Mohon tunggu...
Diyah Kalyna
Diyah Kalyna Mohon Tunggu... Menulis itu berbicara kepada alam. Menceritakan keindahannya dan mengungkapkan rahasianya. Aku, kamu, menjadi kita.

Berasal dari Blitar, Jatim, pendidikan S1 di kota Solo, Jateng, dan sekarang domisili di Negara Brunei Darussalam. Sejak tahun 2015 bergabung dalam mediasi dan penanganan masalah tenaga kerja.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Berhenti Berharap [Part 4]

15 September 2019   10:29 Diperbarui: 18 September 2019   09:57 0 0 0 Mohon Tunggu...

Terdengar suara adzan dari masjid Bandar Seri Begawan. Aku meminta izin kepada pihak polis untuk menunaikan sholat Ashar. Meninggalkan parkiran kantor polisi, menuju masjid megah yang letaknya tidak terlalu jauh. Hanya memerlukan waktu lima menit, mobilku sudah terparkir di depan masjid Omar Ali Saifuddin, masjid yang menjadi kebanggaan warga setempat.

Masjid Omar Ali Saifuddin adalah salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. Masjid ini menjadi landmark dan tujuan wisata paling utama yang ditawarkan oleh negara ini.  

Gaya arsitek perpaduan antara Itali dan Mughal telah menjadikan masjid ini, wajib dikunjungi. Karena keindahan dan kemegahannya bisa disaksikan setiap mata yang memandang. Salah satunya aku, saat memandang kubahnya yang berkilauan dengan lapisan emas murni.

Setelah empat rokaat selesai, dilanjutkan dengan dzikir sebentar, ucapan tasbih, tahmid, dan takbir akhirnya ditutup dengan doa pendek. Memohon agar dipermudahkan segala urusan yang cukup berat yang harus diselesaikan hari ini.

Sebelum meninggalkan masjid, aku berpose sebentar di depan masjid untuk selfi. Tak berapa lama, terdengar bunyi pesan masuk di ponsel.

'Cantiknya istriku saat selfi, jangan lupa janjimu malam ini, untuk ngopi bareng pangeranmu'

Aku mengulum senyum, meskipun tubuhku sudah memutar empat penjuru di sekeliling, tidak menemukan sosok Adam. Kemudian dia mengirimkan fotoku yang sedang asik selfi.  Aku mengabaikan sosoknya entah berada di mana.

Aku berdamai dengan hati. Ketenangan yang diraih beberapa menit lalu, masih bersemayam di hati. Hingga tangan tergerak menuliskan pesan balasan.

'Insyaallah, aku akan datang'

'Sudah booking di meja nomer 2, ya'


'Terima kasih, Mas'

**
JANGAN AMBIL ANAKKU II

Aku didampingi dua polisi meninggalkan halaman parkiran menuju alamat rumah bu Ratna. Aku mengendarai mobil sendiri dan pihak polisi mengendarai mobilnya dengan simbol warna biru.

Tidak perlu waktu lama, kamipun sampai di sebuah alamat yang dituju. Sebuah rumah banglo yang tidak terlalu besar, berwarna hijau sudah terlihat di depan mata.

Kehadiran kami disambut oleh dua orang laki-laki bengis, menurut pandangan mataku. Rambutnya panjang, badan kekar, menggunakan asesoris gelang silver di sebelah pergelangan tangan kanannya. Menyambut kehadiran kami dengan muka merah padam, penuh amarah.

 "Siapa kamu semua! Untuk apa datang ke rumah ini!" Pertanyan dengan suara cukup lantang dilontarkan oleh salah satu dari mereka.

"Permisi tuan. Kami dari Lawyer yang didampingi oleh pihak Polis, bermaksud datang untuk bertemu dan berbicara kepada Bu Ratna."

"Ada urusan apa!" Laki-laki satunya lagi ikut membentak.

Aku menjelaskan kepada mereka jika kedatanganku untuk menjemput bu Ratna beserta bayinya. Karena mereka meminta bantuan untuk dijemput. Salah satu dari mereka masuk ke dalam rumah. Sedangkan kami disuruh menunggu di teras.

"Siapa yang melaporkan kasus ini ke polisi?"

"Saya."

"Hehh, kamu siapa! Beraninya kamu melaporkan kasus ini ke polisi."

"Saya Sarah. Saya mendapatkan tugas dari kantor lawyer untuk datang kemari."

"Lawyer?"

"Ya."

"Lalu siapa yang melaporkan kasus ini ke lawyer?"

"Orang ramai di luar sana."

"Siapa mereka?"

"Maaf, yang satu itu menjadi file pihak polisi dan juga kami. Untuk menjadi perhatian tuan, kami datang atas rasa kemanusiaan. Apalagi yang menyangkut perlindungan tentang tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak."

"Hahaha ... kamu pikir, aku takut sama kamu semua, Ha!"

Rumah bu Ratna sangat berdekatan dengan rumah tetangganya. Sehingga keributan dari anak tiri Bu Ratna yang menggema begitu keras, mengundang para tetangganya keluar rumah. Banyak mata memandang ke arah teras rumah ini.

"Hei, kamu semua. Masuk ke rumah masing-masing. Tidak perlu ikut campur urusan orang. Mengerti!"

Aku diam sambil melirik ke kanan dan kiri, yang berdiri diapit oleh dua polisi. Salah satu dari polisi berbisik. "Tetap cool puan. Jangan terpancing emosi. Puan aman bersama kami." Aku mengangguk sebagai tanda  memahami maksud bisikannya.

"Ehh, kamu! Dengarkan ya?"

Aku mengangguk sambil tersenyum, dan memberikan jempol sebagai tanda siap mendengar apa yang ingin disampikan olehnya.

"Ini sebenarnya masalah keluarga. Kamu semua hanya orang luar. Tidak perlu ikut campur urusan kami. Kami bisa selesaikan sendiri."

"Begini tuan, Apakah kami diizinkan untuk bertemu dengan bu Ratna? Kami ingin tahu kepastian kondisinya. Karena salah satu laporannya mengatakan jika Ibu Ratna telah dipukul, sehingga lebam biru dibagian lengannya."

"Ehh, jangan sok tahu ya?"

"Maaf tuan. Kami berhak untuk tahu. Untuk itulah kami membawa polisi ke sini, agar bisa melakukan tugasnya."

"Kamu mengancam kami ya?"

"Kami tidak bermaksud mengancam sama sekali. Tetapi kami mohon kerjasama dari pihak tuan dan juga keluarga tuan."

"Hahaha ... sudah terbukti mengancam, masih saja mengelak. Kamu pikir kami takut apa! Kami hanya takut dan patuh sama Raja kami saja. Kami tidak takut sama kamu semua. Bahkan membunuhpun kami tidak takut. Ini tanah kami, rumah kami." Lelaki bengis ini mendekati kami sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arahku dan juga dua polisi di sampingku.

"Puan Sarah!" tangannya bertepuk tangan berkali-kali. "Kamu foreign kan? Besar juga nyalimu. Ingat! Ini bukan negaramu! Mengerti!"

Dua polisi disampingku langsung memegang ke dua tangan lelaki ini, dan menarik beberapa langkah mundur. Karena jaraknya yang semakin dekat dengan tempatku berdiri.

"Lepaskan! Aku bukan kriminal! Ini rumahku jadi keluar dari rumah ini!"

Dalam waktu yang bersamaan seorang perempuan muda kira-kira berumur 25 tahun menggendong seorang bayi lucu. Sementara di belakang seorang ibu dengan wajah semrawut dan berlinar airmata, di di dorong keluar oleh laki-laki yang masuk kedalam rumah beberapa menit yang lalu.

Perempuan muda itu tersenyum manis kepadaku, lalu bicara dengan cukup elegan. "Saya sudah mendengar semuanya. Kalau kamu mau menjemput perempuan gila ini. Ambillah, tapi kami tidak akan memberikan bayi ini kepadamu, wahai perempuan gila harta!"

"Ini apa maksudnya puan?"

"Kamu belum pahamkah?"

"Ini wasiat ayah kami sebelum meninggal. Untuk melindungi adik kami yang bungsu. Ditangan dia perempuan sialan ini, pasti masa depannya tidak akan terjamin."

"Maaf puan. Apakah bayi ini masih minum susu ibunya?"

"Iya bu, betul dia malah nggak pernah berpisah dengan saya sekalipun selama ini." Bu Ratna membuka suaranya.

"Kamu, diam perempuan!" Bentak laki-laki di belakangnya.

"Meskipun kau polisi, meskipun kau lawyer. Kami tidak takut ya ... kami akan ambil hak kami."

"Bagaimana jika bayi ini kelaparan dan minta hak kepada ibunya?"

"Kami akan berikan, banyak susu formula di kedai yang dijual dengan kualitas terbaik."

"Maaf puan. Kita ini sama-sama perempuan. Apakah tidak ada rasa kasihan sedikitpun di hati puan, dengan memisakna ibu dan bayinya?"

"Dia saja tega memisahkan kami dari ayah kami. Kenapa kami nggak tega? Haaa ...."

"Baiklah, kami akan ambil bayi ini, denga jalur hukum. Kami sudah mencoba negosiasi kepada puan dan keluarga dengan baik-baik. Kami akan membawa Ibu Ratna bersama kami. Dan dua tuntutan akan kami lakukan, pertama pemukulan, dan kedua menuntuk anak kandung ibu Ratna kembali ke pangkuannya."

"Silahkan, kami tidak takut."

"Ingat satu hal yang saya sampaikan. Jika bayi itu kelaparan dan meminta susu ibunya, kemudian kamu tidak berikan sehingga menyebabkan dia hilang nyawa. Maka hukum negaramu dan juga hukum Allah pasti turun kepadamu dan juga keluargammu. Camkan itu!"

Aku memeluk bu Ratna yang terisak. Membisikkan jika anak kandungnya pasti akan kembali ke pangkuannya. Dia mengangguk sambil terus menangis tanpa suara.

Bu Ratna naik ke mobil, lalu kami meluncur ke kantor polisi. Pihak polisi meminta agar Bu Ratna diantar ke kantor polisi, karena  dia akan diambil keterangan lebih detail lagi untuk melengkapi file kasusnya.

"Puan Sarah, sebaiknya bu Ratna ditinggalkan saja. Karena setelah diambil keterangan, selanjutnya dia akan diantar ke rumah sakit Ripas untuk divisum."

"Baiklah tuan. Terima kasih atas kerja samanya."

**

Langit sudah gelap, menandakan malam sudah menjelang. Seperti janjiku, aku akan bertemu dengan Adam untuk pertama kalinya setelah menikah tiga bulan yang lalu. Meskipun selisih paham diantara kami belum selesai karena campur tangan ibunya.

Ada perasaan aneh yang hadir dan singgah di hatiku. Desiran yang tak biasa menyusup ke relung terdalam. Ahh, ini namanya apa? Apakah harapan yang telah kuhentikan ritmenya harus kusambungkan semula?

Perjalanan yang hanya memerlukan sepuluh menit, tiba-tiba serasa satu jam, untuk sampai ke kompleks bangunan Time square.

Aku duduk di meja nomer 2 yang sudah ada tanda received. Datang lebih awal 5 menit dari jam yang telah dijanjikan. Aku mendengar suara yang sangat kukenali dari belakangku.

"Hei Sarah! Sendirian aja."

"Ohh, Bos. Selamat malam."

"Boleh aku duduk?"

"Silahkan. Bos."

"Begini Sarah, aku hanya mau bilang sama kamu saja. Jika pihak Indonesian Embassy meminta agar Bu Ratna tinggal di sana. Tetapi Bu Ratna tidak bersedia. Coba nanti kamu pikirkan solusinya. Sudah aku order minuman dan makanan ya, bill juga sudah ku bayar. Bye!"

"Thanks Bos."

Setelah tuan Yusuf beredar, datanglah Adam dengan raut muka tak ceria, langsung duduk di sampingku. Belum sempat aku menyapa, panggilan dari counter sudah terdengar.

"Sebentar Mas."

Adam berdiri, lalu mengekori langkahku sampai ke counter, dan order makanan yang dipilihnya, sambil bertanya, "Siapa laki-laki tadi? Kok akrab banget?"

Bersambung ....

**
Diyah Kalyna
BSB, 15 September 2019

KONTEN MENARIK LAINNYA
x