Mohon tunggu...
Milisi Nasional
Milisi Nasional Mohon Tunggu...
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Akun twitter @milisinasional adalah reinkarnasi baru dari akun twitter @distriknasional yang jadi korban totalitarianisme firaun anti kritik.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mencari "Lelananging Jagad" Melalui Debat Presiden

21 Januari 2019   17:58 Diperbarui: 21 Januari 2019   18:04 0 1 1 Mohon Tunggu...

Sumbangan Tulisan Oleh:

 Harryadin Mahardika

Ekonom Millenials

Sejarah mencatat bagaimana peradaban-peradaban hebat memilih pemimpinnya. Romawi, Persia, dan Mongol misalnya, mensyaratkan pemimpin yang tidak hanya mahir berpolitik saja, tapi juga harus ahli siasat perang, ahli beladiri dan punya kekuatan fisik terhebat dibanding semua laki-laki di angkatan perangnya.

Peradaban hebat lainnya, seperti kekhalifahan Muslim awal, bahkan menambahkan kualitas pemimpin yang lebih sulit lagi, yaitu mereka haruslah laki-laki paling alim dan paling matang ilmu agamanya. Benchmark-nya juga ditetapkan luar biasa tinggi, yaitu Nabi Muhammad SAW, yang punya kualitas sangat lengkap. Beliau pengusaha sukses, ahli beladiri gulat, ahli memanah, ahli berkuda, ahli negosiasi, ahli hukum, ahli siasat, dan dipilih Allah untuk menyampaikan panduan hidup bagi seluruh umat manusia.

Hasilnya, peradaban-peradaban tersebut menjadi adikuasa dunia di zamannya masing-masing. Dan itu diraih dibawah para pemimpin yang punya kualitas lengkap tadi. Orang Jawa punya terminologi khusus untuk sosok seperti itu: LELANANGING JAGAD. Artinya lelaki yang tidak ada tandingannya, hebat di semua bidang, memimpin dengan tindakan dan teladan.

Para lelananging jagad ini terpilih karena seleksi alam dan seleksi politik yang ketat. Peradaban mereka secara turun-temurun merancang proses seleksi tersebut agar yang muncul sebagai pemenang adalah individu terbaik.

Keteladanan pemimpin di masa lalu ditunjukkan dengan tindakan yang nyata. Dua pertiga kaisar Romawi mati di medan pertempuran. Mereka maju paling depan di front paling berbahaya. Rasulullah terluka terkena panah di perang Uhud. Shalahuddin Al Ayyubi berhadapan langsung dengan Richard the Lionheart di medan laga. Sedangkan Kaisar Jepang Tokihito gugur dalam perang laut di Dannoura.

Di masa itu, pemimpin yang penakut akan ditinggalkan rakyatnya atau digulingkan oleh orang lain yang lebih kuat.

Hal ini terus dilanjutkan di masa modern. Keluarga kerajaan Inggris sampai hari ini masih mewajibkan para pangerannya untuk ikut bertempur bersama pasukan terdepan. Terakhir, Pangeran Andrew hampir gugur di perang Malvinas ketika helikopter yang dipilotinya ditugaskan menjadi decoy untuk menipu rudal exocet Argentina yang menargetkan kapal induk Inggris.

Di Amerika Serikat, 26 dari 44 presidennya adalah veteran perang. Beberapa diantaranya bahkan mendapatkan medali penghargaan atas keberanian mereka di medan tempur. 18 orang lainnya yang bukan veteran perang umumnya punya track record hebat sebagai aktivis pembela kepentingan rakyat di bidang hukum, ekonomi, lingkungan hidup dan sosial. Sebelum menjadi presiden, mereka ikut turun berdemo dan berjibaku memperbaiki sistem yang tidak pro-rakyat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2