Mohon tunggu...
Dina Mardiana
Dina Mardiana Mohon Tunggu... Penulis dan penerjemah, saat ini tinggal di Prancis untuk bekerja

Suka menulis dan nonton film, main piano dan biola

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Menilik Kehidupan Penyandang Tuna Netra Melalui Film Jingga

21 Februari 2016   14:19 Diperbarui: 21 Februari 2016   14:53 329 2 0 Mohon Tunggu...

[caption caption="Judul: Jingga; Sutradara: Lola Amaria; Pemain: Hifzane Bob (Jingga), Qausary Hy (Marun), Hany Valery (Nila), Aufa Assegaf (Magenta); Durasi: 102 menit; Tanggal rilis di Indonesia: 25 Februari 2016"][/caption]Kalau biasanya saya suka deg-degan nonton film-filmnya Lola Amaria (karena terkadang suka agak nyeleneh), kali ini saya merasa aman, bahkan cenderung mellow, ha ha ha. Memang benar, film-film karya Lola Amaria selalu berisi tentang perjuangan hak-hak kaum marjinal, namun kali ini kaum marjinal yang diangkat adalah para remaja penyandang tuna netra dalam sebuah film drama berjudul “Jingga”.

Film ini mengisahkan seorang pemuda remaja bernama Surya Jingga yang tumbuh besar dalam sebuah keluarga kecil dengan ayah ibu dan seorang adik perempuan di kota Bandung. Meskipun hidup berkecukupan (digambarkan dalam film rumahnya yang bernuansa rumah kuno zaman Belanda, dengan sebuah mobil sedan untuk satu keluarga, dan seekor anjing Beagle yang lucu), namun kedua orangtuanya, terutama ayahnya, tipikal orangtua-orangtua yang agak kolot karena agak sulit menerima kenyataan bahwa Jingga mengidap low-vision, yaitu ketidakmampuan mata untuk melihat dengan jelas selain gambar-gambar yang kabur. Sang ibu sebenarnya sudah menyadari kekurangan Jingga sejak ia berusia tujuh bulan, tetapi ayahnya selalu menyangkal dan menganggap penyakit ini akan hilang dengan sendirinya seiring ia tumbuh dewasa, sehingga kekurangan pada matanya ini tidak pernah dirawat dengan baik.

Jingga, Nila, Magenta, Marun: Penyandang Tunet yang Memberi Semangat

Hingga pada suatu hari, entah kenapa Jingga dihajar oleh teman satu sekolahnya, yang kelihatannya suka nge-bully anak-anak yang lemah, yang menyebabkan Jingga akhirnya buta total. Meskipun sang ayah tetap menyangkal pada awalnya bahwa anaknya baik-baik saja, akhirnya hatinya luluh setelah mengetahui Jingga berusaha bunuh diri sampai dibawa ke rumah sakit. Hiiy, njengkelin juga yah, saudara-saudara. Inilah yang membuat saya mellow, karena seolah sedang bercermin dengan kehidupan sendiri dengan keluarga dan orangtua seperti orangtuanya Jingga. Sampai-sampai penonton di sebelah saya heran koq belum-belum saya sudah berlinangan air mata saja, ha ha ha…

[caption caption="salah satu adegan dalam film Jingga: persahabatan sejati antara Jingga, Nila, Magenta, Marun (foto: bintang.com)"]

[/caption]

Sejak peristiwa itu, Jingga dipindahkan ke SLB A, dan justru di sanalah Jingga menemukan kehidupan baru yang mengasyikkan. Dari sinilah kisah Jingga sebagai remaja penyandang tuna netra yang penuh semangat dimulai: teman-teman sesama penyandang tuna netra yang sama-sama suka main alat musik, serta kisah cinta dan persahabatan baru dengan Nila, Magenta, Marun. Nah, kehidupan sebagai penyandang tuna netra pun banyak keseruannya, tidak hanya duka, melainkan juga rasa penuh suka cita.

Kalau dukanya diceritakan penyebab Nila, Magenta, Marun menjadi buta melalui berbagai kesempatan yang terpisah. Namun, ketiga anak ini bukannya bersedih hati, melainkan menjadi pemberi semangat bagi keluarganya. Kalau saya yang dengerinnya sih, berduka, he he.. bagaimana nggak sedih sih kalau penyebab Marun buta karena ia dan satu keluarganya meminum air dekat lingkungan tempat tinggalnya yang tercemar limbah pabrik? Atau Nila yang menjadi buta sejak lahir karena ibunya ketika mengandung Nila terserang virus Rubella dan Toksoplasma? Tapi keduanya malah yang menyemangati Jingga seraya berkata, “Aku tahu kalau kamu bersedih dari nada suaramu.” Begitu juga dengan Magenta Matulessy asal tanah Maluku, yang dibesarkan satu asrama dengan Marun, ditinggal orangtuanya karena tidak mau menerima kenyataan dirinya buta.

Suka citanya? Banyak. Bagaimana mereka saling bercanda dengan menghabiskan waktu bersama di dalam kelas, di halaman sekolah, di studio musik, naik angkot bersama-sama. Wah, jangan dikira mentang-mentang penyandang tunet, singkatan dari tuna netra, jadi sedih melulu. Justru kita yang harus berkaca pada semangat mereka. Termasuk semangat mereka membentuk grup band dan membuat album rekaman untuk diikutkan dalam sebuah lomba. Kira-kira berhasil nggak, ya?

Film Tentang Keluarga & Persahabatan Yang Layak Tonton

Nah, kata Lola Amaria, film ini akan dirilis di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia mulai tanggal 25 Februari 2016. Yang menarik, saya pikir para pemain keempat remaja di film ini merupakan penyandang cacat betulan. Ternyata, di akhir film, Lola membawa ketiga orang pemain baru tersebut (salah satunya, Aufa Assegaf pemeran Magenta tidak hadir), semuanya bisa melihat alias nggak buta. Wess… saya salut deh sama mereka berempat ini, karena walaupun ini film debut buat mereka (kecuali Aufa Assegaf yang pernah bermain di Cahaya dari Timur, dan Qausar Harta Yudana yang juga main di Sang Pencerah), akting mereka sebagai penyandang tunet patut diacungi lima jempol! Apalagi peran sebagai Nila dengan mata yang terus berputar-putar di sepanjang film, apa enggak lelah ya? Belum juga emosi yang harus dibangun oleh masing-masing pemain kalau lagi marah atau sedih, wah salut deh! Marah-marah tapi nggak bisa melihat tuh rasanya gimana ya, he he…

[caption caption="Lola Amaria beserta para pemain film Jingga: Keren-keren yah! (foto: bintang.com)"]

[/caption]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x