Mohon tunggu...
Dimas Wijonarko
Dimas Wijonarko Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unsika

saya mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Gadget Pilihan

Fenomena SJW, Sang Pencari Keadilan di Media Sosial

15 Mei 2022   23:57 Diperbarui: 16 Mei 2022   00:00 765 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Fenomena SJW saat ini cukup hangat dibicarakan di media sosial. Apa itu SJW? SJW adalah Social Justice Warrior yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti Pejuang Keadilan Sosial. Social Justice Warrior (SJW) dan didefinisikan sebagai seseorang yang mengekspresikan atau mempromosikan pandangan progresif secara sosial. Istilah SJW ini ditujukan kepada mereka yang kerap menyampaikan atau menyuarakan mengenai apapun atau isu-isu sosial-politik di media sosial.

Salah satu kekuatan SJW adalah kepekaan terhadap kondisi yang sebelumnya dianggap wajar, padahal kenyataannya kondisi tersebut jauh dari nilai-nilai kewajaran dan keadilan. Oleh karena itu, standar SJW sedikit berbeda dari standar popular, dan cenderung menghasilkan banyak pendapat dan sikap.

Meski istilah SJW sudah dikenal sejak lama, namun popularitasnya terutama dipengaruhi oleh perkembangan informasi di dunia digital. Fenomena ini belakangan muncul kembali di Indonesia karena setidaknya ada dua peristiwa: demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan di Papua. Publisitas besar-besaran dari peristiwa ini membantu mempopulerkan istilah SJW. Orang-orang membicarakannya di media sosial. Selain itu, isu kewajaran dan keadilan telah menjadi trending topik di forum dunia maya atau komunitas online komunitas game, dan komunitas gerakan sosial lainnya.

Isu-isu yang diangkat oleh SJW beragam, namun yang menjadi perhatian utama mereka biasanya adalah permasalahan sosial yang melanda suatu negara, seperti kesetaraan hak gender, isu minoritas dan hak asasi manusia.

Makna SJW dalam bahasa Indonesia tidak berbeda dari makna yang dianut oleh negara-negara lain. Meski SJW menyuarakan keadilan sosial dan prinsip kesetaraan. Namun masyarakat awam kurang tertarik karena SJW masyarakat menganggap SJW dalam perjuangannya dirasa 'pilih-pilih', SJW memfokuskan suara atau upayanya pada kasus-kasus tertentu. Bahkan beberapa masyarakat menuduh gerakan mereka sebagai bagian dari politik identitas. Sehingga masyarakat meragukan nilai keadilan dan standar moral yang dibawa SJW

SJW dituding  kerap mengungkit hal-hal kecil. Misalnya, mereka gencar mengkampanyekan penggunaan lelucon yang tidak pantas (humor gelap/lelucon). Di masa lalu, lelucon semacam ini dapat diterima dengan baik dan ditoleransi oleh sebagian orang, namun saat itu SJW tidak melarang humor yang berasal dari kelompok, ras, dan jenis kelamin tertentu.

Masyarakat tidak begitu antusias atau tertarik dengan fenomena SJW di dunia maya. Bahkan, beberapa pendapat mengaitkan SJW dengan benda lain dan melabelinya dengan istilah yang merendahkan seperti SJW kertas, SJW plastik, SJW banjir, dan SJW kuliner. Istilah tersebut mengacu pada individu yang mengkritik orang lain yang memiliki kebiasaan buruk membuang kertas, menggunakan plastik secara tidak bertanggung jawab, atau individu yang mengkritik perilaku rawan bencana, dan bahkan mereka yang menjadikan dirinya kritik kuliner. Istilah SJW juga dikaitkan dengan kata "buzzers" dan "pansos" di dunia maya.

Meski istilah SJW sudah dikenal sejak lama, namun popularitasnya terutama dipengaruhi oleh perkembangan informasi di dunia digital. Fenomena ini belakangan muncul kembali di Indonesia karena setidaknya ada dua peristiwa: demonstrasi besar-besaran dan kerusuhan di Papua. Publisitas besar-besaran dari peristiwa ini membantu mempopulerkan istilah SJW. Orang-orang membicarakannya di media sosial. Selain itu, isu kewajaran dan keadilan telah menjadi trending topik di forum dunia maya atau komunitas online komunitas game, dan komunitas gerakan sosial lainnya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Gadget Selengkapnya
Lihat Gadget Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan