Mohon tunggu...
Dimas Surya Saputra
Dimas Surya Saputra Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia. tertarik dengan Isu di Amerika Latin

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Global Value Chain dalam Ekonomi Politik Global Indonesia dan Dampak terhadap Pertumbuhan Kopi Kerinci

6 Juli 2020   17:54 Diperbarui: 7 Juli 2020   09:54 173 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Global Value Chain dalam Ekonomi Politik Global Indonesia dan Dampak terhadap Pertumbuhan Kopi Kerinci
sumber: hasil jepretan pribadi

Liberalisasi pasar dan pesatnya globalisasi telah membuka berbagai peluang untuk bersaing di pasar global baik di semua sektor yang menjadi perhatian dari internasional terhadap ekonomi politik global. Hal tersebut tentunya menjadi kesempatan bagi negara-negara yang mengandalkan produksi agraris untuk masuk ke pasar global sebagai bentuk persaingan terhadap negara yang mengandalkan produknya industri.

Indonesia sebagai salah satu negara agraris, tentu memanfaatkan momentum ini untuk bersaing karena pertanian merupakan fondasi dalam penentuan konsumsi ketahanan pangan di dunia internasional membuat pertanian menjadi modal dalam menembus pasar global serta melihat bahwa pertanian dapat dijadikan potensi kebangkitan dalam mengembangkan sayapnya di dunia internasional termasuk kopi.

Kopi di Indonesia sendiri merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Hal tersebut dapat dilihat dari produksi kopi Indonesia yang berada di urutan keempat terbaik dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Hal tersebut tentu menjadi kesempatan indonesia dalam mengenalkan produknya di dunia internasional ditambah permintaan terhadap kopi Arabika dan Robusta masih meningkat tajam sebesar 65%. Industri kopi Indonesia mulai bersaing di dunia internasional sejak 1960 dengan skala kecil-kecilan, Sehingga, keterlibatan pertanian indonesia di lingkup Internasional tentu berdampak kepada wilayah Kerinci. 

Kerinci merupakan wilayah bagian barat provinsi Jambi yang terletak di pulau sumatra dan berbatasan dengan sumatera barat di utara dan bengkulu di barat. Sumber penghasilan yang diraup oleh warga kerinci yaitu salah satunya pertanian atau perkebunan. Karena mayoritas masyarakat kerinci bekerja di bidang pertanian seperti menanam cabe, kentang, kol, termasuk kopi. Sehingga membuat kehidupan mereka bergantung kepada hasil pertanian untuk mendapatkan penghasilan yang mereka inginkan.

Kopi merupakan salah satu produk perkebunan unggulan bagi masyarakat kerinci. Hal tersebut dapat dilihat para petani mulai menanam kopi pada tahun 2013 dan mendapatkan reaksi yang cukup besar baik nasional maupun internasional terhadap kualitas citarasa kopi kerinci membuat produksi kopi mulai meningkat dan menunjukkan tajinya di pasar internasional sebagai hasil dari eksistensi ekonomi global yang telah dirasakan oleh masyarakat kerinci

Tetapi muncul masalah yang harus dihadapi oleh petani kopi kerinci untuk bersaing di pasar global, yaitu bagaimana cara kopi kerinci dapat bersaing di pasar global dan apa yang harus dilakukan dalam meningkatkan pasar global kopi kerinci? Untuk melihat hal tersebut, dapat meilhat tindakan yang dilakukan oleh Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk kopi dalam bersaing di pasar global yang berpengaruh terhadap produksi hasil kopi kerinci.

Cara indonesia dalam meningkatkan produk kopi Indonesia di dunia internasional untuk bersaing di pasar global adalah dengan terlibat di Global Value Chain (GVC) atau rantai nilai global yang dibentuk oleh World bank dan IMF dalam membantu negara berkembang seperti Indonesia untuk bersaing meningkatkan produknya di dunia internasional. Rantai nilai global adalah sebuah produk jadi dari hasil ekstraksi, penyulingan, perakitan logistik ritel diberbagai negara yang berbeda di setiap langkah dalam proses pembuatan produk menambahkan nilai pada produk jadi yang akhirnya dapat dibeli dan dikonsumsi secara publik.

Biasanya GVC berupa bahan mentah (pertanian, bahan bakar, tambang) yang diolah dan dikirim ke negara atau perusahaan untuk diproses menjadi sebuah barang jadi. Contohnya seperti Nutella yang bahan bakunya dapat berasal dari berbagai negara seperti  Malaysia yang mengolah minyak palm, lalu Nigeria yang mengolah coklat, dan bahan tersebut dikirim ke perusahaan Ferrero di Italia untuk diolah menjadi coklat jelly ternama hingga sekarang. Indonesia sendiri terlibat dalam GVC yang berfokus di bidang pertanian untuk meningkatkan produksinya di pasar global.

Banyak negara yang melibatkan GVC dalam produksi kopi seperti Rwanda, Vietnam, Brasil, Kolombia telah menggunakan konsep tersebut untuk memperluas produksi mereka bahkan menjalin kerjasama dengan perusahaan ternama seperti Starbucks. Dengan terlibat dengan GVC, diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik serta membuat persaingan di pasar global menjadi efektif.

Tetapi, Indonesia dihadapkan dengan beberapa tantangan terhadap GVC yaitu kurangnya keterlibatan langsung Indonesia terhadap GVC, kualitas infrastruktur yang kurang memadai berdampak kepada produksi dan logistik barang yang mahal membuat dalam laporan WTO terhadap Global Value Chain Development 2017, Indeks partisipasi Indonesia sekitar 47,3% di bawah partisipasi Malaysia (60,8%) dan Thailand (54,7%) membuat Indonesia berada diposisi bawah di kawasan Asia Tenggara. Dari penurunan partisipasi menjadi dampak yang harus dihadapi oleh pemerintah kerinci.

Tujuan dari GVC tentunya sangat menguntungkan UMKM atau ekonomi mikro Kerinci karena fokus dari bahan baku yang dikirim ke perusahaan atau negara importir yang menguntungkan pemerintahan daerah. Pada tahun 2020, sebuah kelompok petani dari 3 kecamatan Kerinci berhasil mengekspor 15,6 ton kopi kerinci ke Belgia yang tentunya menjadi milestone bagi petani kopi kerinci dalam keberhasilannya memproduksi kopi dalam beberapa tahun belakangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN