Mohon tunggu...
Usman Didi Khamdani
Usman Didi Khamdani Mohon Tunggu... Programmer - Menulislah dengan benar. Namun jika tulisan kita adalah hoaks belaka, lebih baik jangan menulis

Kompasianer Brebes | KBC-43

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Menulis Puisi dalam Bahasa Ibu

16 Mei 2020   01:04 Diperbarui: 16 Mei 2020   01:36 312
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
salah satu antologi puisi berbahasa ibu | dokpri

Bahasa ibu sebagai native language merupakan bahasa yang pertama kali kita kenal dan kita akrabi untuk waktu sekian lama. Bahasa yang kita pergunakan sejak awal kita mengenal bahasa, untuk berkomunikasi dengan ibu kita, dengan keluarga dan masyarakat di sekitar kita.

Meski kita kemudian telah berpindah tempat dan menggunakan bahasa yang lain, bahasa ibu atau bahasa daerah kita, akan sangat sulit kita lupakan karena biasanya ia akan terus mendarahdaging. Tidak jarang kita pun berusaha mengenalkan dan mewariskannya kepada anak-anak kita, yang lahir dan tumbuh dalam bahasa yang berbeda.

Demikian halnya dalam menulis sastra atau puisi. Sebagai sebuah bentuk komunikasi, tidak jarang penyair pun menuliskan puisinya dengan menggunakan bahasa ibu, menggunakan bahasa daerah asalnya. Puisi yang saya maksud di sini tentu adalah puisi kontemporer, puisi yang kekinian. Sebab, jika kita bicara soal puisi tradisional atau sastra tradional, hampir tiap daerah telah mempunyai ragamnya sendiri-sendiri. 

Seperti Aceh misalnya yang mempunyai mantera dan hadih maja [1], Minang atau Sumatera Barat yang mempunyai talibun dan pepatah-petitih [2], Sunda atau Jawa Barat yang mempunyai mantra dan sawer [3], Sulawesi Selatan yang bahkan tiap daerahnya mempunyai ragamnya sendiri [4] atau Jawa yang terkenal juga dengan berbagai ragam puisi atau sastra tradisionalnya seperti kakawin dan tembang [5].

Bermacam alasan penyair menuliskan puisinya dalam bahasa ibu. Ada yang hanya untuk sekedar klangenan atau bernostalgia, ada yang memang menganggap menulis puisi dalam bahasa ibu sama halnya juga dengan menulis puisi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, berpuisi dengan menggunakan bahasa ibu tidak berbeda halnya dengan mencoba mengajak orang lain ngobrol menggunakan bahasa ibu. Ada juga yang melakukannya untuk mengenalkan puisi, membaurkan puisi ke dalam bahasa ibu, ada juga yang melakukannya sebagai bentuk penghormaan terhadap bahasa ibu.

Apapun alasannya, menulis puisi dalam bahasa ibu memang sudah bukan hal yang asing lagi saat ini. Di Kompasiana ini, sering juga kita dapati puisi yang ditulis menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah.

Gampang-gampang Susah

Namun demikian, meski bahasa ibu begitu luwes untuk kita gunakan dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama secara verbal, menulis puisi dalam bahasa ibu ternyata gampang-gampang susah. Faktor kulina atau keterbiasaan menggunakan bahasa Indonesia dalam menulis puisi, seringkali membuat kita terjebak dalam menulis puisi menggunakan bahasa ibu. Puisi-puisi yang kita tulis seringkali masih belepotan, bercampuran dengan bahasa Indonesia.

Namun hal ini secara alami akan dapat normal dengan sendirinya seiring kita terus giat menulis puisi dalam bahasa ibu. Seperti saat kita baru pertama kali pindah ke suatu tempat yang menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sebelumnya, tentu kita akan mengalami kecanggungan dalam berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Namun, lambat laun, bahkan dalam bermimpi pun kita akhirnya menggunakan bahasa baru tersebut.

Seperti pisau, kemampuan menulis puisi, dalam hal ini menulisnya dengan menggunakan bahasa ibu, akan semakin tajam seiring kita terus mengasahnya.

Pemberontakan

Dari sekian alasan penyair menulis puisi atau sastra dalam bahasa ibu, pemberontakan merupakan alasan yang cukup menarik. Pemberontakan atas marginalitas sastra daerah, sastra berbahasa ibu. Semangat ini setidaknya diusung oleh penyair-penyair Tegal yang memang gemar berpuisi dalam bahasa ibu. Secara serius bahkan mereka menerbitkan antologi-antologi puisi berbahasa Tegalan (bahasa jawa dalam dialek ngapak utara). Terakhir, bahkan muncul genre puisi kur 267 yang mengadaptasi puisi tradisional Jepang, haiku [6], sebagai puisi berpola suku kata 2, 6 dan 7 yang ditulis dalam bahasa ngapak Tegalan (silahkan klik tautan tentang kur 267 di bawah untuk mengetahuinya lebih lanjut).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun