Diyah
Diyah Your Future Entrepreneur and Lecturer

Scholarship hunter | Pejuang Master ke Europe | Life is too sort, do more of what makes you happy

Selanjutnya

Tutup

Fiksiislami

Karena Ramadhan, Aku Mengenal Kata "Move On"

30 Mei 2018   22:15 Diperbarui: 30 Mei 2018   22:34 250 0 0
Karena Ramadhan, Aku Mengenal Kata "Move On"
sumber : pinterest.com

Ramadhan kali ini menjadi sangat berbeda, karena semuanya menjadi berubah akan hiruk pikuk dunia dan panasnya darah muda yang terus mengalir. Saat itu, sejak saya bertemu dengan seniorku yang baru pulang dari Jepang. Tepatnya setahun lalu, hampir empat tahun saya tidak menatap mata nya yang sangat tajam. Mungkin terlihat konyol, tapi ini benar -- benar asyik, ketika memendam rasa yang sudah begitu lama.

Sejak saat itu, iya sejak saat itu. Sejak semua berubah, sejak seniorku sudah mulai menjadi benar -- benar pria dewasa. Saat itu, aku mulai takut. Dulu, saat ketika kuliah, aku tidak menyadari apa rasa ini, hanya saja senang memandangi mata nya yang begitu tajam, pikiranya yang begitu luas, dan hatinya yang begitu lembut. Saya salut, dengan kesederhaanya walaupun saya hanya perempuan biasa, tidak berparas molek tetapi seniorku tetap baik.

sumber : pinterest.com
sumber : pinterest.com

Jujur saja, saya mulai takut sejak seniorku mulai menjadi dewasa, dan saya tahu seniorku sudah mapan. Saya begitu takut, jika saya tidak bisa melihat matany yang tajam dan pikirannya yang luas. Benar saja, sejak Ramadhan tahun lalu, takdir perpihak padaku. Seniorku mengajakku berpuka puasa denganku. Mungkin terlihat biasa- biasa olehnya. Tapi, tentangku ini menjadi luar biasa. Satu minggu, iya satu minggu aku menyiapkan semuanya dari baju, bahan pembicaraan, make up, sepatu untuk menarik seniorku. Dan, saat Ramdhan itu, aku mulai menyadari sejak 5 tahun aku telah jatuh hati pada seniorku.

Saat Ramadhan tahun lalu, saat itu aku telah sadar bahwa aku bukan mengagumi, bukan juga menyayangi nya lagi. Tapi, aku lebih dari itu semua. Perasaanku mulai egois, aku mulai mengakui bahwa aku jatuh cinta. Dan rasa itu mulai menjadikanku menjadi perempuan lain, yang seolah -- olah ingin memilikinya. 

Aku mulai tak bisa mengontrol perasaanku yang begitu dalam. Jujur saja, aku tidak suka dengan ke egoisanku. Begitu banyak terapi dari mengikuti club yoga, bahkan ke psikiater untuk menormalkan perasaanku. Seolah -- olah aku menjadi budak cinta. Aku tidak tahu, bahwa selama 26 tahun hidup di dunia ini, baru kali ini aku merasakan sensasi atas cinta. Iyah, aku adalah wanita biasa yang belum pernah merasakan pacaran.

Sejak Ramadhan itu, tepatnya tahun lalu. Tak sadar, bahwa ini menjadi pertemuan yang terakhir dengan seniorku. Aku senang, karena seniorku meraih apa yang di impikan. Dia akan bekerja di menjadi dosen di Italia. Jujur saja, perasaan senangku terkalahkan dengan perasaan takutku. Iyah benar, aku mulai egois. Rasa ingin memilikinya, semakin kuat. Sampai 7 bulan sejak dia meninggalkan aku sendiri berjuang akan mimpi -- mimpiku sendiri disini. Sejak saat itu, dunia ku semakin gelap dan aku semakin egois.

Seniorku mulai berbeda, dia mulai jarang membalas chat singkatku, apalagi mengangkat telpon dariku. Aku perlahan memahami siapa aku, dan apa posisiku. Tapi, rasaku ini tidak bisa padam, dan hatiku terus meneriakkan untuk memilikinya. Aku mulai menjadi perempuan yang murung, tertutup. Sampai pada akhirnya, aku mulai bertemu dengan kawan lamaku, dan menceritakan semua kegalauanku. Dan mereka mulai memintaku untuk berterus terang tentang rasaku.

Benar, sejak saat itu, tepat 7 bulan setelah dia menjadi dosen di italia. Aku mulai sadar, aku harus usaha. Benar saja, aku mulai berterus terang tentang rasaku. Aku berharap, sangat berharap akan jawabanya. Hanya jawaban dari mulut sucinya, jawaban iya atau tidak. Tapi, sejak pesan itu terkirim dan sampai sekarang. Dia, seperti angina di malam hari yang dingin tapi penuh rasa. Seniorku tidak menjawab pesanku. Lantas, aku harus bagaimana?

sumber : pinterest.com
sumber : pinterest.com
Benar, rasaku mulai kuat. Aku bahkan setiap hari melihat chat personal dengannya, dan melihat foto -- foto kedekatan bersama. Aku mulai berdoa personal kepada Rabku tentang takdir kita. Benar saja, setelah 2 bulan aku menunggu, aku chat personal kembali. Ternyata, seniorku sakit. Dan, seniorku mulai membuka percakapan personal yang dulu pernah kita jalin. Tapi, sayangnya seniorku tidak menanggapi chat tentang rasaku.

Baiklah, aku harus sabar. Akan tetapi, tepat satu bulan sebelum Ramadhan tahun ini. Aku mendapati seniorku foto mesra dengan perempuan lain, dan mengejutkannya seniorku mulai mengumumkan di media sosialnya. Saat itu juga, aku tidak tahu harus bagaimana? Penantianku yang hampir 6 tahun. Do'a -- do'aku selama ini aku panjatkan, agar kita memiliki takdir bersama. Tapi, aku mulai paham akan konsep takdir. Aku mulai paham, bahwa ada rasa yang paling berhak, iya rasa ini untuk suamiku kelak.

Tepat satu bulan sejak kejadian itu, saat Ramadhan ini, aku mulai menata semuanya. Hidupku dan perasaanku. Aku benar -- benar ingin melepaskan tentangnya. Rasa cinta ini yang begitu mendalam harus di sudahi. Hidup ini tidak harus tentangnya. Akupun, harus focus akan mimpi -- mimpiku yang tertunda. Baiklah, Ramadhan ini tahun ini aku harus focus untuk bisa kuliah S2 di Eropa atau di Amerika. Jalan satu -- satunya untuk bisa move on adalah menjadi pikiran terus sibuk.