Jakarta

Pendidikan Dikorbankan Demi Hindari Macet Saat Asian Games

14 Maret 2018   11:01 Diperbarui: 14 Maret 2018   11:08 571 16 8
Pendidikan Dikorbankan Demi Hindari Macet Saat Asian Games
tribunnews.com

"Jakarta kota termacet keduabelas di dunia" begitulah headline disurat kabar kompas.com, Februari lalu. Jakarta dinilai semakin macet sejak kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Beberapa kebijakan yang dibuat oleh Anies-Sandi malah membuat Jakarta semakin macet, ya sebut saja kebijakan yang memperbolehkan motor masuk ke Jalan Sudirman-Thamrin atau kebijakan pelegalan PKL untuk berjualan di jalan Jati Baru sehingga jalan tersebut ditutup "khusus" untuk PKL. Namun Anies terlihat "acuh" dan tidak memikirkan hal tersebut. Ia menganggap masalah kemacetan bukanlah prioritas bagi Jakarta (Kompas.com).

Dalam mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah bagi perhelatan Asian Games 2018, permasalahan kemacetan tentu menjadi kekhwatiran tersendiri. Apalagi target jarak tempuh atlet dari wisma ke venue pertandingan selama 30 menit hingga kini belum tercapai (Tempo.co). Menanggapi hal ini, Anies membuat rencana yang akan meliburkan anak sekolah selama asian games berlangsung. Sekitar 20 harian. Anies berdalih bahwa anak sekolah yang libur bukanlah semata-mata libur, namun hal ini termasuk dalam penugasan sekolah, sama halnya saat terjadinya bencana. Ia juga mengakui bahwa rencana ini meski sudah disetujui menpora, namun masih membutuhkan peninjauan lebih lanjut (Detik.com).

Terkait hal ini, Analis Kebijakan Transportasi dari Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) menilai hal ini tidak efektif untuk mengurangi kemacetan Jakarta. Anak sekolah sendiri menggunakan angkutan sekolah yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Mungkin hanya sekitar 14 % dalam menyumbang kemacetan Jakarta. Yang menjadi masalah kemacetan adalah tingginya penggunaan kendaraan pribadi sehingga perlu dilakukan beberapa rekayasa lalu lintas hingga menaikkan tarif parkir seperti yang dilakukan Cina saat olimpiade dan itu efektif (Tirto.id).

Dari hal ini yang sangat disayangkan adalah sikap anies yang menempatkan pendidikan sebagai sebuah penyebab kemacetan. Meliburkan siswa selama 20 hari tentu akan memberikan banyak penurunan dalam kualitas pembelajaran. Belajar di sekolah dengan fasilitas yang lengkap saja belum bisa menjamin keberhasilan pembelajaran, apalagi jika belajar dirumah. Dengan sikap yang ditunjukkan seperti ini, sangat wajar jika Anies dulu dipecat dari jabatannya sebagai menteri pendidikan. Bahkan saat menjadi Gubernur pun, Ia tidak bisa menempatkan pendidikan sebagai sebuah prioritas. Padahal pendidikan adalah tolak ukur dari kemajuan sebuah bangsa, dan tentu saja bukan penyebab kemacetan