Analisis

Pendekatan Teoritis Komunikasi Internasional Terhadap Perkembangan Globalisasi

9 Oktober 2018   01:14 Diperbarui: 9 Oktober 2018   12:17 351 0 0

Globalisasi merupakan hal yang sangat sering kita dengar dan lihat. Kata globalisasi sendiri berasal dari serapan bahasa asing yaitu bahasa Inggris globalization. Kata globalization sebenarnya berasal dari kata global yang berarti universal yang mendapat imbuhan lization yang bisa dimaknai sebagai proses. Jika dilihat dari asalnya, globalisasi bisa diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur baru baik berupa informasi, pemikiran, gaya hidup maupun teknologi secara mendunia. 

Perlu kita diketahui bahwa globalisasi berkembang seiring dengan muncul kemajuan dibidang teknologi. Perkembangan teknologi dari waktu kewaktu tidak mampu dicegah dan dibatasi, seiring dengan perkembangannya secara perlahan globalisasi telah merubah pola relasi antaraktor dalam sebuah hubungan internasional. Namun hal itu juga berdampak terhadap hubungan komunikasi antar satu negara ke negara lain.

Bersamaan dengan itu negara negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk meningkatkan hubungan internasional terutama dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Pada era ini, internasionalisme lebih menekankan peran sebuah negara, sehingga terkadang menjadi penghambat bagi negara namun disatu sisi hal ini menjadi sebuah perhatian khusus bagi masyarakat sehingga menguatkan peran masyarakat internasional untuk peduli terhadap negara. 

Pada dasarnya globalisasi mampu memajukan suatu negara namun juga mampu melemahkan suatu negara, oleh karena itu jika masyarakat mampu menguasi komunikasi internasional maka secara tidak langsung masyarakat telah berpartisipasi memajukan negara tersebut ataupun sebaliknya.

Pertama, kita membahas teori free flow of informations dilatar belakangi oleh negara berkembang yang belum mau untuk membuka informasi mengenai negara luar sehingga  menjadi keterbelakangan bagi negara berkembang pada saat itu. Pada dasarnya teori ini mejelaskan tentang pasar bebas dan liberal yang diperjuangakan oleh pemilik media untuk mendapatkan hak-hak dalam menjual maupun membagikan informasi secara bebas kepada masayarakat sekitar maupun masyarakat luar negeri. Pada saat itu negara barat menganut kapitalisme sehingga untuk membagikan informasi keluar negeri tidak terdapat di pasar global.

Teori kedua, yaitu teori modernisasi yang terjadi pasca perang dunia dimana pada saat itu komunikasi massa internasional digunakan untuk menyebarkan model ekonomi dan politik yang modern kepada negara selatan yang baru merdeka, pada teori ini dikenal istilah "negara ketiga" untuk negara-negara pinggiran. Ketiga, teori dependensi, teori ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada tahun 1960 dan 1970an. 

Teori ini menganalisis tentang komunikasi internasional mengenai pembangunan untuk negara-negara berkembang yang dapat diperkuat oleh negara maju dengan menggunakan sistem ketergantungan. Perlu diketahui bahwa negara berkembang seperti Indonesia belum mampu berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari negara maju terutama dalam bidang teknologi. Seperti hal nya satelit, dimana negara Indonesia belum mampu membuat satelit sendiri sehingga masih membutuhkan negara lain.

Sehingga hal ini memunculkan simbiosis mutualisme dimana masing-masing negara saling membutuhkan untuk kepentingan ekonomi maupun politik. Keempat, teori imperialisme merupakan teori yang mengecam adanya dominasi dari negara maju terhadap negara berkembang. Tujuan dari teori ini adalah keterlambatan yang dialami oleh negara ketiga untuk dapat menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan internasional dari negara maju. 

Hal ini berhubungan dengan konsep hegemoni karena media yang dapat bertindak secara bebas dalam mempublikasikan informasi tetapi masih berada dibawah wawasan pemerintah. Konsep hegemoni merupakan mengkonseptualisasikan fungsi politik media massa sebagai kunci dalam menyebarkan maupun mempertahankan ideologi sebuah negara atau kemampuan negara maju untuk menguasai negara berkembang.

Kesimpulannya, antara negara satu dengan negara yang lain memiliki ketergantungan dalam bidang apapun. Sebuah negara tidak mampu berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari negara lain. Pada dasarnya sesuatu hal pasti meghasilkan nilai postif dan nilai negatif, dari ketergantungan antar negara dapat diambil nilai postif yaitu menambah wawasan akan pengetahuan tentang negara lain sedangkan nilai negatifnya ialah semankin banyaknya bermunculnya perusahaan asing yang menaruh investasi lebih tinggi dinegara berkembang.