Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Freelancer - Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Bangsa Kita (Belum) Siap Berkompetisi

23 April 2019   14:31 Diperbarui: 23 April 2019   23:23 401
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Deklarasi Kampanye Damai Pemilu Serentak 2019 di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (23/9/2018) | Foto: Kompas

Pemilu 2019, juga pemilu sebelum-sebelumnya, membuka lebar-lebar mata kita bahwa bangsa ini memang belum sepenuhnya siap untuk berdemokrasi, lebih tepatnya berkompetisi. Pihak yang (merasa) kalah akan selalu berusaha mencari cara untuk menang, demikian pula pihak yang (merasa) menang akan berusaha mempertahankan kemenangannya dengan cara apapun.

Ditilik dari pengalaman dan pengamatan saya, bangsa kita memang tidak terbiasa untuk berkompetisi dalam hal apapun. Kita hanya siap untuk menang tapi tak siap untuk kalah. 

Dari hal-hal kecil saja, misalnya tender, ujian sekolah, jabatan, sepakbola, atau apapun yang berbau kompetisi, bangsa ini termasuk kreatif untuk mencari kemenangan, mulai dari kongkalingkong tender, nyontek saat ujian, 'lelang' jabatan, suap dalam sepakbola. Apalagi dalam pemilihan presiden dan wakil rakyat, berbagai cara dilakukan untuk meraih kekuasaan tanpa peduli betapa besar pengorbanan rakyat dalam pemilu.

Bicara kultur, bangsa ini memang lebih mudah berkolaborasi daripada berkompetisi. Budaya gotong royong, tolong menolong masih lekat dalam masyarakat, walaupun dalam hal yang dilarang sekalipun seperti tender atau ujian sekolah. 

Jadi istilah arisan dalam keluarga atau komunitas tertentu untuk kumpul bareng berubah menjadi 'arisan' proyek alias tender agar semua pihak kebagian pekerjaan. Saat ujian sekolah, murid yang pintar memberikan contekan pada teman-temannya agar semuanya lulus.

Bangsa kita juga senang berkumpul, ngariung sambil ngupi, sampai ada pepatah "mangan ora mangan asal ngumpul lan ngupi". Sambil ngumpul kita biasa bergosip, membicarakan banyak hal dari kolaborasi sampai kompromi, dari ujung utara hingga selatan. 

Cobalah keliling kota malam-malam dari Aceh hingga Papua, kedai kopi nyaris selalu penuh manusia yang sedang berkumpul dengan komunitasnya dan jarang terlihat ada yang menyendiri, kecuali di kota-kota besar tertentu saja.

Di sisi lain bangsa kita gengsinya tinggi, menjadikan kata kalah sebagai 'aib' yang memalukan karena sejak kecil kita tak pernah diajarkan untuk kalah. Pantang bagi kita kalau sudah maju untuk kalah, jadi tak ada kamus kalah dalam hidup. Lebih baik mati duel ketimbang diinjak-injak harga dirinya oleh lawan yang menang. 

Seperti misal oknum guru ikut memberikan kunci jawaban agar sekolahnya bisa memperoleh akreditasi baik karena semua siswanya melampaui batas bawah UN. Tentu sebuah aib bagi sekolah apabila ada siswanya yang tidak lulus UN, walau sekarang UN tidak lagi menentukan kelulusan sekolah. Jual beli ijazah juga masih marak demi menaikkan gengsi walau sebenarnya tak layak memperolehnya.

Gengsi inilah yang membuat orang ramai-ramai mencalonkan diri menjadi anggota legislatif atau kepala desa. Merasa sudah kaya dan punya nama, tentu gengsi akan naik bila memiliki kuasa. 

Kekuasaan membuat dia mempunyai wewenang untuk mengatur orang lain di bawah telapak kakinya. Tak heran kalau banyak orang rela menghabiskan uang banyak demi membeli gengsi untuk berkuasa, bahkan di tingkat desa sekalipun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun