Mohon tunggu...
Dilla Zhafarina
Dilla Zhafarina Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Aku adalah riak rasa yang tak bersuara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

D.A.N

24 Maret 2013   18:59 Diperbarui: 15 Agustus 2018   12:35 84 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Langit menyuguhkan bulan separuh yang larut luruh dalam keheningan waktu. Rona gelap memenuhi setiap sisi cakrawala, tak bersisa. Malam juga menggantung bintang meski hanya seorang. Entah, mungkin awan telah sembunyikan sedikit terang untuk dirinya sendiri, tak mau berbagi. Begitupun bunyi, seperti sepi yang bahagianya hanya diam yang tahu.

Aku bak manusia yang mematung diatas pualam waktu. Berjalan detik pada menit kemudian jam. Tapi aku tetap snediri, diam. Enggan raga mengikuti tur waktu, hanya pikiran yang rela dibawa berkeliling bersamanya. Munafik juga, aku menikmatinya.

Semua buyar ketika suara menarik kembali sadar kembali kepada tempat semestinya. Dering handphone, benda mati pemecah sunyi. Sebuah pesan yang sejak kapan ternyata telah kunanti.

“Semoga malam tak terlalu membawamu pada khayal berupa aku. Kau tau itu tak perlu, Dev. Aku tak rela menjadi khayal jika yang nyata bisa kau rasa.”

Begitu bunyi tulisan yang kubaca. Bunyi-bunyi semu yang beberapa bulan dan malam ini temani aku. Kulihat seuntai senyum tertarik pada sudut bibir bayangan di depanku, senyumku. Aksara mulai menjadi permainan sempurna, menjadi teka-teki rahasia.

“Malam milikmu sepertinya lebih indah. Lihat saja, narsismu membuat langit rela menggantung bintang seorang lagi, temani aku. Mengapa begitu, Dan? Padahal kita sedang menatap malam yang sama, bukan?”

Benar, namanya Dan. Lebih tepatnya, begitu aku memanggilnya. Manusia tanpa suara dan rupa. Siapa dia hanya tergambar dalam 26 aksara yang berbentu gugusan kata dan frasa. Manusia yang mengajakku melihat dunia dan rasa tak hanya menggunakan mata tetapi juga sajak.

“Jangan terlalu angkuh pada sepi, pun mereka bukan satu-satunya indera. Coba rasa, ada bahagia dalam sunyi. Jika bisa dapatkan, dia akan jadi milikmu, sendiri.”

Aku berfikir sebentar, bagaimana mungkin dia memvonisku seperti itu. Angkuh seperti apa yang dia anggap bersarang pada diriku? Entahlah, tapi membaca vonisnya ada bagian dari tubuhku yang tersinggung. Lebih tampak seperti kebenaran yang aku tutup-tutupi.

Dan sering menggangguku dengan koleksi makna ambigu. Misalnya saja “Kau ini memang penyusun kata-kata hilang yang ditemukan” dan aku juga sering mengejeknya dengan sebutan “Tuan Semu” kemudian dia akan membalaskau dengan sebutan “Puan Gamang”.

Malam semakin erat memeluk gelap. Waktu menggandeng sunyi pergi berlalu. Derai angin tak terlalu berminat ambil andil dalam sunyi. Jelas saja, setiap derunya adalah desis yang tertangkap telinga.

“Dan, memangnya apa definisimu tentang seorang angkuh?” pertanyaan yang mengawali pembicaraan atau lebih tepatnya debat dengan sekelebat kata.

Dia yang menganggap angkuh adalah cacat di badanmu yang biarpun kau berusaha menghilangkannya, tapi bekas takkan pernah hilang pada epidermis kulit. Sedangkan aku, menganggap angkuh adalah tembok dengan cat warna-warni yang sebenarnya sangat tidak padu, tidak semestinya begitu.

Begitulah aku mengucapkan selamat malam, dengan sajak nina bobo yang dikirimkan Dan “jangan terjaga pada sunyi yang semua manusia tahu, biar tak ada bicara yang memecahkannya.” Kemudian akupun diantar pada balik kelopak mata.

Keesokannya, saat pagi menyingsing fajar dan rona merah melukis awan, aku terjaga karena sunyi hanya milkku. Kau mungkin akan bertanya apa yang membuatku terlalu menggilai sepi seperti ini. Ya, apalagi kalau bukan karena luka.

Ditinggalkan karena ada yang meninggalkan. Mereka berpasangan, tetapi aku tidak lagi-sendiri. Rasa sakit telah memilih sepi sebagai penawar, meskipun waktu adalah sebenarnya obat yang kubutuhkan.

Ini lebih tentang cinta yang direbut dan tak pernah dikembalikan, hingga sekarang. Ada bagian yang patah, hati? Ya, hati. Jika bersama sepi, bagian mana yang akan patah, lagi?

Aku masih terbaring pada kenyamananku dengan setengah nyawa yang mungkin masih tersangkut pada mimpi. Samar aku melihat gambar diriku pada sebuah bingkai di atas rak buku, bersanding dengan seorang laki-laki yang tak ingin aku kenal lagi. Lemas rasanya, bingkai kecil itu belum tersentuh sejak hari yang kusebut “mati suri”. Meski sesekali tak sengaja retina mata menangkap dia dalam kesengajaan hati.

Seperti biasa, pagi ini dan pada watu seperti ini handphoneku berdering. Sebuah pesan dari seorang teman tanpa rupa dan suara. Teman yang ku kenal dari sebuah dunia yang mereka sebut maya.

“Hai, surya sudah lahir kembali. Seperti biasa, kita akan menatap surya yang sama, Dev. Semoga suryamu tak lebih dulu tenggelam seperti aku.”

Dahiku berkerut, setan pagi mana yang membuat Dan menulis kata-kata semacam itu. Masih ingat aku, baru tadi malam kukatakan malamnya lebih indah dari milikku. Ah, benar. Sekarang pagi, bukan? Sepertinya dia ingin mengalah dan menyerahkan pagi padaku.

“Hai, Dan. Karena surya yang kita pandang adalah sama, bukannya harus tenggelam bersama, juga?” tersenyum sendiri aku menunggu balasan Dan. Semenit, sepuluh menit, satu jam. Mungkin kantuk membawanya bermain kembali, sang Tuan Semu.

Jam-jam berlalu tak terlalu terburu. Hanya rasanya sedikit berbeda. Ada yang kurang. Yah begitulah manusia selalu merasa, kurang dan jarang bertambah. Umurmu berkurang, waktumu berkurang, dan kadang saja kau benar-benar merasa kebahagianmu bertambah. Seperti layaknya menerawang bintang di siang hari. Saat kau mendapatkan bintang pada malamnya, kamu mungkin telah buat karena menatap matahari terlalu lama.

Aku duduk sendiri di bangku taman kecil. Handphoneku bordering. Bukan pesan, sebuah panggilan.

“Deva.”suara seberang terdengar lirih menyapa.

“Iya Fan, kenapa?”

“Sorry Dev, Deri…”

“jangan sebut namanya lagi, Fan!” mendengar hal itu bukanlah hal baik bagiku.

“Dev, Deri udah ninggalin kita buat selamanya.”

Aku berusaha mencerna kata-kata Fani. Ada nafas yang tak mau lagi menerima oksigen di dalam tubuhku. Aku berlari, begitulah yang kedua kakiku ingin. Hanya sebentar waktu hingga aku tiba di parkiran dan segera memacu mobil yang setelah aku benar-benar sadar adalah kearah rumah Deri.

Bendera kuning layu terkibar di depan pagar hitam yang telah kukenal. Aku benar-benar terjaga. Sunyi tak lagi milik semua orang, hanya milikku. Gundukan air mata telah siap jatuh dari peraduannya. Samar kulihat Fani berlari, memelukku. Sekilas kulihat secarik kertas putih di tangannya yang kemudian ia selipkan di tanganku.

“Dari Deri, Dev.” Begitulh yang ku dengar. Kali ini bukan hanya badanku yang bergetar. Hatiku semaikn tak tau diam. Aku berjalan pelan, memasuki sebuah pintu duka. Kulihat Deri tertidur, pulas. Ah, ait mataku benhar-benar pecah.

Kulihat kembali surat yang diberi Fani.

 “Hai, Dev. Aku takkan menjadi manusia dengan sejuta kata lagi bahkan di saat hidup membawaku kekeadaan yang tak lagi sama. Maaf Dev, aku tidak bisa menunjukanmu sebuah perpisahan yang pantas, karena memang tak ada perpisahan yang manusia anggap pantas, bukan? Hingga saat aku menulis ini, nafasku terasa telah samapai di ujungnya. Tampaknya malaikat sudah tak sabar ingin menjadi temanku, Dev. Dev, aku hanya ingin kau tahu, hingga kau baca surat ini, tak ada cintaku yang bergeser dari tempatnya. Tak ada yang bergeser dari kenangan kita. Dev, cinta yang kupunya ini takkan pernah jadi milik akhir, hanya izinkanlah ia beristirahat sejenak.”

 PS: Maaf tak bias Membuat Surya kita tenggelam bersama.

Tertanda

Derian Abnu Nevandra (D.A.N)

Aku tercekat, bagaimana mungkin Deri sanggup melakukan ini. Dan, Deri. Manusia tanpa suara dan rupa adalah wujud laki-laki yang kucinta dengan penuh duka. Bodohnya aku selama ini. Aku ditipu kata-kata. Aku juga disiksa, nelangsa. Aku murka cintaku direbut. Bagaimana caranya aku bisa merebut cintaku kembali dari Maha Cinta?

Derian Abnu Nevandra, semoga tak ada kebohongan yang tersisa dalam kata. Karena kuyakini meski menyiksa, cinta kita belum berakhir, kan? Seperti katamu, hanya beristirahat sejenak.

END

Sumbawa, sabtu 23 Maret 2013

 Tertanda

 Dilla Zhafarina

Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan