Mohon tunggu...
Dismas Kwirinus
Dismas Kwirinus Mohon Tunggu... -Laetus sum laudari me abs te, a laudato viro-

Tumbuh sebagai seorang anak petani yang sederhana, aku mulai menggantungkan mimpi untuk bisa membaca buku sebanyak mungkin. Dari hobi membaca inilah, lalu tumbuh kegemaran menulis.

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas Pilihan

Durasi sebagai Kebebasan, Cara Manusia Menghadirkan Diri di Tengah Kekinian?

25 Januari 2021   11:32 Diperbarui: 25 Januari 2021   11:42 139 58 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Durasi sebagai Kebebasan, Cara Manusia Menghadirkan Diri di Tengah Kekinian?
sumber: tirto.id

 

Akhir-akhir ini, persoalan manusia yang muncul adalah Covid-19, kekuasaan, perang, kelaparan, kemiskinan, pembunuhan, terorisme, aborsi, korupsi dan sebagiannya. Persoalan-persoalan itu sungguh nyata terjadi sampai sekarang. Orang hanya berpikir ke depan dan melupakan masa lalu, sehingga persoalan menumpuk. Dengan demikian, persoalan masa depan adalah kehancuran dari kekinian bila gerakan tidak sesuai dengan fungsinya.

Artikel kali ini akan mengulas seputar pemikiran Henri Louis Bergson tentang 'Durasi sebagai Kebebasan'. Henri Louis Bergson atau dikenal dengan Henri Bergson adalah seorang filosof Prancis yang lahir pada tanggal 18 Oktober 1859 di Paris. Pandangannya tentang durasi sebagai kebebasan bertitik tolak dari penjelasan mengenai relasi sebab-akibat dalam waktu mekanis. Jika waktu mekanis bersifat eksternal yang saling berurutan, maka terbuka ruang untuk memprediksi apa yang akan terjadi dengan bertitik tolak dari apa yang telah berlangsung.

Kemungkinan itu disebabkan ada keidentikan antara yang terdahulu dan yang kemudian. Jadi, sesuatu yang diprediksi seperti fenomena lingkungan, misalnya ada asap berarti ada api atau cuaca, misalnya awan gelap berarti akan turun hujan.

Kenyataan bahwa waktu mekanis tidak mungkin diterapkan pada kesadaran. Karena dalam waktu mekanis, subjek hadir begitu saja dan aktivitasnya tetap sama tidak berubah, kecuali bergerak pada posisi yang semula. Waktu mekanis identik dan dapat diprediksi. Dengan demikain, kehadiran subjek sebagai kesatuan dalam kekinian merupakan kebebasan yang berasal dari pribadi manusia.

Kebebasan merupakan kesadaran bebas untuk melakukan segala sesuatu. Kebebasan membuat manusia bebas untuk memilih dan menilai segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan keputusan.

Menurut Bergson, kebebasan yang demikian tidak ada, yang ada kebebasan yang berdasarkan intuisi (Valentinus, 2012:4).

Dalam kebebasan intuisi terdapat nilai-nilai yang berpengaruh pada pengalaman manusia di masa lalu. Karena itu, manusia yang berkontak secara langsung merupakan kesatuan dari keunikan yang berasal dari masa lalu. Subjek tidak dapat diperdiksi dan sulit di tebak, jika mengalami durasi sebagai kebebasan personal. Waktu itu terus berkembang, sehingga manusia setiap saat terus berubah dan bebas.

Kenyataan bahwa aku adalah kesatuan kekinian menandakan bahwa "kita bebas ketika perbuatan kita memancar dari seluruh personalitas, manakala mengungkapkannya" (Valentinus, 2012:4).

Tindakan manusia mengalir dan bergantung dari keseluruhan dirinya, karakter, jati diri atau dari rangkaian masa lalu yang membentuknya menjadi seperti saat ini. Jadi, kebebasan individu ditandai oleh jalinan perbuatan yang selaras dengan seluruh personalitas manusia.

Kebebasan individu menuntut kesadaran bagaimana manusia menghadirkan diri di tengah kekinainnya. Kehadiran manusia saat ini merupakan bagian dari kesadarannya di masa lalu. Tindakan manusia dapat menimbulkan dorongan-dorongan yang berbeda-beda dari kehadirannya. Secara mekanis dapat diprediksi, tetapi dilihat dari kesadaran manusia pada waktu sekarang sulit ditebak, karena waktu terus berjalan.

Jika tindakan manusia mengalir dari dorongan yang dangkal, maka tidak ada kebebasan. Semakin subjek hidup dalam permukaan diri, ia semakin serupa dengan benda dan hewan, serta perbuatannya semakin dapat diprediksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN