Mohon tunggu...
Dina Mardiana
Dina Mardiana Mohon Tunggu... Penulis dan penerjemah, saat ini tinggal di Prancis untuk bekerja

Suka menulis dan nonton film, main piano dan biola

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

KPK Gerebek: Ada Thai Street Food di Thai Alley

6 Maret 2016   21:39 Diperbarui: 7 Maret 2016   14:54 948 8 9 Mohon Tunggu...

Kalau beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menyaksikan budaya Thailand melalui film-filmnya (lihat artikel: Nobar Senior dan Nobar Love H2O), kali ini saya mendapat suguhan budaya negeri gajah putih ini melalui kulinernya bersama Kompasiana Penggila Kuliner, disingkat KPK, dalam acara KPK Gerebek di restoran Thai Alley, hari Sabtu tanggal 5 Maret 2016 yang lalu di Pacific Place, Jakarta Selatan. 

Sebenarnya kuliner Thailand tidak begitu asing buat saya, meskipun jarang juga mengkonsumsinya karena perut saya yang mudah bergejolak setiap kali makan pedas, he he… . Lucunya saya mengenal kuliner Thailand pertama kali justru ketika saya bertandang ke Myanmar jaman sekitar empat belas tahun yang lalu (wah sudah tua sekali saya ya :D) dan disuguhi berbagai kuliner Myanmar yang kata orang-orang yang menikmatinya sangat mirip dengan makanan Thailand.

Selain karena dari letak geografis kedua negeri ini sangat berdekatan, menu yang dihidangkan pun kebanyakan jenis seafood, seperti ikan-ikan yang masih segar, cumi, dan… ganggang laut yang okee banget rasanya. Saya jadi suka sekali sama berbagai jenis kuliner yang disuguhi selama di Myanmar tersebut, karena seafood yang dihidangkan selalu masih segar seolah baru nangkep dari laut, dan meskipun iwak laut tapi nggak kerasa sama sekali amisnya. Nah begitu menyicipi hidangan serupa di Indonesia namun tidak segar dan terasa amis, saya jadinya jarang-jarang deh pilih menu yang ada citarasa Thailand-nya, palingan juga iwak bakar atau goreng, ha ha…

[caption caption="Konsep Thai Street Food di Thai Alley: meja kursi dari kayu, tiang dan kabel listrik, dan gerobak (foto: dok.pribadi)"][/caption]Konsep Thai Street Food

Nah, kembali ke acara KPK yang dipandu oleh marketing eksekutif resto Thai Alley, mba Ambar Arum, saya baru ngeh bahwa resto-resto Thailand yang di Jakarta ini rata-rata berkonsep fine dining; sedangkan Thai Alley mengusung konsep street food-nya jajanan kuliner Thailand.  Lah saya memang jarang main ke resto bernuansa Thai sih, paling juga kalau misalnya lagi jalan bareng teman saya, yang memang gandrung sama kultur Thailand sampai-sampai ke makanannya, biasanya dia pesan sup Tom Yam di mana pun ada food court atau resto fusion yang menyediakan menu tersebut. 

Mbak Ambar pun menjelaskannya dengan memperlihatkan beberapa foto resto Thai Alley yang ada di Gandaria City, Puri Indah Mall serta Summarecon Mal Serpong. Mba Ambar juga menunjukkan tiang-tiang kabel, tempat duduk, meja bernuansa kayu, gerobak yang menjadi dekor restoran, jendela bohong-bohongan bak jendela rumah orang yang berwarna hijau pucat, cat dinding dan langit-langit yang cenderung coklat gelap, yang katanya menggambarkan suasana jajanan pinggir jalan seperti di Bangkok. Rencananya tahun depan akan dibuka outlet baru Thai Alley di Mal Kelapa Gading.

[caption caption="NuansaThai Street Food juga diterapkan pada bagian dalam resto Thai Alley dengan meja dan kursi kayu serta nuansa warna coklat temaram (foto: dok.pribadi)"]

[/caption]Yang menarik perhatian saya di restoran ini sejak saya tiba adalah dipajangnya beberapa patung gajah dan kepala Budha. Ternyata pajangan patung-patung itu adalah properti untuk beribadah, dan posisinya nggak boleh digeser. Memang sih saya sering mendengar masyarakat Thailand, selain sayang dan patuh banget sama rajanya, mereka juga adalah masyarakat yang masih sangat relijius. Salut, deh!

[caption caption="Sentuhan Relijius di Thai Alley dengan patung gajah dan kepala Budha: tidak boleh digeser-geser! (foto: dok.pribadi)"]

[/caption]Kembali ke makanan, menciptakan konsep Thai street food juga bukan tanpa alasan, karena sang pemilik resto Thai Alley, menurut mba Ambar suka banget travelling, termasuk salah satunya ke Bangkok. Nah, saking senang dengan jajanan a la Thai, sang owner pun ingin membuat sebuah resto Thai yang modelnya casual, dengan tetap mengusung the real taste of Thai street food. Maka didirikanlah resto Thai Alley untuk pertama kalinya di Jakarta pada tahun 2012, dengan head chef-nya diimpor dari Thailand langsung, begitu pula dengan bahan-bahan dasarnya. 

Bedanya, kalau kata salah satu Kompasianer, mba Yayat yang ternyata sudah sering mondar-mandir ke Thailand, jajanan pinggir jalan di sana tuh banyak makanan ‘ekstrim’ sampai-sampai serangga-serangga yang ‘nggak banget’ juga turut diolah seperti kalajengking, kecoa (hiiiiy…), buaya; kalau di Thai Alley untungnya tidak ada, he he he… karena mba Ambar bilang menu Thai Alley sudah disesuaikan dengan selera orang Indonesia. Kecuali rasa khasnya yang pedas dan asam tetap dijaga, melihat rata-rata orang Indonesia pun juga menyukai makanan yang bercitarasa asam-asam pedas. Pastinya, standarisasi rasa sudah dijamin oleh sang chef di seluruh cabang resto Thai Alley sehingga tidak ada makanan yang menunya sama namun rasanya berbeda. 

Mengenai kehalalannya, mba Ambar menjamin semua menu yang tersedia di Thai Alley bisa dimakan umat muslim, alias halal. Ibu Yayat juga mengatakan, di Thailand sendiri masih bisa dengan mudah dijumpai makanan halal karena banyak juga pemeluk Islam di negeri tersebut.

[caption caption="Para chef Thai Alley yang dibawa langsung dari Thailand (foto: dok.pribadi)"]

[/caption]Menu-Menu Unggulan Thai Alley

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x