Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kado Banjir Mengawali Tahun Baruku

2 Januari 2020   05:05 Diperbarui: 2 Januari 2020   05:04 110 5 3 Mohon Tunggu...
Kado Banjir Mengawali Tahun Baruku
Banjir Menggenangi Taman Rumah (dokpri)

Di saat banyak orang bergembira ria merayakan pesta tahun baru, saya memilih tinggal di rumah saja sendiri. Keluarga sedang di Bandung dan saya tidak ambil cuti, jadi tanggung mau liburan. Lagipula cuaca hujan deras dan konsisten dari sore dan masih berlangsung hingga siang ini.

Meskipun daerah sekitar rumah termasuk rawan banjir, namun belum pernah sekalipun mampir ke dalam rumah. Paling mentok di jalan depan rumah atau halaman tipis-tipis saja. Walau hati selalu waswas kalau hujan deras tak henti, tapi keyakinan tidak banjir masih ada dalam hati.

Namun semua itu berubah total hari ini. Pagi-pagi saat hendak sholat subuh, hujan deras masih saja menggempur Jakarta dan sekitarnya. Padahal pagi itu rencana mau liburan tipis-tipis dalam kota sendiri. Perasaan saya mulai tidak enak melihat jalan depan rumah mulai banjir. Saya bergegas memindahkan beberapa barang yang ada di bawah ke lantai atas. Untuk jaga-jaga saja sekalian nyicil walau biasanya tak pernah menyentuh bibir teras rumah.

Kulkas Mengambang (dokpri)
Kulkas Mengambang (dokpri)
Setengah jam kemudian saya kembali melongok ke luar dan alangkah kagetnya melihat air mulai mendekati bibir teras. Sayapun segera ambil langkah cepat, semua barang di bawah langsung di bawa ke lantai atas. Air rupanya semakin cepat mengalir ke dalam rumah seolah berlomba dengan saya yang sedang memindahkan barang-barang ke atas.

Hujan tak kunjung henti bahkan semakin deras membuat saya kelimpungan, mana yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Akhirnya barang elektronik yang kecil didahulukan seperti laptop dan kamera. Sementara kulkas dan mesin cuci terpaksa dipasrahkan kaeena tak ada orang lain di rumah.

Berikutnya pakaian dan kertas serta dokumen lain satu persatu diangkat ke atas sendirian dari tiga kamar sekaligus, kamar saya, anak laki-laki, dan anak perempuan. Bolak balik samhil berlomba dengan air yang semakin meninggi saya pindahkan barang-barang tersebut ke atas.

Namun tetap saja ada yang jadi korban. Mainan anak saya, sepotong kasur springbed dan kasur kapuk terpaksa ditinggalkan karena berat. Untungnya kasur springbed bisa mengambang sehingga dapat menaruh beberapa barang kecil di atasnya. Beberapa potong pakaian juga luput karena kalah cepat dengan air yang merangsek lebih jauh.

Tak terasa hampir dua jam saya naik turun dan air tiba-tiba sudah setinggi paha. Sayapun pasrah karena kelelahan, tinggal TV sebagai barang terakhir yang berhasil diangkut ke atas. Hujan masih turun walau tidak sederas pagi sehingga tinggi air tetap bertahan sepaha kaki.

Hingga siang hari, hujan gerimis masih saja turun tanpa ada tanda-tanda matahari bersinar. Banjirpun belum surut jua sehingga saya terpaksa bertahan di atas rumah sambil memantau situasi. Listrik sudah padam sejak jam 8 pagi ketika air menyentuh saklar paling bawah.

Sayapun tak bisa kemana-mana karena jalanan sudah terendam air dari pagi. Sementara dua motor juga ikut terendam sehingga terpaksa harus dikeringkan dan ganti oli dulu. Toh hampir seluruh jalan juga tertutup akibat terendam banjir, jadi memang benar-benar terkurung.

Walau hujan sudah berhenti siang hari, air tak kunjung surut jua. Baru sekitar jam 9 malam air benar-benar surut, namun hujan deras kembali melanda. Hadeuh saya jadi trauma kalau bakal kembali terendam bila hujan tak kunjung berhenti. Untunglah hujan tak berlangsung lama, sayapun kembali tidur nyenyak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x