Mohon tunggu...
Dimas Lananda
Dimas Lananda Mohon Tunggu... Pelajar

Iseng iseng nulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Halte Bus dan Hujan

3 Maret 2021   19:15 Diperbarui: 3 Maret 2021   19:35 80 2 0 Mohon Tunggu...

Masih ingat kah waktu itu??,ketika hujan turun dengan lebatnya,kita berlari dari arah yang berbeda. Basah kuyup dan meneduh. Itu lucu bagiku,mengapa harus meneduh??,padahal kita telah basah kuyup. Dan halte kosong pada waktu itu,kurasa ini bukan kebetulan. Kejadian ini memang sudah berlalu,tapi aku hanya ingin bernostalgia. Akan ku tulis kembali percakapan,kejadian,dan tindak tanduk kita waktu itu.

**********************

Setelah bersamaan sampai. Kita duduk bersebelahan,dan nampaknya kau sedang menjaga jarak dengan hati-hati. Barangkali kau takut aku ini pencuri. Kita diam tapi mata memandang sekeliling. Aku menatap rintik-rintik hujan,mencoba menghitungnya,tapi bingung harus mulai dari rintik yang mana. Karena gagal menghitung,sedikit kuarahkan bola mataku kekiri,melihatmu yang duduk dengan pandangan hampa. Apa yang kau pikirkan??. Tapi,,pertama kulihat kau rasanya aneh. Jujur kau nampak payah,matamu sayu,bibir kering,dan rambut basah tak beraturan. Walaupun,,tiada mengurangi kata cantik dari penilaianku.

Kuberanikan untuk bicara,karena terlalu lama diam membuat aku memikirkan hal yang tidak-tidak.

"Kau dari mana mau kemana??"

"Mau pulang kerumah" jawabmu datar,dan bagiku jawaban yang membingungkan

"Rumahmu mana?"

"Tak jauh dari sini,mungkin setengah kilo"

Aku bingung harus bicara apa,dan takut untuk bertanya nama. Situasi pun hening,dengan bunyi rintik yang mengganggu. Waktu agaknya sibuk menyaksikan dua manusia laki perempuan ini,sehingga lupa untuk melaju. Nampaknya kau sedang tak ingin bicara,atau setidaknya berkenalan. Kau malah ambil buku ditas dan pergi ke dunia imajinasi tanpa mengajakku turut serta. Sebenarnya aku juga suka baca,tapi sialnya hari itu buku menolak, untuk ku ajak pergi dari rak kamar. Terpaksa aku harus kembali menghitung rintik hujan yang turun ke tanah,dan tetap gagal dalam memulai.

Hatiku berteriak keras sekali,untuk memulai pembicaraan kembali. Ku harap kau tak mendengar percakapan antara aku dengan hatiku. Agaknya perlu ku cantumkan isi percakapannya disini. Supaya kau tahu mengapa aku diam waktu itu

"Bicaralah tolol"  kata hatiku dengan nada memaki

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x