Mohon tunggu...
Dina Mardiana
Dina Mardiana Mohon Tunggu... Penulis dan penerjemah, saat ini tinggal di Prancis untuk bekerja

Suka menulis dan nonton film, main piano dan biola

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Mencapai Peringkat Kedua Terbaik di ASEAN, Keselamatan Keamanan Penerbangan di Indonesia Bukan Lagi Mimpi

12 April 2018   22:30 Diperbarui: 9 Mei 2018   13:18 0 3 2 Mohon Tunggu...
Mencapai Peringkat Kedua Terbaik di ASEAN, Keselamatan Keamanan Penerbangan di Indonesia Bukan Lagi Mimpi
Saat-saat paling krusial dalam menerbangkan pesawat justru adalah saat lepas landas dan hendak mendarat. (foto: pexels)

Keselamatan keamanan penerbangan sangat penting untuk kita perhatikan. Belum berapa lama saya mendengar seorang kawan yang akan berangkat ke Lisbon dalam rangka tugas menjadi staf lokal di KBRI, dibatalkan tiket keberangkatannya karena alasan teknis. Untungnya ini tidak ada kaitannya dengan kerusakan pesawat atau masalah di luar kendali maskapai (sering disebut force majeure), melainkan kelalaian dari pihak agen itu sendiri.

Ada lagi cerita kawan saya lainnya yang penerbangannya dibatalkan, lagi-lagi oleh maskapai yang sama. Alasannya waktu itu, kalau saya dengar dari penjelasannya sih, karena memang force majeure, karena mendadak ada terpaan sekawanan burung yang masuk ke mesin baling-baling pesawat. Daripada membahayakan penumpang karena pesawat jadi tidak bisa beroperasi dengan maksimal, mendingan memang dibatalkan saja, tho? Mumpung masih di darat.

sekawanan burung yang masuk ke dalam mesin pesawat juga dapat membahayakan penerbangan karena bisa menyebabkan mesin mati. (foto: quora)
sekawanan burung yang masuk ke dalam mesin pesawat juga dapat membahayakan penerbangan karena bisa menyebabkan mesin mati. (foto: quora)
Meskipun agak aneh sih, karena kalau pesawat masih di darat kan berarti mesin belum menyala, dan terpaan kawanan burung itu biasanya terjadi saat pesawat sudah mengudara. Yah, mungkin saya tidak mendengar lengkap penjelasannya. Lagi-lagi, keselamatan keamanan penerbangan menjadi sangat penting agar pesawat sampai dengan selamat di tempat tujuan, termasuk para awak pesawat dan penumpang.

Untungnya lagi, (layaknya orang Jawa yang menganggap di antara hal paling buruk sekalipun pasti ada sedikit untungnya :p), kelalaian seperti ini terjadi pada pesawat komersil asing yang sayangnya akhir-akhir ini reputasinya memang sedang menurun.

Namun sebaliknya, maskapai-maskapai milik Republik Indonesia tercinta tampaknya semakin meroket namanya terutama dari segi kualitas dan mutu. Setidaknya, menurut Bapak Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI, DR. Ir. Agus Santoso, M.Sc., saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-55 dari 191 negara Asia Pasifik anggota International Civil Aviation Organization (disingkat ICAO) yang telah diaudit, dan keselamatan penerbangan menduduki peringkat ke-2 di antara negara-negara anggota ASEAN setelah Singapura.

Capaian Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (sumber: majalah Aviasi)
Capaian Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (sumber: majalah Aviasi)
Jika dilihat dari persentasenya, maka angka ini telah meningkat dari 45,53% pada tahun 2014, menjadi 81% pada tahun 2017. Bahkan, Pak Agus mengatakan bahwa Indonesia berambisi menembus angka 81% untuk standar Global Aviation Safety Plan pada bulan Oktober tahun ini.

Penilaian atas keselamatan keamanan penerbangan yang dilakukan ICAO ini meliputi delapan elemen, yaitu legislasi (LEG), organisasi (ORG), lisensi personil (PEL), kelayakan udara (AIR), operasional (OPS), navigasi udara (ANS), investigasi maskapai (AIG0, dan aerodrome (AGA).

Nilai tertinggi diperoleh Indonesia untuk elemen air worthiness atau kelayakan udara, yaitu sebesar 91%. Fakta ini tentunya dapat meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia, khususnya dari segi dunia penerbangan.

Hasil audit yang dilakukan ICAO. (sumber: majalah Aviasi)
Hasil audit yang dilakukan ICAO. (sumber: majalah Aviasi)
Meskipun begitu, republik kesayangan kita ini masih punya banyak pekerjaan rumah terkait keselamatan keamanan penerbangan. Seperti mengurangi faktor kecelakaan-kecelakaan kecil penerbangan yang terjadi di Papua dan menambah fasilitas-fasilitas bandara di Indonesia bagian timur.

Oleh karena itu, sebagai salah satu komitmen dari Nawacita yang dicanangkan Presiden Jokowi, pemerintah menggelontorkan dana APBN hingga hampir 2 trilyun rupiah untuk pengembangan infrastruktur transportasi udara di Papua.

Bapak Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub RI menjelaskan bahwa pengembangan infrastruktur transportasi udara saat ini difokuskan pada daerah-daerah di Indonesia Timur. (foto: dokpri)
Bapak Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub RI menjelaskan bahwa pengembangan infrastruktur transportasi udara saat ini difokuskan pada daerah-daerah di Indonesia Timur. (foto: dokpri)
Selain itu, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengembangkan bandara-bandara yang potensial secara ekonomi di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Makassar. Semua upaya ini dilakukan demi menunjang konektivitas Indonesia, yaitu kemudahan mengakses pulau-pulau dan daerah-daerah yang terpencil di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2