diyah wara
diyah wara Freelancer Writer

lulusan antropologi

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Wisata Sejarah ke Candi Brahu

14 Februari 2018   10:31 Diperbarui: 14 Februari 2018   10:38 301 0 0
Wisata Sejarah ke Candi Brahu
rebanas.com

Kawasan Jawa Timur memang terkenal sebagai kawasan dengan banyak situs candi. Kali ini, dalam udara yang cukup panas, saya mengunjungi bangunan Candi Brahu. Candi Brahu merupakan salah satu candi Buddha tersisa di Mojokerto, Jawa Timur. Meskipun tidak pernah ditemukan arca atau patung Buddha, serta benda-benda lain yang mencirikan ajaran Buddha disekitar candi, namun dari gaya bangunan yang berbentuk seperti stupa, seperti di Candi Borobudur, maka dapat dikatakan bahwa candi ini merupakan candi Buddha. 

Konon, candi ini digunakan sebagai tempat untuk membakar jenazah atau mayat, namun menurut para arkeolog, tidak pernah ditemukan sisa-sisa pembakaran atau benda-benda yang berkaitan dengan pembakaran jenazah ataupun upacara kematian. Karena itu keterangan ini masih diragukan kebenaranya. Hal yang pasti candi ini merupakan bangunan suci, tempat pemujaan bagi umat Buddha. Ketika candi ini ditemukan, sebuah ruangan kosong di tengahnya memang sudah ada, tanpa ada keterangan lebih lanjut yang ditemukan dari naskah-naskah kuno.

Brahu, berdasarkan sebuah catatan prasasti berasal dari kata Wanaru atau Warahu, yang merujuk pada sebuah bangunan suci dalam agama Buddha. Candi ini konon lebih tua dari candi-candi lain peninggalan kerajaan Majapahit. Candi ini diperkirakan dibangun pada 861 saka atau 939 Masehi atas perintah Raja Mpu Sendok dari Kahuripan.  

dokpri
dokpri

Terletak di Dukuh Jambu Mente,  Desa Beijiong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, candi ini menghadap barat, dengan luas bangunan paling bawah yang berbentuk segiempat yaitu 18 x 22,5 m, dengan tinggi mencapai 20 m. Di bagian barat, terdapat undakan untuk menuju ke atas, sayangnya undakan sudah tidak utuh, sehingga kita tidak bisa mencapai ruangan kosong di dalam candi. Menurut pemandu candi, di dalam candi akan ditemukan sebuah ruangan kosong yang cukup luas, tidak ada apapun didalamnya berukuran 4 x 4 m.

Disusun dari batu merah, candi ini tidak memliki kekayaan relief pada dindingnya, namun dengan bentuk candi yang melekuk-lekuk, dengan pola simetris, membuat bentuk candi terlihat unik sekaligus indah.

Pada tahun 1990 candi ini sempat dipugar, yang selesai pada tahun 1995. Saat ini candi ternyata tidak hanya dipakai oleh umat Buddha, melainkan juga oleh umat Hindu. Sehingga sering kita temukan sesaji berada di undakan di arah barat. Menurut pemandu, sebetulnya ada beberapa candi lain yang berada di sekitar candi Brahu, sayangnya tidak ada bekasnya lagi.

Untuk mencapai candi ini, kita lebih baik menggunakan kendaraan pribadi atau sewa karena jarak yang cukup jauh dari jalan raya, dan melewati sawah dan pemukiman masyarakat yang berada di sekitar kawasan bersejarah tersebut. Sedangkan untuk mengunjungi candi, biaya yang dikenakan hanya 5000 rupiah per orang. (Diyah Wara)