Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Tukang Ojek dan Kuli Salakpun Lolos Jadi Legislator

17 Mei 2019   11:50 Diperbarui: 17 Mei 2019   12:38 125 6 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tukang Ojek dan Kuli Salakpun Lolos Jadi Legislator
Kuli Salak dan Tukang Ojek Online Jadi Aleg (Sumber: Kompas.com, diolah)

Menjadi anggota legislatif ternyata bukan monopoli orang-orang kaya dan populer saja. Di era reformasi ini, siapa saja bisa menjadi anggota legislatif, bahkan jadi presiden, tidak lagi didominasi oleh segelintir elit seperti era orde baru. Jadi kita patut berterima kasih pada para mahasiswa yang memperjuangkan reformasi dulu sehingga keadaan bisa jadi seperti ini.

Saya mendengar berita ini saat sedang menyetir sambil nonton televisi, ketika pembawa berita mewawancarai dua caleg berlatar belakang kuli salak dan tukang ojek lolos menjadi anggota DPRD. Memang bukan pemilu kali ini saja ada kaum marjinal yang lolos jadi caleg, namun karena jarangnya sosok tersebut tetap saja menjadi berita. Pertama, kuli salak bernama Wahyu Hidayat yang menjadi caleg DPRD Kabupaten Banjarnegara dari PDI-P, kedua tukang ojek online bernama Erwin Siahaan caleg DPRD Kota Medan dari PSI.

Dilansir dari kompas.com, Wahyu Hidayat berhasil lolos walau saat kampanye harus tertatih-tatih karena hanya mengandalkan dukungan teman-teman dan para tetangganya. Dayat, nama panggilannya, malah sempat meminta sebagian sumbangan untuk membayar sekolah anak, saking tidak adanya uang, apalagi buat kampanye. Setelah pencoblosan, Dayat sempat pesimis dan coba merantau ke ibukota, namun kemudian DPC PDI-P memanggilnya dan menyampaikan kalau suaranya sudah 2000an lebih dan hampir dipastikan lolos jadi anggota legislatif (1).

Lain lagi cerita Erwin Siahaan, awalnya dia tertarik untuk bergabung dengan Nasdem. Namun entah mengapa malah terdampar di PSI gara-gara sedang mencari obat tradisional yang ternyata penjualnya punya kerabat dengan pengurus PSI pusat. Tidak mudah untuk menjadi caleg karena harus melalui wawancara yang sempat menjadi bahan tertawaan karena nyaris tak ada modal uang dan suara. 

Namun kenekatannya ditambah wejangan dari ibunya yang mengingatkan kalau rezekimu di situ, pasti ada jalan ke situ, membuatnya tambah bersemangat kampanye dengan dukungan teman-temannya sesama rekan ojol untuk menyambangi warga (2).

Kedua kisah ini menunjukkan bahwa tak selamanya caleg harus bermodal uang besar dan popularitas semata. Ketulusan dan keikhlasan tanpa pamrihlah yang membawa mereka lolos menjadi anggota legislatif. Justru banyak caleg yang bermodal besar malah keok dan menjadi penghuni rumah sakit jiwa, karena niatnya sudah berbeda, bukan untuk mengabdi rakyat tapi mengembalikan sekaligus menggandakan modal yang sudah keluar. Seolah jabatan seperti dagangan saja, modal kecil ingin untung besar.

Ketika Tuhan sudah berkehendak, apapun jalannya akan terbuka lebar, tak peduli dia kaya atau miskin, kaum marjinal atau borjuis. Tangan Tuhanlah yang menggerakkan para pemilih untuk memilih mereka berdua, bukan uang atau pamrih lainnya kecuali sekedar minum kopi atau nangkring bareng saja. Tak ada politik balas budi selain mengabdi pada warga masyarakat yang telah memilihnya, bukan sebaliknya.

Dukungan teman-teman, doa orang tua, menjadi faktor penting bagi kesuksesan mereka. Jangan pernah remehkan pertemanan yang sudah terjalin belasan tahun karena suatu saat merekalah yang akan menolong dalam kesulitan. Demikian pula doa orang tua lebih manjur untuk memuluskan jalan daripada gepokan uang tanpa makna. Ingat, uang kalau sudah masuk kantong bakal lupa siapa yang memberi, tapi kalau doa atau dukungan kita pasti ingat sampai kapanpun.

Sumber: (1) dan (2)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x