Djohan Suryana
Djohan Suryana Pensiunanl

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Di "Kampoeng Bangka" Ada Guyub FEUI 1959

12 Mei 2018   17:18 Diperbarui: 17 Mei 2018   19:36 460 0 0

Kali ini Restoran "Kampoeng Bangka" menjadi tempat silaturahim anggota Paguyuban Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Angkatan 1959 (Guyub FEUI 1959). Silaturahim yang diselenggarakan setiap tiga bulan ini jatuh pada tanggal 12 Mei 2018 yang dipilih menjelang bulan puasa. Acara silaturahim ini disponsori oleh Soedarjono, Ansye Saribanon Sapi'i dan Pungki Nursenosidi.

Restoran ini terletak di Jalan Panglima Polim Raya No.102, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. "Kampoeng Bangka" adalah sebuah restoran yang didirikan sejak tahun 2016, terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk restoran dengan kapasitas 90 orang, lantai dua adalah function hall dengan kapasitas 200 orang dan lantai tiga khusus musholla. Konon, restoran ini sering digunakan untuk pertemuan reuni oleh berbagai universitas, antara lain Fakultats Hukum UGM Angkatan 1959, Universitas Padjadjaran. Di samping restoran ini ada sebuah hotel lima lantai terdiri dari 52 kamar yang kepemilikannya sama dengan restoran tersebut. Namanya adalah Hotel "F". Tarifnya sekitar Rp 500.000,- per malam, demikian menurut informasi dari salah seorang petugas restoran.

Kepengurusan Guyub untuk periode 2018-2020 sekarang dijabat oleh Ansye Saribanon Sapi'i, 78, sebagai Ketua, Moempoeni Setyowati, 79,  sebagai Sekretaris sedangkan  Pungki Nursenosidi, 80,tetap  sebagai Bendahara. Pengurus lama yang terdiri dari Soedarjono (Ketua), 79, Djohan Suryana (Sekretaris), 79, telah melakukan serah terima jabatan pada tanggal 7 Februari 2018 di Restoran Red Bean, Pondok Indah Mall.

Dalam kesempatan ini secara sederhana diadakan acara potong kue ulang tahun kepada beberapa orang anggota Guyub yang berulang tahun pada bulan Maret dan April. Mereka adalah Soeprijanto,77, Djohan Suryana, 79, Aisar Rifki Indrakesuma, 78, Meity Soeleman, 77, Soedarjono, 79, Ansye  Saribanon Sapi'i, 78, dan Djoko Moersid, 78. Lagu "Selamat Ulang Tahun" pun bergema diiringi oleh inhouse band restoran itu. 

Dalam kesempatan bincang-bincang sebelum makan siang, Soedarjono mengungkapkan kegelisahannya melihat perkembangan situasi dan kondisi perekonomian Indonesia yang menurut pengamatannya mulai melemah karena ketergantungan terhadap ekspor sementara cadangan devisa sebesar US $ 125 miliar lama-lama akan tergerus karena komoditi ekspor utama Indonesia yaitu batu bara dan kelapa sawit akan bermasalah. Disamping itu nilai tukar Rupiah pun makin merosot ditambah lagi dengan indeks harga saham yang juga anjlok sementara kenaikan sukubunga Federal Reserve Bank Amerika tampaknya tinggal menunggu waktu. Apabila terjadi kenaikan sukubunga maka kemungkinan besar modal asing akan lari dari bursa saham kita. Bursa Efek Jakarta (BEJ) akan jatuh semakin dalam.

Sedangkan Aisar Rifki Indrakesuma menyatakan rasa ketidakadilannya terhadap pendapat yang selalu mendiskreditkan pemerintahan sekarang tanpa melihat prestasi yang telah dilakukan oleh Jokowi yang dapat disaksikan secara kasat mata. Dan pembicara ketiga Amalia Rooseno juga mengeluhkan terntang persaingan tidak sehat dalam dunia perhotelan dewasa ini serta kelambatan pembuatan sertifikat atas apartemen yang dibelinya selama bertahun-tahun karena ia hanya memegang PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai agunan kredit.

Setelah makan siang yang cukup nikmat serta alunan lagu-lagu yang dilantunkan oleh Soedarjono, Marsudi dan isteri, Moempoeni, Djoko Moersid dan Andriza, pertemuan silaturahim ini pun bubar. Untuk sementara rasa kangen yang mengendap selama ini  telah tersalurkan. Dalam usia yang makin tinggi, anggota Guyub FEUI 1959 masih berusaha untuk tetap eksis dan tetap bersemangat menjalani kehidupan ini. Mungkin hanya alumni FEUI 1959 yang masih konsisten melakukan silaturahim, setelah 60 tahun berselang..........