Mohon tunggu...
Dwi Prawira Kusuma
Dwi Prawira Kusuma Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Departemen Teknik Kelautan ITS Angkatan 2020

-

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Oseanografi Geologi dalam Tsunami Banyuwangi 1994

7 Desember 2021   10:43 Diperbarui: 7 Desember 2021   10:55 100 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Pada tanggal 3 Juni 1994, sebuah gempa berkekuatan 7,2 skala Richter mengguncang pesisir selatan Pulau Jawa, tepatnya di selatan Kabupaten Banyuwangi atau arah barat daya Pulau Bali. 

Gempa yang terjadi pada kedalaman 15 km tersebut menghasilkan tsuanmi besar yang menerjang pantai selatan Kabupaten Banyuwangi, terutama daerah Kecamatan Pesanggaran. 

Setidaknya terdapat 200 korban jiwa, 400 terluka, dan lebih dari 1.000 rumah rusak akibat tsunami ini. Ketinggian tsunami sendiri diperkirakan mencapai 14 meter (Synolakis, et al., 1995).

Tsunami yang sangat tidak biasa ini sebenarnya tercipta sejauh 250 km dari area terdampak yang paling parah. Hal yang mengejutkan adalah tidak adanya gempa besar yang umumnya digunakan sebagai penanda oleh penduduk setempat, mengakibatkan penduduk tidak dapat mengantisipasi adanya bencana yang akan datang. 

Karakteristik gempa sendiri yang dirasakan oleh penduduk terhitung jauh lebih lemah daripada gempa yang sesungguhnya, hanya berkisar lebih kurang 5,5 skala Richter yang diikuti dengan pergerakan seismik monoton selama lebih kurang 270 detik. 

Daerah terdampak paling parah adalah desa-desa yang terletak di dekat pantai, seperti di Lampon, Rajegwesi, dan Pancer. Pulau Merah, salah satu lokasi pariwisata yang sangat terkenal di Banyuwangi saat ini, juga terdampak sangat parah.

Sebuah penelitian terbaru dilakukan untuk mencari penyebab terjadinya tsunami Banyuwangi 1994 yang tidak biasa tersebut. Peneliti asal Jerman menyebutkan teori terkait adanya struktur busur bawah laut di laut selatan Jawa yang memiliki pemgaruh terhadap terjadinya tsunami tersebut. 

Disebutkan bahwa subduksi seamount terjadi yang mana mengakibatkan pengangkatan plat tektonik akibat adanya pemendekan lateral dan penebalan vertikal. Lokasi terjadinya subduksi seamount ini sangat dekat dengan hiposenter gempa bumi Banyuwangi 1994 yang mengakibatkan terjadinya tsunami (Xia, et al., 2021).

Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa melalui adanya pemrosesan ulang multikanal terhadap gambaran cerminan seismik dengan pemadatan lantai bawah laut dan kombinasi kecepatan refleksi dan refraksi topografi bawah laut, menunjukkan adanya subduksi seamount pada kedalaman dangkal (2-8 km di bawah lantai samudra) yang berbentuk seperti palung pada area terjadinya gempa Banyuwangi 1994. 

Pemendekan lateral dan penebalan vertikal pada bagian atas lempeng mengontrol terjadinya kenaikan tinggi busur, dapat dilihat pada gerakan aktif maju-mundur sepanjang sesar patahan di atas kerak busur kepulauan.

Pada Tsunami Banyuwangi 1994, gempa utamanya mengguncang hiposenter dan co-seismic slip patch yang terletak di depan bagian subduksi seamount yang dangkal. Apa yang terjadi pada co-seismic slip patch ini adalah bukti bahwa seamount menjadi suatu penghalang seismik dalam gempa tsunami Banyuwangi 1994.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan