembaga. Ada koin berbahan perak. Koin berbahan perunggu dan tembaga kondisinya kurang bagus. Sebagian besar sudah berkerak hijau. Hanya sebagian kecil yang bisa dibersihkan dengan air hangat.

Cash box dilengkapi kunci (Dokpri)
Cash box dilengkapi kunci (Dokpri)
Untuk membersihkan koin seperti ini perlu alat khusus. Semoga nanti saya bisa minta tolong teman saya yang bekerja di museum. Seingat saya terhadap pelajaran kimia sewaktu SMA, perlu dielektrolisis agar karat-karatnya lepas.

Sebaliknya koin-koin perak berada dalam kondisi lumayan. Hanya ada semacam kapur. Untungnya bisa hilang setelah dibersihkan dengan air hangat. Koin perak itu rata-rata bernilai 1 Gulden, ½ Gulden,  ¼ Gulden, 1/10 Gulden, dan 1/20 Gulden. Sungguh lumayan memang kalau duit-duit lama ini diduitin.

Menurut cerita tante saya, dulu cash box ini dipendam kakek saya di halaman rumah. Mungkin takut dirazia tentara pendudukan Jepang yang katanya galak-galak. Bertahun-tahun lamanya kotak besi ini berada di dalam tanah.

Schlieper

Pada bagian dalam lemari besi ini tertera Schlieper. Jelas itu nama merk. Sayang nama Schlieper masih sulit dicari. Yang ada adalah Carl Schlieper sebagai merk brankas, tempat uang yang lebih besar daripada cash box.

Merk Schlieper tertera di bagian dalam (Dokpri)
Merk Schlieper tertera di bagian dalam (Dokpri)
Mengingat ada kesamaan nama, kemungkinan Schlieper merupakan perusahaan yang didirikan di Jerman pada abad ke-18. Barang-barang baja, seperti brankas, kunci, dan alat berat dihasilkan perusahaan ini. Setelah Perang Dunia kedua bisnisnya diperkecil. Perusahaan ini beroperasi di Hindia Belanda dan memiliki paviliun di Pameran Kolonial Semarang pada 1914. Perusahaan itu juga beroperasi Batavia.

Sebagai arkeolog dan juga numismatis tentu warisan ini amat berharga. Semoga nanti setelah barang-barang tersebut dikonservasi, saya bisa bercerita lebih banyak.***