Mohon tunggu...
Usman Didi Khamdani
Usman Didi Khamdani Mohon Tunggu... Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Kompasianer Brebes | KBC-43

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Memaknai Kemenangan dalam Idul Fitri

24 Mei 2020   03:12 Diperbarui: 24 Mei 2020   06:08 43 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memaknai Kemenangan dalam Idul Fitri
eid mubarok | dokpri

Puasa Ramadhan, dengan segala rangkaiannya, merupakan sebuah ibadah yang unik, khusus. Ibadah batin kalau boleh saya sebut. Kenapa demikian?

Ada dua hal setidaknya yang membedakan puasa dari ibadah-ibadah lainnya. Pertama, jika ibadah-ibadah lainnya adalah sebuah bentuk pelaksanaan, sebuah perintah untuk melaksanaan sesuatu, maka ibadah puasa atau shaum adalah sebuah bentuk pencegahan, sebuah perintah untuk meninggalkan/tidak mengerjakan atau menahan diri terhadap sesuatu.

Kedua, berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, nyaris atau semua yang diwajibkan dalam puasa ramadhan berhubungan dengan hawa nafsu kita. Bahkan disebutkan bahwa iblis dan setan yang selama ini seringkali menggoda kita dalam beribadah, selama bulan Ramadhan mereka tidak diberikan kesempatan untuk itu. 

Artinya, pelaksanaan atau pengingkaran ibadah Ramadhan murni dari diri kita sendiri, dari hati kita sendiri. Berpuasa atau tidak itu adalah kehendak murni dari kita sendiri.

Selain dua hal tersebut, ibadah puasa sebagai ibadah sepanjang waktu (dari pagi sampai petang) tidak memberikan kita kesempatan untuk mengulanginya. 

Sekali kita melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, maka puasa kita akan menjadi batal dan tidak dapat diulang (baca: diteruskan) saat itu. Berbeda misalnya dengan shalat, saat kita melakukan hal yang membatalkan shalat, maka kita masih bisa mengulang shalat kita.


Pengendalian Hawa Nafsu


Puasa atau shaum, sebagaimana disebutkan di depan, merupakan sebuah kewajiban untuk tidak mengerjakan atau meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa.

Dalam kitab Safinatun Najah disebutkan bahwa puasa adalah , meninggalkan atau menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dalam keadaan sadar dan tidak ada paksaan serta bukan kelalaian yang disengaja.

Dari sini dapat dipahami pula bahwa kewajiban berpuasa adalah kewajiban yang bebas. Dalam arti puasa akan sah atau menjadi suatu kewajiban jika dijalankan dengan sepenuh kehendak kita. 

Karenanya puasa tidak diwajibkan kepada mereka yang belum baligh (cukup akal) ataupun mereka yang telah kehilangan akalnya (gila). Orang yang sehat pikirannya namun tiba-tiba menjadi gila (saat sedang berpuasa), maka puasanya menjadi batal.

Tidak ada paksaan dalam berpuasa. Karenanya seruan puasa pun Allah sampaikan bukan kepada semua orang. Seruan puasa hanya disampaikan kepada orang-orang yang telah beriman, sebagiamana Ia firmankan dalam Alquran 2:183.

Meski ibadah puasa bukanlah ibadah yang dipaksakan, namun di sinilah justeru yang memberatkan puasa itu bagi kita. Ketika sudah berbicara tentang kebebasan  kehendak, tentang kebebasan hawa nafsu, maka memang tidak ada yang bisa mengendalikannya, selain kita sendiri. Kehendak, hawa nafsu atau egoisme adalah musuh yang terberat yang kita miliki. 

Bagaimanapun, ketika dihadapkan kepada kebebasan berkehendak, manusia seringkali terlena dan tidak dapat mengendalikannya. Manusia cenderung terlarut dengan egoismenya.

Pelaksanaan kebebasan kehendak, mungkin bisa kita rasakan dari kegiatan work from home di masa pandemi sekarang ini. Bekerja di rumah dengan minimnya pengawasan, tidak seperti saat kita bekerja di kantor, membuat kita mau tidak mau harus bisa mendisiplinkan diri kita sendiri. Demikian halnya puasa.

Karenanya puasa pun merupakan ibadah yang sangat-sangat istimewa. Saking istimewanya, apreasiasi atau pahala yang diberikan oleh Allah kepada orang yang sedang berpuasa, sungguh besar nilainya. Bahkan di dalam bulan Ramadhan, Allah sediakan sebuah bonus berupa lailatul qadar yang nilai pahalanya bahkan setara dengan nilai pahala ibadah selama seribu bulan. 

Lailatul qadar adalah sebuah malam di mana ketika kita melakukan ibadah apapun di dalamnya, maka pahalanya akan dilipatgandakan sedemikian rupa. Sebagian ulama menyebutkan bahwa lailatul qadar berada pada periode sepuluh hari yang ketiga, meski ada pula yang menyatakan bahwa lailatul qadar bisa berada pada malam kapanpun selama bulan Ramadhan. 

Artinya memang, bahwa lailatul qadar adalah sebuah bonus. Dan bonus hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar menjalankan perintah, dalam hal ini berpuasa. Bonus sifatnya diberikan karena prestasi, bukan diminta atau dicari-cari.

Tidak hanya itu. Puasa pun merupakan satu-satunya ibadah yang hanya Allah sendirilah yang tahu hakikatnya. Sebagaiman Ia sampaikan dalam sebuah hadits qudsi, , "Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa hanyalah untuk-Ku dan Aku sendirilah yang akan langsung memberikan ganjarannya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x