Mohon tunggu...
Dina Finiel Habeahan
Dina Finiel Habeahan Mohon Tunggu... Guru - be do the best
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

BE A BROTHER FOR ALL

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bukan Transaksi tapi Transformasi

18 Desember 2020   09:48 Diperbarui: 18 Desember 2020   09:56 234 48 2 Mohon Tunggu...

Hari ini adalah saatnya untuk menerima raport bagi anak-anak SD di SDN Sei Beras Sekata. Bersamaan dengan itu saya juga mengakhiri tugas saya sebagai guling di desa tersebut. Kurang lebih selama 5 bulan saya menjalankan tugas saya sebagai guling ditempat itu. Tentu banyak pengalaman yang sudah saya nikmati ketika belajar dengan anak-anak di desa itu.

Saya termotivasi menjadi guling didaerah itu berawal dari kegiatan magang yang diselenggarakan oleh kampus. Kesempatan magang selama satu minggu adalah waktu yang singkat untuk mengenal mereka. Akan tetapi waktu yang singkat itu ternyata mampu menggugah hati saya. Situasi dan kondisi mereka yang terbatas mengundang rasa empatiku saat itu.

Akhirnya setelah selesai magang,saya putuskan untuk menjumpai kepala sekolah itu kebetulan kepala sekolahnya adalah salah seorang umat di paroki kami. Setidaknya sudahsaling mengenal. Ketika bertemu saya mengutarakan niat saya untuk menjadi guling di wilayah tersebut. Saya katakan Menjadi guling karena anak-anak yang sekolah di tempat itu datang dari kampung yang berbeda. 

Jadi sangat tidak mungkin untuk mengumpulkan mereka diwaktu yang bersamaan diluar jam sekolah. Kepala sekolah menyetujui permintaan saya dan ia berjanji akan menghubungi orang tua anak-anak dan memberitahu bahwa akan ada kegiatan belajar bersama dengan suster bebas biaya "gratis". Dan ternyata pemberitahuan itu diterima baik oleh orang tua anak-anak. Itulah awal kegiatan saya menjadi guling ( guru keliling).

Kurang lebih 5 bulan saya melakukan kegiatan itu. Secara pribadi kegiatan ini menjadi kesempatan emas untuk saya. Melalui kegiatan ini saya dilatih untuk sabar dan setia. Saya harus sabar disaat anak-anak tidak suka dengan metode atau cara belajar yang saya gunakan,saya harus sabar mendampingi mereka karena kemampuan mereka yang berbeda-beda. Selain tugas itu menuntut kesetiaan saya juga harus bersikap adil terhadap mereka. 

Bahwa mereka berhak mendapatkan perhatian dan pendampingan yang sama. Intinya saya tidak mengajarkan yang instan kepada mereka akan tetapi mengajari mereka untuk berusaha melalui step by step. Melakukan sesuatu sesuai dengan prosedur atu ketentuan yang berlaku.

Sama halnya ketika mereka membawa tugas dari sekolah dan minta tolong supaya tugas nya diselesaikan. Sebenarnya tugasnya gampang dan saya bisa saja langsung memberi jawabannya. Tapi saya ingat dengan profesi saya,sebagai seorang guru saya harus menanamkan sikap jujur dalam dirinya,bukan hanya itu daya juang dan semangat belajar perlu ditanamkan dalam diri anak-anak. Tentu Saya akan mengajarinya untuk menjawab soal-soal yang ada,tapi saya akan memberi kesempatan kepadanya untuk berkreasi sejauh mana ia mampu dan paham tentang tugas yang dikerjakannya. Ketika dia mentok dan tak sanggup lagi disitulah kesempatan saya untuk mengajarinya.

Situasi yang demikian mengundang dan mengantarkan saya pada kesadaran betapa pentingnya untuk berbagi. Berbagi bukan hanya lewat materi akan tetapi dalam banyak hal. Kehadiran saya sebagai guling ternyata tidak hanya berbagi ilmu pengetahuan kepada anak-anak. Tapi juga berbagi pengalaman dan sharing iman kepada orang tua anak-anak yang datang bercerita kepada saya. Pada kesempatan tertentu mereka datang untuk curhat kepada saya. Sungguh Sesuatu yang menggembirakan bagi saya.

Dan paling serunya,ternyata ada dosen yang memperhatikan keberlangsungan kegiatan saya ini meskipun kegiatan ini saya lakukan diluar kegiatan kampus. Hingga suatu waktu dosen saya itu meminta saya untuk menjumpainya dikampus. Permintaan itu disampaikannya lewat pesan singkat di wa. Awalnya saya terkejut,untuk apa ? Selama jam perkuliahan yang dilakukan secara daring rasanya saya belum melakukan kesalahan.Hmm..tidak apa-apa.Saat itu juga saya yakinkan diriku dan berusaha untuk positif thunking tentangnya. Dan saya pergi menjumpainya dikampus.

Setibanya dikampus saya segera menuju ruangannya yang berada dilantai 2. Saya mengetuk pintunya dan saya dipersilahkan masuk dan duduk. Saat itu saya merasa seperti mau dihakimi. Hehehe. Walau nada lembut dan senyum sumringah yang dikusaksikan saat itu tapi tetap membuat hati saya deg-deg an. Dan saya tidak mau memulai percakapan saya hanya menjawab apa yang ditanyanya. Tapi sepertinya dosen saya itu tau apa yang kurasakan saat itu. 

Pertanyaan pertama yang dilontarkannya begini, " Suster masih melanjutkan tugas magangkah di sekolah itu hingga saat ini ?" Pertanyaan itu segera saya jawab," Tidak Pak,karena jadwal magang sudah selesai". Kalau begitu kegiatan apa yang suster lakukan disekolah itu hingga saat ini ?, Oh iya Pak. Selama masa pandemi saya memilih untuk mengabdi disana,belajar bersama dengan anak-anak. Saya tidak melakukannya disekolah tapi saya datang kekampung mereka Pak. Dosen saya itu mulai menggelengkan kepala,dan ia lontarkan pertanyaan ke tiga " Berapa suster dibayar ? Bagaimana sistem pembayarannya ? Kan itu sama halnya dengan les private dan biasanya itu lebih membutuhkan banyak waktu karena harus berpindah-pindah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x