Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Ilmu Geologi, Penting di Saat Gempa namun Sering Diabaikan

8 Oktober 2018   17:47 Diperbarui: 8 Oktober 2018   19:30 2540 13 6
Ilmu Geologi, Penting di Saat Gempa namun Sering Diabaikan
Ilustrasi: www.aboutbdg.com

Saat memilih jurusan kuliah selepas SMA, sebagian besar dari kita pasti memilih ilmu-ilmu yang terkesan modern dan canggih seperti teknik informatika, teknik elektro, teknik mesin, teknik sipil, dan sejenisnya. Kuliah di jurusan tersebut memiliki gengsi lebih tinggi ketimbang jurusan (maaf) seperti teknik geologi, geofisika meteorologi, geografi, dan sejenisnya.

Ilmu geologi dianggap sebagai kembali ke masa lalu alias zaman batu seperti digambarkan pada film the Flinstone. Kalau boleh disurvei, kebanyakan mahasiswa geologi dan sejenisnya adalah pilihan kedua atau ketiga di SBMPTN ketimbang pilihan pertama.

Tidak ada yang salah dari pemikiran tersebut mengingat sekarang memang zamannya teknologi. Semua harus serba canggih dan terukur dengan dukungan alat-alat yang modern.

Namun kita sering lupa di mana tempat kita berpijak, apakah berada pada zona aman atau zona bencana. Boleh dikatakan ilmu geologi termasuk ilmu kuno dan kurang berkembang karena "hanya" sekedar meneliti bebatuan, kerak bumi, dan sejenisnya.

Padahal geologi (dan geofisika meteorologi) tidak sekedar mengubek-ubek isi kulit bumi saja, tapi juga memetakan pergerakan bumi beserta elemen yang ada baik di permukaan maupun di dalam perut bumi.

Contoh Peta Geologi (Sumber: fagustin.wordpress.com)
Contoh Peta Geologi (Sumber: fagustin.wordpress.com)
Kita baru menyadari pentingnya ilmu geologi ketika terjadi bencana. Padahal sudah banyak bertebaran peta-peta geologi yang berisi informasi tentang zona gunung api dan gempa atau dikenal sebagai ring of fire, zona sesar atau patahan, zona aquifer atau kumpulan air tanah, zona tanah subur, tanah bebatuan, tanah kering, dan sebagainya.

Sayangnya para pengambil kebijakan khususnya dalam penataan ruang sering mengabaikan peringatan yang tertera dalam peta-peta tersebut. Kita sering lupa bahwa perut bumi ini masih bergerak aktif, tidak diam sama sekali.

* * * *

Dalam penyusunan rencana penataan kota atau wilayah, kita mengenal istilah overlay atau pertampalan peta-peta tematik untuk menentukan mana ruang yang bisa digunakan untuk beraktivitas termasuk bertempat tinggal, ruang yang hanya dapat digunakan secara terbatas, atau malah ruang yang tidak bisa digunakan sama sekali alias harus dilindungi. Hasil dari overlay tersebut kemudian diberi warna sesuai dengan rencana peruntukan ruang dan zonasi penataan ruang di masa datang.

Namun dalam kenyataannya, perencanaan tata ruang kota sebagian besar menyerah kepada kondisi eksisting yang ada dan hanya sekedar penambahan infrastruktur atau penataan jaringan prasarana saja.

Selama ini penyusunan rencana kota tak lebih dari sekedar memberi warna pada ruang yang direncanakan, semisal warna kuning untuk perumahan, warna hijau untuk ruang terbuka hijau, warna biru tua untuk industri, warna biru muda untuk perdagangan, dan warna oranye atau merah untuk perkantoran. Setelah itu direncanakan pola ruang mengikuti warna-warna tersebut agar terintegrasi satu dengan lainnya.

Peta Likuifaksi Tahun 2012 (Sumber: Kompas.com)
Peta Likuifaksi Tahun 2012 (Sumber: Kompas.com)
Sayangnya, peta geologi yang memuat informasi mengenai batuan, jenis tanah, sesar, hingga potensi gempa kurang begitu diperhatikan dalam penyusunan rencana tata ruang.

Padahal justru informasi seperti inilah yang sebenarnya lebih diperlukan dalam menyusun rencana tata ruang ketimbang sekedar memberi warna warni pada peta. Kita kurang jeli memanfaatkan informasi tersebut sehingga begitu terjadi gempa atau bencana alam lainnya jatuh korban lebih besar karena tidak mengantisipasi dampak dari informasi geologi tersebut.

Dalam perencanaan tata ruang kota atau wilayah, peta geologi lebih sering dianggap sebagai pajangan yang melengkapi data sekunder dalam memberi warna zonasi ruang kota atau wilayah.

* * * *

Ketika sudah terjadi bencana gempa atau tsunami, barulah semua orang menyadari pentingnya ilmu geologi. Para ahli mulai mengeluarkan data-data dan informasi yang selama ini terabaikan walau sudah pernah diekspose di media setahun sebelumnya. Terlambat sudah, korban keburu berjatuhan dan lagi-lagi pemerintah beserta masyarakat harus kembali mengurus hajatan besar untuk menanggulangi dampak bencana gempa.

Infromasi Geologi yang Terabaikan (Sumber: Harian Kompas Mei 2017/WA Grup)
Infromasi Geologi yang Terabaikan (Sumber: Harian Kompas Mei 2017/WA Grup)
Kita tentu tak ingin kejadian seperti ini terus berulang karena "malasnya" belajar ilmu geologi dan menerapkannya dalam rencana tata ruang. Oleh karena itu perlu diberikan wawasan kepada calon lulusan SMA mengenai pentingnya ilmu geologi, serta kepada pimpinan daerah agar lebih tegas dalam mengatur zonasi ruang yang berpotensi rawan bencana.

Sektor perizinan juga perlu dibenahi dengan tidak sekedar memberikan izin tetapi juga meneliti sejauh mana bangunan tersebut menurut perhitungan bakal tahan terhadap guncangan gempa.