Mohon tunggu...
diyah wara
diyah wara Mohon Tunggu... Dee

lulusan antropologi

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Film "CAN" Mengajarkan Rasa Syukur tanpa Banyak Kata

22 Mei 2020   17:03 Diperbarui: 22 Mei 2020   17:07 51 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Film "CAN" Mengajarkan Rasa Syukur tanpa Banyak Kata
Tangkapan layar | Dokpri

Adanya pandemi Covid 19 ini memaksa kita untuk #stayhome, dan #jagajarak dengan keluarga atau orang orang terkasih di bulan Ramadhan dan Lebaran nanti. Tidak ada kegiatan buka puasa bersama dengan teman lama, pasangan, sahabat, rekan kerja, atau keluarga, perayaan ulang tahun, atau sekedar berkumpul bersama dengan leluasa. Larangan untuk #janganmudik semakin membuat kita berjarak dengan keluarga, terutama bagi kita yang memiliki keluarga di kampung halaman. 

Karena itu, menonton film keluarga menjadi salah satu alternatif kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang sekaligus melepaskan kerinduan pada keluarga. Nah ini salah satu film yang layak ditonton. Film berjudul “CAN” ini merupakan film produksi Turki, salah satu negara Islam di Eropa. 

Mengkisahkan tentang pasangan muda di Istanbul, yang ingin sekali memiliki anak, namun ternyata si suami tidak dapat memiliki anak karena gangguan kesehatan reproduksinya, sedangkan si isteri dalam keadaan sehat. Akhirnya mereka pun membeli bayi secara ilegal dari sebuah keluarga yang sudah memiliki banyak anak. Anak laki-laki tersebut diberikan nama CAN. Sayangnya justru ketika sudah memiliki anak, si suami malahan meninggalkan isteri dan anaknya, sehingga CAN hanya tinggal dengan ibunya, yang sebenarnya tidak terlalu ingin memiliki anak.

Meskipun film ini merupakan film Turki, dengan plot yang maju mundur, namun temanya sangatlah bagus. Dan ada beberapa kesamaan cerita yang ditemukan di Indonesia. Misalnya pada film ini, keinginan mengambil anak datang dari suami, yang merasa “tidak menjadi laki laki atau jantan” apabila tidak memiliki anak.

Diawali dari drama sang isteri yang pura-pura hamil, sehingga memakai bantal di perutnya selama hampir 9 bulan untuk kesan hamil, dan ketika kehamilan pura-puranya tersebut diketahui oleh tetangganya, yang juga teman baiknya, maka si isteri dimusuhi nya. Kenapa hanya isteri? Karena ketika kepura-puraan tersebut di ungkap si suami sudah pergi meninggalkan isteri nya. Hal yang tidak pernah dimengerti si isteri.

Kemudian ketika si isteri ogah ogahan merawat anaknya karena merasa bukan anaknya sendiri, dan tidak terlalu ingin memiliki anak, si suami malahan mengancam akan meninggalkan si isteri, dan tindakan ini benar benar dilakukannya. Si isteri sempat mencari-cari suaminya tapi tidak ditemukan dimana mana sampai dengan enam tahun berlalu. Bahkan ketika si isteri bertanya kepada teman-teman suaminya, tidak ada satupun yang memperdulikannya, dan menganggap suami pergi karena salah isterinya.

Karena keengganan si isteri memiliki anak yang bukan dari rahimnya sendiri, maka dia pun jarang mengajak bermain, mengobrol dan melakukan kegiatan lain bersama sama dengan si anak. Kegiatannya selalu itu itu saja, pergi kerja setiap pagi, dan membawa anaknya ke taman untuk menunggu dia, anaknya dibiarkan bermain di taman, lalu dijemputnya kembali anaknya, dan memasak buat anaknya sebelum tidur. Itu yang dilakukannya terus-menerus.

Tidak pernah ada kehangatan dan keramahan khas seorang ibu pada anaknya. Anaknya tidak pernah dipeluk, disayang, dicium, ataupun digandeng tangannya. Sewaktu kecil ternyata si ibu pernah akan meninggalkan anaknya yang masih bayi di stasiun kereta, tapi kemudian diambilnya kembali dan dibawanya pulang.

Tidak banyak percakapan di film ini. CAN yang sudah berumur enam tahun tidak pernah disekolahkan atau bermain bersama teman temannya. Pada suatu hari CAN sempat menghilang dari taman tempatnya biasa menunggu dijemput ibunya. Si Ibu hanya diam, dan pulang ke rumah, baru setelah disadari CAN tidak ada, si Ibu melaporkan ke polisi.

Ternyata CAN dibawa seseorang ke polisi karena tidak dijemput-jemput oleh sang ibu, yang sudah datang ke taman, tapi CAN belum sampai di taman karena sedang bermain di dekat pelabuhan. Sebagai anak CAN juga sangat pendiam, dan tidak nakal. Dia selalu menuruti apa kata ibunya, tidak pernah bertanya apapun kepada ibunya. Suatu hari CAN mengikuti ibunya ke tempat kerja, di sebuah restoran, dan akhirnya menemani ibunya bekerja lalu pulang bersamanya, tanpa berkata apa-apa.   

Setelah enam tahun, CAN dan ibunya bertemu dengan bapaknya yang sudah menikah lagi, dan memiliki anak perempuan. Ketika melihat CAN, ada rasa bersalah didalam diri bapaknya, tapi bapaknya tidak ingin kembali dengan ibunya karena kehidupannya yang sekarang sudah nyaman, dan ibunya CAN juga sudah tidak ingin kembali dengan bapaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x