Mohon tunggu...
Dieni TriMaharani
Dieni TriMaharani Mohon Tunggu... Freelancer - Pelajar :)

Pelajar di SMP Labschool Jakarta ^^

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Liburan Berharga

11 Januari 2019   08:46 Diperbarui: 11 Januari 2019   09:11 47 3 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Liburan merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh para pelajar. Melepaskan penat selama dua minggu penuh dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata yang menarik. Apalagi, liburan kali ini menjelang akhir tahun, sudah pasti berbagai tempat wisata terkenal dipenuhi oleh turis domestik maupun luar negeri. Dan kali ini, cerita liburan saya sedikit berbeda dengan yang lain.

Saya berencana pergi ke Lampung selama seminggu penuh. Saya berangkat tanggal dua puluh enam, Sabtu malam. Semuanya masih baik-baik saja saat itu. Saya masih bercanda-tawa dengan keluarga saya. Saya kesana bersama dengan keluarga, naik bus lalu menyeberang dengan kapal, dan kemudian melanjutkan lagi sampai Tanjung Karang. 

Saya berangkat sekitar pukul delapan malam, kemudian tiba di Pelabuhan Merak pukul sepuluh malam. Karena gelap, saya tidak bisa meyakini apa yang saya lihat. Di belakang bus saya hanya ada barisan truk dan mobil yang menunggu kapal juga. Tepat di depan bus saya, ada sebuah kapal yang cukup besar dengan pintu yang sudah terbuka. 

Dermaga ramai saat itu, banyak orang yang saling melempar seru-seruan, entah apa. Yang pasti, saya ingat dengan jelas bahwa saat itu pukul sepuluh malam. Berikutnya, saya tertidur. 

Saya bangun saat matahari mulai bangkit, menyinari bumi dan membangunkan semua penghuninya untuk membuka mata atas apa yang terjadi semalam. Semalam terjadi gempa bumi sebesar 5,5 sR karena letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Pagi itu, saya melihat semuanya masih sama. Sekeliling saya, orang-orangnya, bahkan kapal yang berada tepat di depan bus yang saya tumpangi. 

Saya awalnya tidak tahu ada gempa bumi yang menyebabkan tsunami, karena itulah saya terus bertanya dengan Mama. Kata Mama, "Alhamdulillah saat kita sampai, aktivitas kapal sudah dihentikan. COba kalau tidak? Wassalam." Dalam hati, saya membenarkan. Memang Yang Maha Kuasa selalu punya jalan bagi hambanya.

Saya sangat bersyukur bahwa saya terhindar dari bencana itu. Namun tetap ada kekhawatiran, berapa banyak korbannya? Apakah rumah-rumah yang berada di pesisir luluh lantak? 

Rencana liburan yang sudah saya susun rapih, berantakan. Kami terjebak di rumah. Awalnya ingin menghabiskan liburan dengan memainkan berbagai macam water sport, tapi malah berujung main ke mall. BMKG menghimbau agar para penduduk menjauhi pantai dan laut untuk sementara. 

Kami tidak bisa melakukan rencana liburan kami. Bingung ingin melakukan apa, ayah saya justru mengajak saya mengunjungi tempat yang terkena dampak yang cukup besar akibat tsunami, Kalianda. Kami sekeluarga berangkat sehari setelah sampai di Lampung. 

Saya awalnya menolak, dengan alasan takut. Bukannya apa, kalau tiba-tiba masih ada jasad yang bergeletakan? Itu akan menjadi mimpi buruk bagi saya. Ayah saya bilang, "Takut buat apa? Takut itu sama Yang Maha Kuasa. Kita harus saling membantu, memberi bantuan sebisa kita. Meski beda SARA, mereka masih saudara kita. Jangan pernah takut untuk membantu."

Lagi-lagi saya hanya bisa mengiyakan. Saat mengunjungi Kalianda, hati saya benar-benar tergerak. Rumah-rumah  tanpa sisa, pohon-pohon tumbang. Barang-barang bertumpuk seadanya, kotor. Ada yang hanya setengah rumah yang hancur, sisanya tidak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan