Mohon tunggu...
Dillah Aprillia Rahmayanti
Dillah Aprillia Rahmayanti Mohon Tunggu... Life is Journey to Learn n Give

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga 20107030021

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan

Intip Selatan Jogja: Warung Tradisional Citarasa Kekinian dengan Sosok Inspiratif Didalamnya

21 April 2021   08:20 Diperbarui: 21 April 2021   10:38 235 2 0 Mohon Tunggu...

Terletak di selatan Yogyakarta, dan dekat dengan pantai yang selalu ramai dikunjungi wisatawan yakni Pantai Parangtritis. Pantai ini menjadi daya tarik yang dimiliki Kota Yogyakarta. Selain pemandangannya yang indah dan juga menjadi spot terbaik untuk melihat sunset, di daerah selatan ini juga terdapat berbagai macam kuliner lezat yang bisa memanjakan lidah, yang pastinya sayang banget kalau tidak dicoba.

Salah satunya yang berkesempatan saya kunjungi yaitu "Warung Mbak Atun". Sesampainya disana saya juga berkesempatan berbincang langsung dengan pemilik "Warung Mbak Atun". Begitulah beliau memberi nama untuk usahanya. Mbak Atun ini diambil dari nama Zumatun yang merupakan nama beliau sendiri. Sedikit saya perkenalkan mengenai sosok Mbak Atun ini. Beliau lahir di Kudus pada 25 Mei 1973. Menempuh pendidikan hingga jenjang SLTA. Sejak masih sekolah di bangku SLTA, beliau sudah sekolah sambil bekerja.

"Iya, jadi saya sekolah sambil kerja. Kalau malam saya jualan mie sama capcay itu" ujarnya.

Lima bersaudara, dengan beliau sebagai anak pertama. Setelah lulus menempuh pendidikannya, beliau harus memikirkan nasib adik-adiknya yang masih bersekolah, sehingga beliau memutuskan untuk bekerja agar bisa membantu kedua orangtuanya dalam memenuhi biaya sekolah kedua adiknya. Karena hal keterbatasan ekonomi juga membuat beliau memutuskan harapannya untuk kuliah pada saat itu. Sampai saat ini beliau sudah memiliki 3 orang anak.

dokpri
dokpri

Mbak Atun mulai merintis usahanya sejak tahun 1998. Usaha ini dimulai dari usaha kecil-kecilan dan mengandalkan peralatan seadanya. Makanan yang dijualnya pada saat itupun belum sebanyak sekarang. Awal mula usahanya, mbak Atun hanya berjualan utri (nagasari) dengan dititipkan diwarung dan juga di pasar. Jatuh bangunnya mbak Atun dalam merintis usahanya demi kelangsungan hidup bersama anak-anaknya sangat beliau rasakan.

"Saya harus kerja keras, utri (nagasari) itu saya jual ke pasar sampai usia kehamilan saya 8 bulan. Kemudian saya kembali ke Kudus, melahirkan disana. Itu saat saya hamil anak pertama" tutur mbak Atun.

"Kemudian sampai usia anak saya 50 hari, saat itu sedang terjadi krisis moneter. Saya melihat orangtua saya pontang-panting, harga naik semua, saya bingung sampai akhirnya saya memutuskan kembali ke Jogja, dan sampai di Jogja saya sudah tidak punya apa-apa. Semua dijual untuk biaya bolak-balik Jogja-Kudus" lanjut mbak Atun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN