Dizzman
Dizzman pegawai negeri

Pengembara yang mengabdi pada negara. Sambil tour of duty tetap menyempatkan diri bertualang. Dari Sabang sampai Merauke, 34 Provinsi sudah terjelajahi. 10 Negara ASEAN pun sudah diarungi. Next trip ......

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Benteng Liya, Situs Sejarah Tersembunyi di Balik Eksotisme Wakatobi

29 Juni 2018   19:36 Diperbarui: 29 Juni 2018   20:02 646 2 0
Benteng Liya, Situs Sejarah Tersembunyi di Balik Eksotisme Wakatobi
Gerbang Masuk Benteng Liya Togo (Dokpri)

Wakatobi saat ini menjadi destinasi wisata bawah air yang eksotis dan masih relatif bersih, seperti Derawan atau Morotai. Kepulauan Wakatobi terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya di sebelah tenggara pulau Buton. 

Wakatobi Islands (Dokpri)
Wakatobi Islands (Dokpri)
Wakatobi sendiri merupakan singkatan dari empat pulau besar yang membentuk kepulauan tersebut yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. 

Baca juga: Segarnya Mandi di Pulau Seribu Mata Air

Dulu Wakatobi dikenal dengan sebutan Kepulauan Tukang Besi karena terkenal sebagai pembuat keris terbaik di wilayah Buton.

Papan Petunjuk Benteng Keraton Liya (Dokpri)
Papan Petunjuk Benteng Keraton Liya (Dokpri)
Di antara obyek wisata bahari yang tergabung dalam taman nasional Wakatobi, ternyata ada beberapa situs sejarah yang tersembunyi dan nyaris luput dari perhatian turis. Salah satunya adalah Benteng Liya Togo yang merupakan peninggalan Kerajaan Buton yang berjaya pada abad ke-15 hingga 18 Masehi.

Susunan Batu Pembentuk Benteng (Dokpri)
Susunan Batu Pembentuk Benteng (Dokpri)
Benteng ini letaknya agak tersembunyi karena berada di daerah yang tidak dilalui jalan utama di Pulau Wangi-Wangi. Lokasinya sekitar 10 km dari bandara Matahora, dan belok kiri di pertigaan arah ke kota.

Pintu Gerbang Lain Ditutup Spanduk Kampanye Pilkada (Dokpri)
Pintu Gerbang Lain Ditutup Spanduk Kampanye Pilkada (Dokpri)
Saya sendiri berkesempatan mengunjungi benteng tersebut saat sedang menunggu pesawat yang akan membawa saya pulang ke Jakarta via Makassar. Karena masih terlalu pagi di bandara, saya lobi petugas bandara untuk berkenan mengantar ke benteng tersebut.

Bagian Tersisa Benteng yang Mulai Rapuh (Dokpri)
Bagian Tersisa Benteng yang Mulai Rapuh (Dokpri)
Setelah memperoleh izin atasannya, sayapun dibonceng dia yang masih berseragam petugas bandara menuju benteng Liya Togo. Sekitar setengah jam kami tiba di kaki benteng karena jalannya relatif belum seluruhnya beraspal mulus.

Rumah Tua Penduduk di Luar Benteng (Dokpri)
Rumah Tua Penduduk di Luar Benteng (Dokpri)
Posisi benteng berada di puncak bukit dan tersembunyi di antara perkampungan warga di bawahnya. Lokasinya sangat strategis karena bisa memantau pergerakan kapal-kapal asing yang melintas di perairan Wakatobi pada zaman itu, sekaligus menjaga kontrol Kerajaan Buton atas Laut Banda yang berada di timur pulau.

Meriam Kuno Teronggok di Atas Benteng (Dokpri)
Meriam Kuno Teronggok di Atas Benteng (Dokpri)
Bentengnya sendiri berupa susunan batu-batu yang direkatkan dengan putih telur seperti yang ada di Bau-Bau hanya lebih pendek tingginya. Di setiap penjuru ada pintu masuk yang di atasnya terdapat panggung tempat penjaga. Di sekitarnya masih ada beberapa meriam kuno teronggik begitu saja tanpa perawatan.

Masjid Mubarok (Dokpri)
Masjid Mubarok (Dokpri)
Di dalam benteng terdapat lapangan luas. Di salah satu sudutnya terdapat masjid Mubarok yang konon sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu dan telah direnovasi seperti bentuknya sekarang ini. Di dekat masjid terdapat kompleks makam tua, diantaranya terdapat makam legenda Talo-Talo yang terkenal itu.

Makam Tua di Tengah Lapang (Dokpri)
Makam Tua di Tengah Lapang (Dokpri)
Hampir satu jam saya berkeliling benteng yang cukup luas ini. Sayangnya, seperti biasa, pengelolaan, perawatan, dan pemeliharaan masih minim dan kurang diperhatikan oleh pemerintah, padahal sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya nasional.

Lapangan Luas di Tengah Benteng (Dokpri)
Lapangan Luas di Tengah Benteng (Dokpri)
Karena sejam lagi boarding, sayapun segera meninggalkan benteng kembali ke bandara. Lucunya, saat masuk area pemeriksaan yang memeriksa ya yang memboncengkan saya tadi sehingga dia hanya tertawa ketika saya melewati alat pemindai.

Selamat jalan Wakatobi, sampai jumpa lain waktu. Terima kasih pada petugas yang telah mengantar saya jalan-jalan.