Mohon tunggu...
Dimas Lananda
Dimas Lananda Mohon Tunggu... Pelajar

Puisi,cerita Bagong,dan dialog benda-benda sekitar kita.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Demokrasi Itu Cakrawala Pikiranmu yang Kisruh

1 November 2020   08:47 Diperbarui: 1 November 2020   08:51 61 1 1 Mohon Tunggu...

Cessssss, terdengar suara bus yang ngerem,pas didepan gapura desa Makaryo tepatnya pukul 7 pagi. Turun dari dalamnya lelaki kurus nan jangkung, nampak seperti gelandangan dengan kaos oblong dan rambut gondrong kusutnya. 

Ditambah sandal jepit hijau,celana buluk,tak lupa tas hitam kecoklatan nyangklong dipunggungnya, menegaskan tampilan jijik pria tersebut. Dialah pambek. Kerjaannya entahlah,yang jelas ia berjalan ke timur dan berhenti dirumah kayu, yang beralaskan tanah dengan teras satu meter dari jalan.

Kira-kira rumah itu 300 meter jaraknya dari tempat pambek turun tadi. Terlihat sesosok genderwo duduk dengan gaya angkringan di lingkraknya. Kedua jari tangan kanannya menjepit rokok lintingan,dan dimeja terdapat segelas kopi habis setengah.

Tak usah dijelaskan cirinya karena lebih parah dari si pambek. "Gong" pambek menyapa Bagong dengan senyum anehnya. " Kok pulang?? Bagus nggak ada kamu desa ini" Bagong menghisap rokoknya dalam-dalam,bersiap meladeni bocah edan pambek itu. "terserah gong,yang jelas saya kesini ada perlu sama kamu". "Pinjam uang lagi tho?? ,wes njaluko piro??". Pambek duduk disampingnya bagong dan mengambil koran dari tasnya. "Ki enek tulisane profesor, apik iki, pendapatmu gimana gong? . 

Bagong meraih koran itu dan dengan serius mencari tulisan yang dimaksud. " judulnya apa ini??". "itu lho demokrasi itu cakrawala,pikiranmu kisruh dibuatnya". "Halah ngawur kamu,itu kan tulisanku,profesor gimana tho wong saya cuma lulusan SD". 

Pambek sebenarnya kurang percaya sedari dulu bahwa Bagong itu lulusan SD,karena dia punya minat luas,dan bacaannya pun beragam sampai 2 rak sebelah kiri rumah Bagong penuh dengan buku-buku yang didapat dari perpustakaan kabupaten kadang provinsi yang tak pernah ia kembalikan.memang aneh tapi yang jelas setiap minggu tulisannya selalu diterbitkan dikoran dengan beragam topik mulai dari musik, politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, sampai percintaan. 

Entah ia dapat bahan darimana tak jelas memang. "Gini lho" bagong mulai menjelaskan." Demokrasi itu ibarat teknologi, atau HP dan seisinyalah biar lebih spesifik, barang itu diciptakan pasti untuk tujuan baik nggak mungkin tidak. Sekarang saya tanya,kok sekarang banyak orang yang terjerat hukum akibat memanfaatkanya?". "ada dua gong,pertama karena peraturannya nggak bener kedua karena merekanya yang ngawur karena menyebar hoax,ujaran kebencian,menyerang pribadi orang". Terhenti omongan pambek Karena mulutnya telah dimasuki segepok kertas rokok yang biasa wadahnya bergambar payung dengan Bagong sebagai pelaku. 

"Mbek pambek,nggak kesitu arahnya,jadi pangkal dari masalah itu adalah pikiran sempit,tak jelaske kembali lagi ke HP dan semua isinya tadi,supaya bisa membantu manusia butuh kecerdasan,keluasan berfikir, sak piturute lah.lhaa wes genah tho kwii jadi untuk mendapat kebaikan atau keefektifan pemanfaatan HP tadi perlu siklus dari, oleh, untuk manusia. Ini kita harus elaborasi,dimana kepincangan siklusnya,apa di darinya, bisa juga terletak di oleh,atau jalan menuju untuknya. Sekarang jika kembali ke demokrasi,maka dibutuhkan kemampuan mengenal sistem,dan mengkompatibelkan dengan ajaran agama,akhlak, kemanusiaan,lan sak piturute. Jangan-jangan kita ini belum benar benar mengenal demokrasi,apa lagi mengkompatibelkan dengan keluasan berfikir yang mencakup tadi. Dan jangan-jangan kita juga tidak tahu proses berjalannya siklus dari,oleh,untuk dalam demokrasi.Lebih gawat lagi tanpa batasan atau hukum yang tidak menunjang. Nanti kamu maling uang di bank bilangnya demokrasi,mukulin orang bilangnya demokrasi. Susah tho nek gitu,demokrasi itu cakrawala mbek". Pambek nampak sudah diwarung Mak iyah depan rumah bagong. Terlihat ia sedang makan gado-gado tanpa sendok. Oalah jancuk,bagong pun melempar gelas kopinya kearah pambek.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x