Djohan Suryana
Djohan Suryana Pensiunanl

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sopir Blue Bird, Seorang Insinyur yang Tangguh

4 Mei 2018   22:29 Diperbarui: 4 Mei 2018   22:49 382 0 1

Kali ini saya akan mengisahkan seorang sopir taksi Blue Bird yang luar biasa. Namanya sebut saja Pardomoan. Ia menjadi sopir taksi Blue Bird sejak tahun 2016. Mempunyai seorang isteri yang disebutnya sebagai isteri yang berwajah "tidak cantik" serta tiga orang anak. Anaknya yang pertama adalah seorang  perempuan yang masih kuliah di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) Fakultas Sejarah dan Budaya semester 4 dan saat ini sedang magang di Bank BNI. 

Yang kedua seorang anak laki-laki drop-out SMK yang sudah bekerja  dan yang bungsu masih duduk di bangku SMP. Puterinya sebenarnya ingin kuliah di Universitas Guna Dharma , namun karena pada saat itu sang ayah sedang mengalami perawatan sehingga akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di UNJ mengingat biaya kuliahnya masih terjangkau. 

Kisah ini bergulir dalam perjalanan  di tengah kemacetan lalu lintas yang memakan waktu hampir tiga jam yaitu sejak dari Jalan Senen Raya hingga ke Tanjung Barat. Mula-mula perbincangan kami mengenai kondisi Tanah Abang yang konon sekarang makin amburadul. Macetnya tak tertolong lagi. Sampai-sampai ada sebuah taksi yabg kurang sabar dan tetap memaksa lewat telah dikeroyok oleh beberapa orang preman, katanya. Lalu percakapan pun bergeser kepada kehidupan pribadinya.

Ternyata menurut pengakuannya, ia pernah menderita sakit ginjal yang akut. Setelah dioperasi dan ginjalnya "dikeruk", ia harus menjalani perawatan di rumah selama dua tahun. Berat badan sebelum sakit, katanya sampai 105 kg. Dan sekarang setelah sembuh, berat badannya secara "ajaib" menyusut secara drastis menjadi sekitar 72 kg. Setelah kesehatannya pulih kembali, atas anjuran isterinya ia melamar di Blue Bird dan menjadi sopir taksi ini sejak tahun 2016. Dan pada tanggal 3 Mei 2018 bertemu dengan saya di Jalan Senen Raya dan mengantarkan saya ke Tanjung Barat dan muncullah kisah ini.

Pardomoan bertemu dengan isterinya pada saat ia kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Ia kuliah di Fakultas Tehnik sedangkan isterinya di Fakultas Ekonomi. Pada saat berpacaran, ia sering mengagumi pendirian yang teguh dari pacarnya ini walaupun wajahnya "tidak cantik". Sang pacar adalah puteri seorang kolonel TNI-AD. Sedangkan ia adalah mahasiswa yang indekos yang selalu kekurangan karena ayahnya hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan perkebunan di Sumatera Utara.  

Dan setelah mengalami berbagai kesulitan akhirnya mereka menikah.Selama mahasiswa ia rajin berlatih karate sehingga sosoknya tegap. Tetapi setelah lulus dan kemudian menikah lalu bekerja, latihannya terabaikan. Akibatnya berat badannya meningkat terus tak terkendali, hingga mencapai 105 kg !

Setelah lulus dan menikah ia bekerja di sebuah anak perusahaan Krakatau Steel di bagian konstruksi sesuai dengan bidangnya. Setelah 7 tahun bekerja ia menderita sakit ginjal yang parah. Selama dua tahun ia harus menjalani perawatan yang kontinyu sehingga akhirnya ia diberhentikan dengan memperoleh pesangon tetapi tanpa surat keterangan berhenti bekerja. 

Dan sekarang setelah kesehatannya pulih kembali dan menjadi sopir taksi, ia ingin kembali bekerja sesuai dengan bidangnya yaitu konstruksi bangunan. Rencananya ia akan melamar kerja di PT Adhi Karya setelah surat keterangan dari kantor lamanya diterima.

Ia mengagumi prinsip hidup isterinya yang menyatakan " walaupun tidak makan, saya tidak akan berhutang kepada siapapun". Hal ini terjadi pada saat ia dirawat di rumah selama dua tahun, isterinyalah yang berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan membuka sebuah salon kecantikan bekerjasama dengan ibunya di Pasar Rebo. Setelah dua tahun menjadi sopir taksi, Pardomoan akan mulai menata hidupnya kembali sesuai dengan kemampuan serta pendidikannya.