Mohon tunggu...
Dismas Kwirinus
Dismas Kwirinus Mohon Tunggu... -Laetus sum laudari me abs te, a laudato viro-

Namaku Dismas Kwirinus. Aku lahir di Desa Tapang Semadak, Kec. Sekadau Hilir, Kab. Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Tumbuh sebagai seorang anak petani yang sederhana, aku mulai menggantungkan mimpi untuk bisa membaca buku sebanyak mungkin. Dari hobi membaca inilah, lalu tumbuh kegemaran menulis.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ruang Eksistensi Manusia Politis Arendtian

5 Desember 2020   07:43 Diperbarui: 5 Desember 2020   07:59 115 3 0 Mohon Tunggu...

Pemilihan umum kepala daerah yang diwacanakan akan diselenggarakan pada Desember 2020 sudah tidak lama lagi. Di berbagai daerah sudah melakukan persiapan dengan sangat matang. Berbagai sosialisasi terkait pemilihan umum di tengah masa pandemi telah dilakukan. Pemerintah sangat berharap agar masyarakat turut serta juga dalam menyukseskan pemilihan umum yang damai dan beradab. Pemilihan umum yang damai dan beradab juga tak luput dari kerja sama dengan para pasangan calon kepala daerah. Kepala daerah yang mencalonkan diri diharapkan tidak melakukan 'kampanye secara diam-diam'. Artinya, perbuatan apa yang dibalik yang tidak kelihatan -- 'terselubung'. Karena waktu kampanye telah diberikan dengan sangat panjang. Diharapkan masa-masa tenang digunakan untuk menciptakan suasana pemilu yang kondusif dan bebas dari kekacauan.

Para pasangan calon kepala daerah telah diberikan kesempatan untuk menyampaikan visi dan misi mereka di ruang publik. Tampak bahwa para pasangan calon ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat dan daerah yang hendak mereka pimpin. Itu terlihat dari visi dan misi yang mereka sampaikan pada saat kampanye di ruang publik.

Terkait tentang pemilu dan ruang publik, dalam tulisan ini saya hendak mengulas ruang publik atau ruang eksistensi manusia politis dalam perspektif Hannah Arendt. Hanna Arendt adalah seorang filosof perempuan yang lahir pada tahun 1906 di Hanover. Gagasan pemikirannya tentang politik dan ruang publik dapat ditemukan dalam karyanya berjudul The Human Condition.

Arendt menegaskan bahwa manusia menciptakan ruang yang mampu mengakomodasi dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Ditegaskan bahwa untuk dirinya dan hubungannya dengan orang lain memaksudkan ruang itu dibedakan. Ruang untuk diri sendiri adalah ruang privat, sementara itu ruang untuk hubungan atau relasi dengan orang lain adalah ruang publik.

Hanna Arendt menegaskan bahwa ruang publik dibangun dari aktualisasi yang diciptakan oleh individu-individu berupa tindakan dan ucapan. Melalui tindakan dan ucapan, keberagaman membentuk ruang di antara mereka yang bisa ada 'tanpa hal atau materi yang menjadi pengantara'. Dalam ruang publik orang bisa saja mengungkapkan atau menyampaikan visi dan misinya secara bebas. Bebas dalam arti bahwa apa yang mereka sampaikan itu dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Dalam karyanya The Human Condition Arendt mengungkapkan bahwa kata publik memiliki dua hal yang sangat berhubungan, tapi bukan fenomena yang identik secara bersamaan. Pertama, kata ini menyingkapkan suatu yang dapat didengar dan dilihat oleh semua orang dan memiliki kemungkinan publisitas yang sangat luas. Luas berarti dapat menjangkau semua kalangan. Dalam artian sebagai ruang penyingkapan -- penampakan, ruang publik merupakan ruang di mana aku sebagai manusia dikenal sebagai manusia oleh the other karena aku 'berada di antara manusia. Dalam karya ini ia mengungkapkan demikian karena 'segala sesuatu yang kelihatan di publik dapat didengar dan dilihat oleh siapa pun dan berpeluang untuk terpublikasikan seluas-luasnya. Misalnya kampanye yang disiarakn lewat stasiun televisi atau lewat media cetak seperti koran atau majalah. Apalagi di masa ini orang dengan mudah mengakses publikasi kampanye lewat media sosial. Hal ini membuka peluang ruang publik semakin luas, bisa diakses siapa saja tanpa mengenal usia dan status.

Kedua, kata ini (raung publik) mengungkapkan dunia sendiri, sejauh yang pantas untuk kita semua dan dibedakan dari kita di dalamnya. Dunia ini dalam artian dunia bersama tempat di mana manusia saling memahami, saling berbagi, saling mendengarkan dan saling melihat di sekitar keberadaanya. Selain itu, ruang ini merupakan ruang yang berada di antara (inter-est), yang menghubungakan berbagai kepentingan (interest) manusia-manusia yang duduk mengelilinginya, saling mendengarkan dan saling memandang. Mislanya dalam kampanye yang dilakukan di daerah-daerah kita dapat melihat banyak orang berbondong-bondong datang ke suatu tempat yang telah ditetapkan. Di tempat itu orang saling memandang, menatap, melihat dan mendengar tentang apa yang hendak disampaikan oleh calon pemimpin atau dialog di antara para peserta kampanye. Namun, di masa pandemi ini hal yang serupa tidaklah gampang dilakukan, tapi kampanye virtual masih dapat dilaksanakan. Dalam ruang ini pun (ruang virtual) orang masih dapat berbagi, berdialog dan memahami.

Ruang publik dimengerti juga sebagai raung yang menciptakan kekuasaan, yakni kapasitas untuk melakukan sesuatu bersama demi tujuan politik publik. Kekuasaan ini hadir sebagai produk tindakan karena ia tercetus dari tindakan keberagaman. Hal ini disinyalir karena adanya dialog dalam kebebasan.

Selanjutnya, ruang publik diberi arti sebagai tempat untuk penilaian-penilaian atas argumen-argumen atau pendapat-pendapat publik. Inilah yang kemudian mencetuskan kemampuan berpikir dan memahami secara representatif, yaitu kemampuan berpikir dan memahami dari perspektif orang lain. Tentunya tipe pemimpin yang representatif inilah yang kita harapkan. Pemimpin yang demikian tentu tidak menginginkan kekuasaan untuk dirinya sendiri, tetapi ia juga memikirkan hidup orang lain. Hidup orang yang akan dipimpinnya dan kesejahteraan daerahnya untuk kepentingan bersama.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x