Mohon tunggu...
Diyah Kalyna
Diyah Kalyna Mohon Tunggu... Menulis itu berbicara kepada alam. Menceritakan keindahannya dan mengungkapkan rahasianya. Aku, kamu, menjadi kita.

Berasal dari Blitar, Jatim, pendidikan S1 di kota Solo, Jateng, dan sekarang domisili di Negara Brunei Darussalam. Sejak tahun 2015 bergabung dalam mediasi dan penanganan masalah tenaga kerja.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Berhenti Berharap [Part 3]

9 September 2019   22:01 Diperbarui: 9 September 2019   22:14 0 1 0 Mohon Tunggu...
Berhenti Berharap [Part 3]
screenshot-20190909-231006-2-5d766cfd097f3628c27a9582.png

**
Papan tanda yang bertuliskan Balai Polis Bandar Seri Begawan, sudah terlihat di hadapan. Menekan signal ke kanan, berhenti sebentar hingga keadaan aman, Lalu berbelok ke kantor polisi, dan langsung menuju parkiran. Mobil Swift yang kukendarai kuparkirkan sejajar dengan mobil pengunjung yang lain.

Setelah melapor ke bagian resepsionis tentang maksud kedatanganku, aku dipersilahkan masuk ke ruang pengaduan.

"Selamat Siang, Tuan."

"Selamat Siang, Puan. Silahkan!"

"Kami dari Yusuf Haris Lawyer And Patners, ingin menyampaikan laporan dan meminta bantuan dari pihak Polis agar mendatangi sebuah rumah yang letaknya ada di Bandar, dan ini alamatnya."

"Baik, silahkan ceritakan kronologis masalahnya dengan lengkap."

"Menurut pihak pelapor yang tidak mau disebutkan namanya. Inilah rincian masalahnya." Aku menceritakan kronologis kisah seorang ibu yang sangat tragis dalam memperjuangkan haknya, yang berjudul 'Jangan Ambil Anakku', yang bersumber dari kiriman berita yang disampaikan oleh tuan Yusuf melalui whatsaap beberapa jam yang lalu.

JANGAN AMBIL ANAKKU

Seorang perempuan Indonesia, berasal dari suku Jawa, bernama Dewi Ratna, berumurr 38 tahun, telah menikah selama tiga tahun dengan seorang warga tempatan, sebagai istri ketiga.

Istri pertama sudah sakit stroke selama 5 tahun. Istri kedua sudah cerai 4 tahun yang lalu. Selanjutnya selama tiga tahun pernikahan, Bu Ratna baru dikaruniai seorang anak, yang sekarang berumur 5 bulan.

Selama tiga tahun ini, Bu Ratna menjaga anak dari istri kedua, dan menjaga suaminya yang umurnya sudah berkepala enam.

Sejak anaknya lahir lima bulan yang lalu, suaminya sudah mulai sakit-sakitan. Dia selalu merawat dengan baik di rumahnya sendiri. Tetapi tanpa sengaja suaminya jatuh di kamar mandi, dan dilarikan ke rumah sakit hingga ternyata suami Bu Ratna, dinyatakan sakit stroke dalam keadaan parah.

Bu Ratna memberitahukan kepada anak tirinya yang berjumlah tiga orang. Meminta bantuan mereka untuk bergantian menjaga suaminya yang sedang dirawat di rumah sakit. Karena tidak sepenuhnya mampu menjaganya di rumas sakit. Anaknya masih terlalu kecil, dan juga tanggung jawab moral yang harus dia emban yaitu menjaga anak dari istri kedua yang baru berumur 7 tahun.

Meskipun dengan kemarahan dan perasaan dendam membara antara ibu tiri dan ketiga anak tiri. Akhirnya Ketiga anak tiri tersebut mau menjaga ayah mereka. Hingga dirawat selama satu bulan di rumah sakit, sang ayah juga suami dinyatakan wafat.

Setelah jenazah suami Bu Ratna di makamkan. Dia mulai mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh dua anak tirinya yang bernama Adip dan Aiman. Mereka menuduh Bu Ratna, jika penyebab ayahnya meninggal karena Bu Ratna lalai dalam menjaganya. Sementara anak bungsu dari istri pertama tersebut selalu merampas Amira, dari gendongannya. Bayinya yang masih berumur lima bulan diambil secara paksa hingga menangis. Kemudian jika sang bayi sudah kelihatan lapar, baru mereka kasihan dan mengembalikan ke pelukan Bu Ratna.

"Bu Sarah." Panggil Bu Ratna kepada Sarah, dengan suara yang panik.

"Iya, Bu. Ini saya yang ditugaskan oleh Lawyer untuk menjemput Ibu."

 "Bu, boleh tolong cepat nggak Bu. Hari ini, saya benar-benar nggak kuat. Aku ingin segera keluar dari rumah almarhum suami saya."

"Sabar Bu. Ibu bertahan ya Bu. Insyaallah tak lama lagi saya akan sampai ke rumah Ibu."

"Benarkah Bu?"

"Benar Bu. Jangan khawatir. Saya sedang menuju ke Balai Polis Bandar Seri Begawan. Untuk minta bantuan agar bisa mendampingi saya datang ke rumah Ibu."

"Hahh, Ibu bawa Polisi?"

"Iya betul Bu. Saya tidak mau dituduh menceroboh masuk ke rumah orang."

"Jangan Bu. Nanti saya akan disiksa oleh anak tiri saya."

"Tenang Bu Ratna. Ibu sabar sebentar. Kami akan membantu masalah Ibu ya?

"Bu tolong ya Bu Sarah. Jangan lama-lama. Saya takut sekali Bu."

"Saya mohon Ibu tetap tenang ya?"

"Badan saya sudah banyak lebam dan membiru Bu. Ini Aisyah juga terus menerus menangis jika mendengar suara mereka membentak saya."

"Sabar ya Bu. Kami sedang mengusahakan agar Ibu segera dijemput."

"Tapi kumohon Bu. Jangan bawa-bawa polisi."

"Bu Dewi Ratna. Ibu harus tenang di situ, Jangan panik. Insyaallah masalah Ibu akan segera selesai."

"Bu, bagaimana seandainya Adip, Aiman serta adiknya Aida tetap bersepakat tidak akan melepaskan anakku pergi bersamaku Bu?"

"Bu Ratna. Justru itulah saya meminta bantuan kepada pihak polisi. Agar bisa membantu masalah ini, dan juga bisa melindungi saya saat proses penjemputan itu."

"Bu, nanti saya akan tinggal di mana setelah dijemput."

"Tenang Bu. Saya sudah menghubungi pihak perwakilan RI. Insyaallah mereka juga siap membantu masalah Ibu."

"Benar ya Bu. Tolong saya. Bantu saya. Anakku masih kecil dan masih tergantung dengan saya. Aku tidak mau dipisahkan dengan anak saya Aisyah."

"Baik. Ibu tenang dulu, dan Ibu harus bisa bertahan. Jika nanti sudah ada jawaban dari polisi saya akan menghubungi Ibu. Saya akan update lagi. Oke, Bu ya. Banyak berdoa semoga dipermudahkan semua urusan kita hari ini."

"Aamiin."

**

"Begitulah tuan kronologisnya."

"Baiklah. Laporan ini saya terima. Untuk selanjutnya saya akan melaporkan pihak atasan kami. Silahkan Puan Sarah menunggu di luar."

"Terima kasih Tuan.

Aku keluar ruang pengaduan dan duduk di ruang tunggu. Membuka ponsel untuk membaca beberapa pesan yang terkirim lewat whatsapp.  Salah satunya kembali lagi membuka pesan dari Adam, suamiku yang belum sempat terbaca.

Baru saja beberapa kalimat penyesalan yang penuh keharuan kubaca dalam ponsel. Tiba-tiba dering panggilan masuk terlihat dalam screen ponsel pribadiku. Aku abaikan panggilan tersebut karena bertuliskan nama Adam. Setelah panggilan yang ke lima, kuputuskan untuk menjawab.

"Dinda?"

"Jangan panggil aku Dinda, lagi!"

"Aku sayang kamu Dinda."

"Mas aku lagi kerja, lanjutin sana meetingnya."

"Lagi break kok." Suara kekehan terdengar dari seberang telepon.

"Kenapa nggak mau dipanggil Dinda lagi?"

"Jangan lama teleponnya, aku lagi di kantor polisi. Aku tak mau di cap curi tulang."

"Bentar aja, masak nggak boleh."

"Dengerin Mas. Aku udah baca pesanmu tadi. Jika Mas Mas Adam tetap panggil aku Dinda, aku nggak akan datang. Satu lagi, aku juga nggak mau panggil lagi Kanda. Biarlah semua natural terjadi. Hatiku rasanya sudah beku Mas."

"Ya udah sini aku cairin. Yuk Aku peluk."

"Ogah."

"Biar hangat."

"Mas!"

"Baiklah, aku ke sana saja, ya?"

" Jangan Mas. Please ... Aku lagi kerja. Aku tutup telepon sekarang, ya?"

"Tunggu ...."

"Apalagi sih, Mas?"

"Baiklah. Jika itu maumu. Sarah ... kamu harus datang ya?"

"Iya. Aku akan usahakan datang jika tidak ada halangan."

"Kalau nggak datang. Awas ya! Aku akan cari kamu kemanapun kau pergi."

"Lebay."

"Sarah ...."

"Udah aku mau tutup ponsel. Malu didengar Pak Polisi."

"Aku sayang kamu."

Klik!

Bersambung ....
**
Kota Kinabalu, Sabah
9 September 2019













KONTEN MENARIK LAINNYA
x