Mohon tunggu...
Dimas Anggoro Saputro
Dimas Anggoro Saputro Mohon Tunggu... Insinyur - Engineer | Content Creator

"Bisa apa saja", begitu orang berkata tentang saya.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Kincir Angin ala Youtube Bisa Mengairi Rumput di Lahan Pasir

6 Oktober 2017   16:34 Diperbarui: 6 Oktober 2017   19:20 6848
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kincir angin penggerak pompa air (dokpri: Hardy Wiratama)

Nampaknya akhir tahun memiliki daya tarik tersendiri sebagai waktu diadakannya acara. Mulai dari acara kecil hingga acara besar selalu saja memadati jadwal di akhir tahun. Kebetulan saja, menurut saya.

November 2015 yang lalu, saat saya masih menyandang status sebagai mahasiswa. Rasa lelah nampaknya masih enggan untuk beranjak meninggalkan badan ini sepulang berlaga dalam ajang kompetisi mobil listrik nasional di Bandung. Rasa lelah terbayarkan dengan pencapaian kami.

Kebiasaan bermalam di kampus, tepatnya di bengkel pun masih berlangsung. Meskipun kompetisi sudah berakhir, bukan berarti harus berakhir pula berinovasi. Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta adalah kampus di mana saya menimba ilmu dan berjuang demi selembar kertas bertuliskan "Ijazah". Kata orang tua saya, itu adalah "senjata" saya nantinya untuk melanjutkan hidup.

Bagaikan candu

Rasa nyaman adalah yang dicari setiap orang. Ketika orang sudah merasa nyaman, dia akan betah berada di situ. Itulah yang saya rasakan dalam berorganisasi. Berorganisasi telah saya lakukan sejak saya menyandang status sebagai anak. Organisasi yang saya ikuti kala itu adalah keluarga.

Semenjak SMP bisa dibilang itu adalah titik di mana saya mulai aktif berorganisasi. Mulai dari organisasi intra sekolah hingga organisasi di luar sekolah. Semenjak itu pula berorganisasi seolah menjadi candu bagi saya.

Pernah suatu saat saya vakum dari keorganisasian karena unas semasa SMK ada di depan mata. Ujian nasional bagaikan penentu hidup dan mati menurut pandangan orang tua saya. Jika lulus, maka bisa melanjutkan hidup. Jika tidak lulus, maka "mati"! Usaha mati-matian pun dilakukan untuk menghadapi kematian pula. Malah bisa jadi mati sebelum perang. Ujian nasional pun telah berlalu, yang berarti menganggur menjadi pekerjaan utama. Rasanya ada sesuatu yang hilang dari diri saya, ketika diri ini tak disibukkan dengan kegiatan organisasi. Alhasil, saya kembali ke dalam dunia itu.

Hal itulah yang saya bawa hingga saya mengecam pendidikan di perguruan tinggi. Lebih dari satu ormawa saya ikuti. Kegiatan ormawa pun berjalan beriringan dengan kewajiban saya sebagai pelajar di perguruan tinggi. Mau bagaimanapun, tetaplah harus ada salah satu yang dikorbankan. Mulai dari tidak mengikuti kelas dosen hingga mengetahui jadwal ujian keesokan paginya sebelum ujian.

Mengikuti lomba atau kompetisi pun juga menjadi candu bagi saya. Jika sudah sekali, dua kali mengikuti lomba atau kompetisi, besoknya pasti akan ketagihan. Ajang perlombaan ataupun kompetisi pun menjadi sasaran perburuan.

Terinspirasi dari Youtube

Ketika tidak ada pekerjaan mendera, berselancar di internet menjadi pilihan. Itulah yang terjadi disaat saya dan beberapa teman saya berada di bengkel dan tidak ada yang dikerjakan. Tiba-tiba salah satu teman saya menceletuk, mengajak saya untuk mengikuti ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diadakan oleh Dikti.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun