Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Haji, Assalamualaikum, Shadaqah, Syukron

10 September 2019   10:27 Diperbarui: 10 September 2019   10:45 0 4 3 Mohon Tunggu...
Haji, Assalamualaikum, Shadaqah, Syukron
Truk Pembawa Sedekah Air (Dokpri)

Saat pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Masjidil Haram setelah turun di terminal Syib Amir, beberapa orang tampak bersikap ramah sambil menyapa "Assalamu'alaikum Haji". Saya yamg pikirannya masih lempeng enteng saja menjawab "Wa 'alaikum salam" sambil berlalu begitu saja.

Dokpri
Dokpri
Sebagian besar yang menyapa adalah tukang sapu di jalanan dan halaman menuju Masjidil Haram di tengah teriknya matahari menyengat tubuh. Selain itu ada juga ibu-ibu berbaju dan bercadar hitam menengadahkan tangan sambil berbisik "shadaqah, shadaqah", menandakan mereka adalah pengemis musiman yang menyerbu Masjidil Haram saat musim haji. Terbukti belakangan saat hari terakhir di Mekah mereka tak lagi menampakkan batang hidungnya.

Ada lagi yang sedikit nekat, ibu-ibu sejenis yang memasang muka ramah tapi ternyata tangannya berusaha merambah tas kecil milik istri saya. Untunglah tasnya tertutup rapat dan kami terhindar dari malapetaka. Saat tangannya saya tepis dia langsung lari ketakutan.

Karena seringnya disapa tukang sapu, sayapun bertanya pada pembimbing haji kloter. Beliau langsung tertawa ngakak."Ente kayak ga ngerti aja. Itu namanya ngarep sumbangam, shadaqah dari ente." Logat Betawinya kental sekali sambil memamerkan giginya yang sudah mulai ompong. Rupanya gajinya memang sangat kecil dibanding dengam kerjanya berjemur di tengah panasnya matahari untuk menyapu sampah yang dibuang sembarangan oleh jamaah.

Pengemis Membawa Bayi (Dokpri)
Pengemis Membawa Bayi (Dokpri)
Saat sedang melempar jumroh di jamarot, kondisinya nyaris serupa. Ibu-ibu bercadar hitam kali ini tidak sendiri, tapi membawa bayi yang masih merah untuk menemani mengemis. Ironisnya sambil mengemis mereka justru main hape sambil telpon sana sini, entah ngobrolin apa dengan siapa ga jelas blas. Ngemis koq mampu beli hape dan pulsa, piye to jal.

Berhubung sudah diwanti-wanti oleh ketua kloter, sesekali saya membalas sapaan tukang sapu dengan selembar uang Riyal. "Syukron, haji mabrur" itulah doa sang penyapu jalan kala selembar Riyal masuk ke kantongnya. Para tukang sapu ini rata-rata berasal dari Bangladesh, sementara ibu-ibu bercadar hitam tadi rata-rata berkulit hitam, pertanda berasal dari Afrika. 

Selain itu, ada jamaah juga yang mengharap belas kasihan sesama jamaah lainnya. Biasanya pas thawaf mereka berdoa sekerasnya sambil menunjukkan kondisi cacat fisiknya. Ada yang duduk sambil meluncur di papan beroda tanda tak mampu berjalan, ada yang menggunakan tongkat, ada pula yang tampak tertatih-tatih berjalan.

Ada jamaah asal negeri tertentu tiba-tiba mendekati saya. Dengan Bahasa Inggris yang lancar, dia mulai cerita kalau negerinya sedang berperang. Dia lalu menunjukkan luka bekas peluru nyasar di dahinya untuk membuktikan ceritanya. Melihat saya tampak trenyuh, mulailah dia minta sumbangan dengan dalih mau pulang ke negerinya.

Pertama saya keluarkan selembar, mungkin karena masih melihat ada uang di dompet, dengan setengah memaksa minta tambah sejumlah yang ada di dompet. "Get shadaqah from the others, not only me!" Saya tinggikan nada suara dan dia langsung terdiam. Tampak dia berusaha meminta sumbangan ke jamaah di sebelah saya, namun tak digubris. Tak lama dia langsung kabur tanpa sepatah katapun.

* * * *

Namun tak semua jamaah begitu, banyak pula yang bersedekah di Masjidil Haram. Beberapa kali saya ditawari kurma oleh sesama jamaah, bahkan ada yang mengadakan bukber di salah satu sudut masjid. Hal serupa juga terjadi di masjid Nabawi Madinah yang selalu mengadakan bukber tiap Senin dan Kamis atau hari puasa sunah lainnya. Menu bukber biasanya berupa kurma, sepotong roti, yoghurt, dan teh rasa mint.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2