Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Sukarelawan Lintas Partai dan Beda Capres Berbasis Alumni

12 Februari 2019   08:54 Diperbarui: 13 Februari 2019   07:46 148 9 1
Sukarelawan Lintas Partai dan Beda Capres Berbasis Alumni
Bendera Lintas Partai (Sumber: pikiranmerdeka.co/istimewa)

Suatu kali saya diundang ke acara reuni para alumni sebuah SMP ternama di Jakarta tempat saya pernah menimba ilmu dulu. Saat acara, masing-masing bercerita tentang pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan sekarang ini, sekaligus juga keinginan dan harapan mereka masing-masing. 

Beragam profesi sudah mereka jalani, ada yang jadi polisi, ada yang menjadi dokter, juga profesional teknis lain, ada pula yang masih setia dengan ojolnya, dan yang paling menarik tentu ada yang tengah berkompetisi menjadi caleg.

Caleg satu ini terbilang istimewa (sebut saja Dhani, bukan nama sebenarnya), karena ketika mencalonkan diri melalui partai beringin ternyata dikompori oleh seorang teman (sebut saja Jaya, juga bukan nama sebenarnya) dari partai bintang mersi yang juga kebetulan hadir pada acara tersebut, serta teman lainnya (sebut saja Bule, idem) dari partai berlambang kepala garuda dibingkai segilima yang notabene justru merupakan pendukung capres lawan partai yang diusungnya. 

Jaya mulai membuka cerita bahwa dirinya sebagai salah satu pengurus teras partai bintang mersi ingin ada teman yang menjadi anggota dewan yang terhormat, karena selama ini nyaris belum ada satupun dari alumni SMP yang menjadi anggota dewan termasuk dirinya. 

Dia sendiri merupakan anggota klan keluarga yang turut menguasai dunia perpolitikan tanah air dan anggota keluarganya tersebar di beberapa partai. Lalu muncullah Dhani menawarkan diri, namun belum punya kendaraan partai yang hendak mengusungnya.

Gayung pun bersambut, Jaya bersama Bule langsung melakukan lobi sana sini, namun sayangnya di dalam partai mereka sendiri slotnya sudah penuh untuk dapil yang diinginkan. 

Akhirnya bertemulah mereka dengan salah satu pengurus partai beringin, ternyata masih ada satu slot walau ada di nomor buncit alias nomor sepatu. Dhanipun menyanggupi, gak papalah toh sekarang yang dihitung siapa yang paling banyak dicoblos, bukan lagi berdasarkan urut kacang.

Singkat cerita, akhirnya Dhani berhasil menjadi caleg nomor buntut alias paling bawah di dapil yang tergolong neraka di daerah Jabodetabek. Mulailah beliau turun gunung menyambangi calon konstituen, blusukan ke desa-desa yang ditengarai bermasalah seperti masalah tanah, kebon, harga pangan, pertanian, dan apa saja yang jadi masalah. 

Diharapkan si Dhani ini bisa membawa aspirasi mereka bila nanti terpilih menjadi anggota dewan. Gerilya pun dilakukan mereka bertiga tanpa kenal lelah, pagi sore siang malam warga disambangi.

Hasilnya orang-orangpun mulai mengenal beliau walau tanpa harus menyebar banyak baliho. Blusukan ke jantung pertahanan calon konstituen lebih bermakna ketimbang memasang poster-poster yang kadang melukai pohon tak berdosa. Masalah memilih atau tidak urusan nanti, yang penting warga semakin kenal dan dekat dengan beliau yang sebelumnya lebih banyak bekerja di belakang meja sehingga tak banyak tahu persoalan di lapangan.

Sukarelawan politik dari jalur alumni tampaknya lebih menjanjikan daripada partai, karena faktor ketulusan dan keikhlasan teman-teman untuk mendukung rekannya yang sedang berjuang di jalur politik. Justru dari dalam partai sendiri sulit memperoleh dukungan maksimal karena yang terjadi malah perebutan suara antar sesama caleg demi mendapatkan dukungan dari sukarelawan partainya sendiri. 

Persaingan ketat sesama caleg memperebutkan kursi di dewan membuat mereka lebih nyaman mencari sukarelawan dari unsur alumni, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi, bahkan sesama rekan kerjanya.

Uniknya lagi, walau berbeda partai bahkan dukungan capres, justru sebagai sesama alumni mereka malah saling mendukung. Tampak sekali Jaya dan Bule sampai belepotan lumpur demi menemani Dhani menembus sawah-sawah di petang hari untuk menyambangi warga yang mulai tersingkir oleh pembangunan perumahan baru oleh pengembang besar. Bagi Jaya dan Bule, yang penting ada rekannya yang bisa menyuarakan aspirasi mereka di dewan nanti, tak peduli apapun warna partainya.

Ini mungkin patut dicontoh oleh kita yang masih saja gontok-gontokan di medsos hanya karena berbeda pilihan capres. Saat ini sudah langka seorang sahabat, apalagi beda dukungan capres, bersedia untuk membantu rekannya yang ingin maju nyaleg. 

Justru banyak rekan kita yang senang melihat kita susah atau sebaliknya, padahal di era komunitas ini sudah seharusnya di antara anggota saling mendukung demi kemajuan bersama. Semoga contoh seperti ini dapat menjadi teladan dan ditiru oleh segenap netizen agar tidak lagi terjadi gontok-gontokan di medsos, apalagi di dunia nyata.