Mohon tunggu...
Dion Kassel
Dion Kassel Mohon Tunggu... Mengabdikan diri jadi tenaga pendidik di daerah perbatasan.

Seseorang yang sedang belajar menulis tentang banyak hal, silahkan colek saya di twitter @YusufDionisius, IG @ichbindion, dan FB Dionisio Jusuf

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Hari Ketujuh Karantina di Wisma Atlet: Haru! Kisah Perjuangan Tiga Perawat Perangi Covid-19

13 Agustus 2020   06:00 Diperbarui: 13 Agustus 2020   19:18 1345 22 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hari Ketujuh Karantina di Wisma Atlet: Haru! Kisah Perjuangan Tiga Perawat Perangi Covid-19
Ners Silvia, Duma dan Toni (dok pribadi)

Tujuh hari sudah saya berada di Wisma Atlet. Waktu terasa begitu panjang untuk dilalui. Tidak banyak kegiatan yang dapat dilakukan disini. Sesudah berolahraga dan berjemur, seluruh pasien akan kembali ke kamarnya masing-masing. 

Para pasien baru akan berjumpa satu dengan yang lainnya ketika ada pesan di whatsapp grup yang memberitahukan bahwa makan pagi, siang atau malam sudah siap.

Ketika asyik berselancar di dunia maya, terdengar bunyi di hp yang menandakan ada pesan masuk. “Assalamualaikum, selamat siang bapak/ibu. Merapat ke poli yuk untuk ambil makan siang sambil ditensi dan ambil obat“, itulah pesan singkat yang muncul di whatsapp grup pasien lantai 18. 

Pesan hangat seperti itu selalu hadir menyapa kami (pasien Covid-19) baik di kala pagi, siang maupun malam hari.

Siang ini, saya tidak bergegas menuju poli. Saya menunggu sejenak di kamar tidur. Sekitar setengah jam sesudahnya, saya baru menuju ruang poli. Terlihat hanya dua pasien yang masih mengantri ketika saya sampai di poli. 

Saya sengaja datang terakhir karena siang ini saya memiliki janji dengan perawat (baca ners) Toni untuk mengobrol, dan ini baru bisa dilakukan setelah dia menyelesaikan tugasnya.

Toni baru saja menyelesaikan tugasnya memeriksa tensi dan memberikan obat kepada pasien ketika saya menyapanya.  

“Saya ingin membantu ekonomi keluarga. Kondisi keuangan keluarga kami sedang tidak baik. Sebagai anak pertama saya terpanggil untuk meringankan beban keluarga. Adik saya dua, yang satu masih kuliah dan satunya lagi masih sekolah. Mereka masih membutuhkan banyak biaya,“ tutur Toni yang berasal dari Jakarta kepada saya ketika ditanyakan mengapa dia tertarik bekerja di Wisma Atlet.

Lebih lanjut, Toni menceritakan bahwa sebelum dia bergabung di Wisma Atlet, dia bekerja di Klinik Astra Pulogadung sebagai ners kontrak.

Setelah kontrak kerjanya berakhir, Toni lalu mencari pekerjaan lain, tetapi hasilnya nihil. 

“Saya hampir putus asa mencari pekerjaan. Hingga suatu hari, saya membaca status whatsapp temen yang menginfokan bahwa Kemenkes lagi mencari ners untuk ditempatkan di Wisma Atlet. Lalu saya mengirim lamaran via WA. Dua hari kemudian saya dihubungi oleh Kemenkes untuk datang ke Wisma Atlet untuk menjalani tes,” cerita Toni tentang bagaimana dia dapat memperoleh pekerjaan sebagai ners di Wisma Atlet.

Selain alasan ekonomi, Toni yang menyelesaikan pendidikannya di Akademi Keperawatan Harum Jakarta menyatakan bahwa rasa kemanusiaan juga melatarbelakangi mengapa dia mau bergabung di Wisma Atlet. “Saya terpanggil untuk membantu karena mendengar info terbatasnya tenaga ners di Wisma Atlet, sedangkan pasien yang harus ditangani semakin banyak.“

Ia menuturkan bahwa sejak diberlakukannya era kenormalan atau new normal, jumlah pasien yang dirawat di Wisma Atlet semakin banyak. 

“Per hari ini pasien yang dirawat di lantai 18 mencapai 47 orang. Sekarang, setiap ruangan pasti ditempati oleh dua orang. Dulu sebelum berlakunya new normal, jumlah pasien tidak sebanyak itu,“ papar Toni yang bertekad akan terus berkerja di Wisma Atlet selama tenaganya masih diperlukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x