Mohon tunggu...
Dina N. A Muaz
Dina N. A Muaz Mohon Tunggu... Guru - Menulis adalah candu walau terkadang terhalang typo.

Pecinta hujan namun tidak suka kehujanan Seseorang yang sedang belajar merangkai aksara dan mengabadikannya di media

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

(RTC) Dipaksa Menjadi Pahlawan

7 November 2021   20:04 Diperbarui: 8 November 2021   10:53 137 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dok. Rumah Pena Inspirasi Sahabat

"Punggung mereka masih terlalu kecil untuk dijadikan tulang punggung keluarga, kata pahlawan kehidupan memang pantas di sandang untuk anak-anak di bawah umur yang bekerja banting tulang untuk kehidupan, keaadan memaksa mereka untuk menjadi pahlawan menaklukan kejamnya dunia"

Akhir tahun 2019 Dunia digemparkan  kasus pandemic Covid-19 yang mewabah di Wuhan. Wabah tersebut menjamur ke belahan dunia hingga menjadi pandemi. 

Peristiwa tersebut secara cepat merubah tantanan kehidupan masyarakat di segala bidang , baik di bidang ekonomi, sosial maupun pendidikan. Berbagai kebijakan di ambil untuk mencegah rantai penyebaran virus Covid 19. 

Seperti kebijakan pendidikan yang memberlakukanya BDR/ Belajar dari rumah, Kebijakan untuk bekerja melalui rumah dan kebikan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Secara perlahan namun pasti pandemi  meluluh lantahkan sebagain perekonomian rakyat. Penghasilan yang semakin menipis, tabungan yang kian berkurang, bahkan kehilangan pekerjaan hal seperti itulah yang dirasakan sebagian masyarakat. Hal ini berdampak kian banyaknya anak-anak yang turut serta menanggung beban keluarga. 

Menrut Undang-undang (UU 23/2002 dan UU 35/2014), anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Sementara, menurut Konvensi PBB mengenai Hak Anak, anak adaalh semua orang yang berusia dibawah 18 tahun.  

Notabennya anak tidak berkewajiban turut serta dalam beban ekonomi keluarga. Anak berhak sepenuhnya mendapatkan hak-haknya bukan malah di paksa oleh keaadaan menjadi pahlawan keluarga.

Pandemi  Covid 19 menyuguhkan pemandangan bertambahnya pekerja anak  yang berkeliaran di jalan. Ada yang menjadi pedagang asongan, pengamen, pengemis dan lain sebagainya. 

Atas dasar berbakti dengan orang tua, dia rela berjuang bergelut dengan asap kendaraan, terkadang kulitnya terbakar panasmya matahari, tubuhnya kedinginnan terguyur derasnya hujan.

Walau lelah tapi tak memadamkan semangat mereka untuk mencari nafkah berharap lembaran -lembaran rupiah terkumpul agar bisa di bawa pulang kerumah. Melihat seorang anak usia anak SD sedang berjuang mencari  recehan rupiah sedikit menyat hati saya. 

Tulang punggung mereka masih terlalu muda untuk ikut menjadi tulang punggung keluarga. Jelas terlihat di mata saya seorang lelaki dengan badan yang masih kuat mengantar anak tersebut dengan kendaraan bermotor dan meninggalkan anak tersebut berjualan di pinggir jalan, tentunya saya tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dengan melihat hal ini saja, tidak mungkin saja berasumsi negative kepada bapak itu. walaupun pikiran negatif tentang bapak itu masih berkeliaran di kepala saya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan