Mohon tunggu...
Dina Finiel Habeahan
Dina Finiel Habeahan Mohon Tunggu... be do the best

BE A BROTHER FOR ALL

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ketika Orientasi Perut Lebih Besar daripada Orientasi Otak

19 Maret 2021   22:08 Diperbarui: 19 Maret 2021   22:24 145 20 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ketika Orientasi Perut Lebih Besar daripada Orientasi Otak
Pexels.com

Setelah Satu minggu menjalani semester enam,mulai terasa apa yang menjadi tuntutan tugas akhir. Setiap dosen dengan gampang mengirimkan daftar buku-buku yang harus dicari sebagai refrensi untuk menyiapkan tugas akhir. 

Menurut saya adalah hal yang wajar ketika buku menjadi yang utama dalam kegiatan belajar. Karena dengan adanya buku,saya akan terbantu untuk memahami apa yang kupelajari.

Dua hari yang lalu,saya dan teman-teman sepakat untuk pergi mencari dan membeli buku itu ke titi gantung. Titi gantung adalah salah satu tempat penjualan buku mulai dari yang murah sampai yang mahal. 

Alasan pertama kami memilih tempat ini adalah kesanggupan isi dompet masing-masing. Namanya mahasiswa kan harus hemat sedikit. Mahasiswa itu biasanya mau rasa bintang lima tapi harga kaki lima.Hehehe

Setibanya di Titi gantung kami mulai mencari-cari daftar buku yang telah kami bawa. Syukur kepada Tuhan setengah dari daftar buku itu bisa kami bawa pulang. Sayangnya  buku statistik dan beberapa buku lainnya tidak kami dapatkan ditempat itu. Itu artinya kami harus mencarinya ke tempat lain. 

Ada beberapa toko buku yang menjadi pilihannya, akan tetapi saya lebih yakin ke Gramedia. Karena menurut saya Gramedia adalah toko buku paling lengkap pada saat itu. Saya mengajak mereka ke Gramedia dan benar buku itu ada,sesuai dengan penerbit serta pengarangnya.

Persoalannya sekarang harga buku di Gramedia sepuluh kali lipat dengan harga buku di Titi gantung. Sementara kami sudah mengumpul semua buku-buku yang hendak kami beli. Sebelum ke kasir teman-temanku mulai hitung-hitungan tentang biaya yang harus dikeluarkan. 

Harga buku itu memang lumayanlah. Harga satu buku diatas seratus ribu terasa sangat mahal. Akhirnya kami diskusi lagi,apakah buku itu jadi dibeli atau tidak ? Teman-teman mulai berkisah tentang sisa uang yang mereka miliki. Itu artinya kami harus mengurangi jumlah buku yang dibeli. 

Saya hanya bisa memandangi raut wajah teman-temanku yang sudah mulai berkerut gegara harga buku yang mahal. Tapi saya tetap memantapkan niat untuk membeli buku tersebut. 

Saya berpikir begini " biarlah saya yang membeli buku tersebut ,nanti teman-teman tinggal copy dan harganya tntu jauh lebih murah.  Akhirnya saya membawa semua buku itu kekasir dan membayarnya Setelah itu kami pulang. 

Dalam perjalanan pulang, seorang teman meminta supaya kami berhenti di salah satu mall untuk sejenak melepas lelah. Ok,tidak masalah .Mari kita sejenak bersantai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x